Sunday, 1 September 2019

MY SPIRITUAL JOURNEY (Part 2) - Menata Hidup di Kediri

Assalamualaikum, apa kabar teman-teman?
Semoga kita semua selalu terjaga dalam kebaikan dan lindungan Allah :)

Cerita ini merupakan kelanjutan dari cerita sebelumnya yang bisa teman-teman baca di sini

Di part 2 ini saya bercerita tentang keputusan saya untuk pulang ke Kediri. Kemudian setelah kepulangan itu, Allah izinkan saya menjadi bagian dari Gontor. Pun Allah kirimkan seorang Gontorian untuk menemani saya di fase ini. Sepertinya Allah mengirimkan Beliau untuk melanjutkan tugas kakak. Iya, tugas kakak untuk mengenalkan gontor ke saya sudah selesai (Red: lost contact)

Dua hal itulah yang menjadi highlight pada fase ini, yang kemudian mendorong saya untuk memperbaiki diri menjadi Ima yang lebih syari.



Pada tahun 2013 saya melanjukan kuliah di salah satu universitas di Depok dan lulus pada tahun 2017. Menjelang masa kelulusan, hati saya seperti sudah tertinggal di Kediri. Seringkali saya nekat menempuh perjalanan belasan jam hanya untuk menikmati 2 malam di rumah. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk benar-benar meninggalkan Jabodetabek tepat sehari setelah wisuda. 

Sampai detik ini saya masih meyakini ini adalah keputusan terbesar yang saya ambil seumur 24 tahun. Pulang ke Kediri berarti saya harus siap berkompromi dengan segala ambisi dan siap memulai segala sesuatu sendiri. Banyak yang bertanya kenapa saya memutuskan pulang secepat ini. Tapi itu sama sekali tidak membuat saya memikirkan keputusan saya lagi.

Saat itu saya tidak bisa bertahan di Jakarta, ada "harga" mahal yang harus saya bayar jika memaksa terus bertahan. Saya tidak menemukan apa yang saya cari di sana. Di lain sisi, jauh sebelum ini, Allah mengirimkan seorang lelaki yang baik (menurut saya), baik dari segi agamanya maupun yang lain. Kesempatan tidak datang dua kali, saya memutuskan berhenti mencari. Perlahan-lahan muncul sebuah keyakinan untuk menjadikannya bagian dari masa depan. Siapakah dia? sebut saja Ustadz. 

Pada awal kepulangan saya, belum ada perubahan apapun. Sama sekali tidak ada yang berbeda dengan diri saya, kecuali sekarang sudah tidak di Jakarta. Semua mulai berbeda ketika saya mengantar adik saya untuk ke Gontor. Iya, Allah kabulkan doa saya 7 tahun lalu lewat adik saya. Dia yang akhirnya masuk Gontor, bukan saya. 

Saya di sana menemani dia mulai dari ngurus pendataran, ujian sampai akhirnya pengumuma. 10 hari tinggal di lingkungan pondok, bertemu dengan banyak orang dari berbagai daerah dan latar belakang. Ketika di sana, saya masih pakai kerudung paris dan bercelana kulot. Sampai adik saya bilang, "Kak, jangan pakai celana dong, kan mau masuk lingkungan Pondok".

Adik saya ini adalah orang pertama di keluarga kami yang masuk pesantren. Jadi bukan hanya dia yang serba meraba-raba, kamipun sekeluarganya hactic luar biasa saking gak taunya. 

Di sinilah Allah itu memang sudah merencakan sesuatu dengan sangat sempurna. ustadz saat itu masih tercatat sebagai mahasiswa pengabdian di Gontor Pusat. Sebagai orang terdekat saya, sedikit banyak diapun punya peran, setidaknya untuk memberi sedikit pencerahan. 

Singkat cerita, alhamdulillah adik saya lulus ujian masuk Gontor dan penempatan kampus 2. 

Pulang dari Gontor, perlahan-lahan hati saya mulai terbuka untuk memperbaiki diri. Saya berusaha untuk memantaskan diri lahir batin. Secara lahiriyah, saya mulai menggantikan jeans dengan kulot, hingga akhirnya benar-benar pakai gamis dan hijab syari kemana-mana.

Saya masih ingat sekali gamis pertama yang saya beli di ITC Depok. Sekitar bulan Agustus 2017 saya ada keperluan ke kampus, lalu saya mampir ITC Depok untuk membeli kulot bahan black out. Pencarian tak kunjung menghasilkan padahal saya udah menyusuri setiap bagian. Sampai akhirnya saya malah menemukan set gamis syari lengkap dengan jilbab syari yang dibandrol dengan harga cukup murah. Ya sudah sayapun memutuskan untuk beli 2 set gamis syari.

 Lalu secara batiniyah, saya mulai banyak belajar lagi ilmu agama. Khususnya yang berkaitan dengan kehidupan pernikahan, seperti menambah bacaan tentang ilmu parenting, ikut kajian pranikah, dll. 

Perilaku dan tutur kata saya juga jadi berbeda. Saya sangat jarang ngopi, malu aja masak udah pake hijab syari masih kluyuran. Postingan saya selalu bernuansa islami, bahkan kalau ada teman yang curhat akhirnya saya ceritain Nabi-nabi. 

Misal, ada temen nih yang cerita kalau dia naksir cowok tapi cowoknya cuek. Jawaban saya saat itu adalah, "bawa ke doa aja. Allah mampu membelah lautan untuk Musa, masa iya Allah gak bisa gerakkan hatinya satu orang untuk kamu."

Pokoknya super sekali, sampai Ibu saya takut kalau saya sudah kena cuci otak aliran radikal. Tapi ya tentu saja tidak, ini semua semata-mata karena saya ingin memperbaiki diri. 

Di samping menyesuaikan diri karena kami sudah mejadi keluarga Gontorian. Kehadiran Ustadzpun sangat memotivasi, karena saya jadi tidak merasa asing dan "sendiri". Dia tidak pernah menuntut apapun kepada saya, sebaliknya justru dia selalu mengapresiasi perubahan yang saya lakukan. Seneng aja ketika misalnya saya kasih lihat foto pertama saya bergamis dan dia bilang "kamu keren". Sesimpel itu, tapi itu sangat bermakna buat saya. Berubah itu mudah, istiqomah yang susah. Godaannya banyak sekali, tapi tentu Allah sudah tau iman saya masih lemah. Jadi Allah kirim dia untuk menguatkan, bahkan kadang hal-hal semacam itu muncul karena saya melihat statusnya yang berisi nasehat agama, amalan harian, kalam Allah, Hadits, dll. Semua itu sedikit banyak tentu memberikan insight dan mempengaruhi saya. 

Pada fase ini, saya seperti menjadi Ima yang benar-benar baru. Saya harus berjuang keras melawan diri saya sendiri, belajar merubah apapun yang dulu saya lazimi. Efeknya tentu saja saya sering konflik batin karena beberapa hal yang prinsipil sekali. 

Salah satu contohnya terjadi sekitar bulan September 2017, ketika saya mendapat panggilan dari bank BNI Syariah. Saat itu saya baru memperlajari masalah riba, inilah yang membuat saya sempat ragu. Setelah beberapa hari berusaha mencari lebih dalam, berbekal pengetahuan yang sangat terbatas, saya menyimpulkan bahwa bank syariah masih bisa dijadikan opsi. 

Akhirnya saya memilih menghadiri undangan rekrutmen tersebut ke Jogja. Tiba hari H, saya mengalami konflik batin selanjutnya karena dilema harus mengenakan pakaian seperti apa. Biasanya saya selalu memakai gamis dan khimar panjang, jelas saya tidak mungkin memakai itu pada acara ini. Sebagaimana rekrutmen lain, biasanya akan dianjurkan untuk memakai office look. Terlebih lagi ini adalah perbankan, dimana penampilan itu seringkali menjadi penilaian. 

Setelah lama mix and match di penginapan, sayapun memutuskan menggunakan kulot warna gelap, blazer dan kerudung segi 4 berbahan satin yang menutup dada. Menariknya, ada kejadian yang terjadi di luar logika saya pada rekrutmen ini. Sempat merenung sebentar, apakah ini suatu pertanda dari Allah? Akhirnya saya putuskan ini adalah rekrutmen perbankan pertama dan terakhir yang pernah saya ikuti. 

Saya terus memperbaiki diri sampai akhirnya tahunpun berganti. 2018, tahun dimana menjadi deadline yang saya berikan untuk ustadz memperjalas segalanya yang perlu diperjelas. 

Sampai bertemu di part 3, klik di sini :)




Share:

Wednesday, 28 August 2019

MY SPIRITUAL JOURNEY (Part 1) - Gontor dan Dia

Assalamualaikum, apa kabar teman-teman?
Semoga kita semua selalu terjaga dalam kebaikan dan lindungan Allah :)

Saya menandai awal perjalanan saya di tahun 2009. Sebab pada saat itu saya sudah mulai beranjak dewasa, mulai berpikir sendiri atas sebuah pilihan dan konsekuensi.

Ramadhan 2009, sekolah kami SMPN 1 Grogol mengadakan kerja sama dengan Pondok Modern Darussalam Gontor. Sehingga kegiatan pondok ramadhan yang lazimnya diisi guru, maka tahun ini akan diisi oleh Ustadz dan Santri Gontor konsulat Kediri.

Pada saat itu kami sudah duduk di kelas 9, sebagai senior tentu saja kami lebih superior dibanding dedek-dedek gemash. Saya ingat banget guru bahasa inggris kami sampai berpesan, "Mereka masih seumuran kalian, jangan macem-macem ya." Ternyata kekhawatiran guru kami benar, kedatangan mereka membawa cerita di hidup kami, terutama hidup saya.

Memang kegiatan itu tidak lama, hanya 10 hari dan itupun ngajarnya berganti-ganti. Selain mengajar, mereka juga mengadakan penutupan berupa pentas seni. Di acara itu mereka mengajak serta sebagian dari kami untuk berpartisipasi. Saya dan satu orang adik kelas mengajukan diri untuk ikut dalam proyek musikalisasi puisi. Penanggung jawab puisi itu adalah seorang santri gontor kelas 5 (setara 2 SMA) yang kemudian saya panggil kakak.

Ke esokan harinya kami dikumpulkan lagi dan kakak bilang, "Puisi ini akan dibaca dua orang, saya dan satu orang lagi. Biar tingginya sama, jadi Ima saja ya."

Singkat cerita, kami terus bertemu setiap hari karena harus latihan bersama. Ya cerita terus berlanjut sampai akhirnya acara itu selesai. Sebagai orang yang tidak pernah merasakan menjadi seorang santri, cerita kehidupan di pesantren yang ia ceritakan begitu menarik hati saya.

Sampai suatu ketika saya bilang, "Kak aku pengen masuk Gontor aja habis ini". Kemudian saya diberikan saran tentang apa saja yang harus saya persiapkan buat masuk gontor. Waktu berjalan, saya dan dia lost contact karena di Pondok tidak boleh pegang HP.

Ternyata Allah berkehendak lain, saya tidak jadi mondok di Gontor dan melanjutkan di Smada Kediri. Apakah kemudian saya lupa dengan Gontor dan dia? tentu saja tidak. Dia masih menghubungi saya ketika liburan, meskipun kami tidak pernah bertemu lagi. Sementara Gontor juga tidak lenyap begitu saja, segala sesuatu tentang Gontor masih sangat menarik hati. Pun, saya memposisikan diri saya sebagai calon santri. Jadi meskipun Allah belum mengizinkan saya belajar di Gontor, tapi saya berazzam untuk tetap belajar agama.


Sampai bertemu di part 2, klik di sini :)
Share:

Tuesday, 27 August 2019

MY SPIRITUAL JOURNEY

Assalamualaikum, apa kabar teman-teman?
Semoga kita semua selalu terjaga dalam kebaikan dan lindungan Allah :)

Sebenarnya saya pengen nulis ini sejak lama, semenjak saya menyadari bahwa semua yang terjadi dalam hidup saya saling berkaitan satu sama lain. Ini layaknya sebuah puzzle, potongan demi potongan peristiwa kehidupan yang membawa saya dalam sebuah rencana besar Allah.

My Spiritual Journey bercerita tentang pengalaman spiritual saya pribadi. Spiritual yang saya maksud adalah hubungan dengan Allah, bukan spiritual ilmu kebatinan. Semua bermula ketika saya bertemu dengan seorang santri dari sebuah pondok pesantren. Kejadian itu yang kemudian banyak mempengaruhi keputusan-keputusan dalam hidup saya. Cerita ini akan menjadi cerita yang lumayan panjang, karena plot waktunya pun juga sangat panjang.

Memang tidak semua peristiwa ini terasa indah, tapi pasti mengandung hikmah. Sebaik-baik perencana adalah Allah, ikuti saja alurnya. Bismillah :)



Share:

Thursday, 25 July 2019

Berdamai dengan patah hati


Halo, kamu apa kabar? semoga kabar baik selalu ku dengar darimu :)

Tulisan ini adalah hadiah, untuk kamu yang merasa hatinya sedang patah. Sekian lama aku menahan diri untuk berkisah. Tapi sekarang ku pikir menulisnya sebagai hadiah juga gak masalah. Layaknya sebuah hadiah, semoga tulisan ini bisa membuat harimu sedikit lebih cerah.

Tidak mengapa jika hari ini pipimu masih basah, menangis tidak berarti kamu lemah. Memang tidak mudah, ketika semua yang seolah sudah di depan mata lalu musnah. Setelah perjalanan dan perjuangan panjang yang indah, tiba-tiba ceritanya berubah. Aku mengerti, berada di posisimu saat ini benar-benar tidak mudah. Hati penuh gundah, pikiran terpecah, bahkan mungkin ragamu ikut melemah. Kecewa tapi tidak bisa marah, ingin lari tapi tidak tau arah. Pada titik ini, izinkan aku berbisik "Waktu tidak pernah berhenti untuk menunggumu siap berdiri lagi dengan gagah"

Meskipun mungkin cerita setiap orang berbeda, tapi perihal kehilangan sakitnya akan tetap sama. Melepas apa yang kita jaga, menerima yang tidak kita percaya, lalu berhenti bertanya tanpa tau jawabnya. Awalnya akupun tak habis pikir dibuatnya, bagaimana mungkin sekian tahun yang kita lalui bersama seolah tidak ada artinya. Tapi semua pertanyaan semacam itu urung aku tanya, sebab jawabnya tidak akan mengubah lara menjadi suka. Percayalah, berhenti bertanya adalah salah satu cara untuk tidak terperosok lebih dalam di kubangan luka.



Detik ini, yang berakhir adalah kisahmu dengan dia, bukan hidupmu. Tuhan mengujimu dengan hebat sebab Dia tau kamu kuat. Yang tumpul masih bisa diasah, yang rusak masih bisa dibenah, pun yang berantakan masih bisa jadi indah. Yang hilang hanya dia, sisanya masih tetap sama. Ini ibarat tanda koma, kamu masih bisa melanjutkan ceritanya. Sekarang, kendali ada di tanganmu sepenuhnya.

Kalau dia memilih pergi, kamu tidak perlu berkecil hati. Apalagi sampai menganggap rendah dirimu sendiri. Percayalah bahwa kamu dilahirkan sempurna, dengan segala kelebihan dan kelemahan yang kamu miliki. Tenang saja kita tidak sendiri, banyak orang di dunia ini yang juga mengalami. Bahkan rasanya mereka juga terlalu sempurna untuk disakiti. Jadi ku rasa ini bukan tentang siapa lebih baik, mungkin dua-duanya baik, tapi hanya perihal lebih tepat saja. Terlepas dari apapun alasannya, bagiku yang lebih penting adalah caranya menyikapi. Lalu apa yang mereka lalukan setelah patah hati? ada yang menyerah dan memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Tapi ada juga orang-orang yang cukup bijaksana belajar dari suatu peristiwa, menjadikan patah hati sebagai motivasi, mengubah air mata menjadi tenaga, hingga akhirnya ini menjadi titip balik atas lahirnya karya yang menginspirasi.

Bung Fiersa Besari, yang karya-karyanya selalu dekat di hati, dulu juga berjuang melewati fase ini. Pada kondisi itu, dia memilih melangkah untuk memulai perjalanan mengelilingi negeri ini. Buah perjalanan itulah yang kemudian melahirkan karya-karya istimewa. Bang Dzawin juga sama, di balik materi stand up-nya yang renyah, hatinya juga pernah patah. Mirip seperti Bung Fiersa, Bang Dzawin memutuskan untuk mengunjungi tempat-tempat baru untuk singgah. Menarik, dia mengajak kita ke tempat yang benar-benar asing lewat video yang di unggah. Lalu bang Wira Nagara dengan puisinya yang selalu menusuk jiwa, sebab dia tau betul bagaimana rasanya ditinggal menikah.

Aku tentu tidak menyuruhmu mengelilingi Indonesia seperti Bang Dzawin dan bung Fiersa, akupun tidak melakukannya dan belum mampu berkarya seperti mereka. Memang aku belum jadi contoh yang sempurna, tapi aku ingin mengajakmu bergerak bersama menjemput bahagia dengan cara yang sederhana. Sekarang adalah waktunya untuk bisa menjadi diri sendiri seutuhnya. Menjadi seperti apa yang kamu suka, bukan yang dia minta. Mewujudkan asamu, bukan asanya.

Kamu sudah tidak perlu lagi banyak berkompromi, bahkan untuk sekadar bahagia. Kamu tidak lagi terpaku "harus menjadi seperti apa", hanya karena takut tidak dicinta. Jika dulu hidup kita terlalu fokus padanya, sampai mungkin tidak peka dengan sekililing kita. Kehilangan menuntun kita bisa lebih terbuka, melepas jerat "harus menjaga". Kamu bisa bertemu dengan siapapun di luar sana, kamu boleh pergi semampu yang kamu bisa. Lanjutkan hidupmu sebaik-baiknya, lalu cobalah berkarya dengan apa yang kamu punya. Kadang bahagia itu sederhana, sesederhana tau tulisanmu ada yang membaca atau bahkan sekadar datangmu disambut senyum ceria. Terkadang, suatu hal sederhana bisa sangat bermakna.



Setiap peristiwa mengajarkan hal berbeda, selama kita mau membuka mata. Nampaknya sederhana, tapi percayalah proses ini yang akan menjadikanmu berbeda. Terlebih jika kamu cukup bijaksana, aku percaya kamu akan bertumbuh menjadi orang yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Aku sepakat dengan Bung Fiersa, kita tidak perlu lupa, hanya perlu melihat dari sudut pandang berbeda.

Selamat menikmati prosesmu ya, nanti kita ketemu lagi di part dua. Aku mau cerita tentang apa yang ku dapati di perjalanan berikutnya :)



Share:

Thursday, 11 July 2019

Pendaftaran santri baru Gontor (Pengalaman pribadi) - Part 6 (terakhir)

Assalamualaikum

Alhamdulillah, Alhamdulillahi hamdan katsiran tayyiban mubarakan fiih. Setelah waktu yang sangat panjang, hampir setahun akhirnya saya memutuskan untuk mengakhiri cerita ini di part 6. InsyaAllah saya sangat terbuka untuk teman-teman, jika masih ada informasi yang belum tersampaikan silakan sampaikan di kolom komentar atau kirim email ke saya nhimayah@gmail.com. Pada part ini saya akan membahas mengenai tempat tinggal di saat mendampingi tes ujian masuk Gontor. Bagi teman-teman yang belum membaca part sebelumnya, bisa klik link berikut:

PART 1 - Kelengkapan, Waktu dan Biaya Pendaftaran

PART 2 - Proses Pendaftaran

PART 3 - Ujian masuk Gontor

PART 4 - Pengumuman kelulusan santri baru

PART 5 - Alternatif jika belum bisa belajar di Gontor

Bismillahirrahmanirrahim, sebagaimana saya sebutkan di part sebelumnya bahwa proses penerimaan santri baru di Gontor itu cukup panjang. Terlebih lagi bagi calon pelajarnya, begitu mendaftar langsung sudah dapat asrama sementara (sampai pengumuman kelulusan). Sehingga bagi calon wali santri, terutama yang luar kota, kemungkinan besar jelas menginap. Kemarin saya bertemu dengan capel dari Bali, masyaAllah ibu dan adiknya menunggu disana dari hari pertama pendaftaran dibuka. Bagi yang belum kenal Gontor, mungkin akan bingung kira-kira harus menginap dimana selama itu?

Bukan hanya anaknya yang harus persiapan tes ujian masuk Gontor, tapi sebenarnya persiapan Bapak/Ibunya juga gak kalah jauhnya. Seperti misalnya persiapan materi, fisik, mental dan kebutuhan ini itu yang lumayan banyak. Persiapan materi sebenarnya angkanya sangat relatif, tapi yang jelas anggaran itu untuk bayar uang pendaftaran, beli kebutuhan anak dan biaya hidup pendamping selama menemani di Gontor (Sewa tempat tinggal, beli makan, kebutuhan dadakan, dll). Persiapan fisik juga perlu karena jelas wira wiri butuh kondisi badan yang fit. Kemudian mental juga perlu, beberapa kali saya lihat anaknya biasanya aja udah ketawa-ketawa malah mamanya masih sering menitikan air mata melihat anaknya. Tapi insyaAllah semua bisa diatasi, niat baik pasti Allah mudahkan. Saya pengennya cerita juga masalah itu semua, namun sepertinya akan sangat panjang. Jadi mohon maaf kesempatan ini izinkan saya fokus berbagi tentang penginapan.

Sebenarnya banyak opsi untuk penginapan, hanya saja karena posisinya sangat ramai ketika pendaftaran jadi ya serba penuh semuanya. Saya jelaskan satu persatu mulai dari yang berbayar hingga yang gratis, semoga membantu :)


Di Dalam Pondok

1. WISMA DARUSSALAM

Wisma darussalam terletak satu lokasi dengan Gontor Putri, lebih tepatnya ada di depan sisi timur dekat dengan masjid luar. Sayangnya saya tidak menemukan foto yang memadai, nanti kalau ketemu insyaAllah saya tambahkan ya. Setahu saya fasilitasnya ada kamar mandi dalam dan tv. Sedangkan untuk biayanya sekitar RP 120.000 - RP 130.000 per malam (harga tahun 2017). Pada waktu itu, penyewaan kamar hanya bisa dilakukan secara langsung di kantor administrasi wisma. Tidak melayani online ataupun booking, jadi sistemnya siapa depat dia dapat. Saat penerimaan santri waktu itu, wisma ini sudah penuh bahkan sampai waiting list.

2. GAZEBO

Begitu menginjakkan kaki di Gontor Putri 1, temen-temen akan langsung melihat banyak gazebo di halaman. Nah, ini adalah salah satu opsi tempat tinggal sementara yang bisa kita tempati. Pengelola gazebo sama dengan pengelola wisma, jadi kalau mau sewa juga ke administrasi wisma. Harganya dulu RP 30.000 permalam. Fasilitasnya gembok dan penerangan, selebihnya teman-teman harus bawa sendiri karena gazebo ini kosongan. Sama dengan wisma, gazebo ini penuh di masa-masa pendaftaran santri baru. BTW, kalau berniat menginap di gazebo sebaiknya membawa selimut dan lotion anti nyamuk.

3. BAPENTA

Bapenta adalah balai penerimaan tamu, ini semacam ruangan besar untuk bersama-sama. Tersedia ruangan terpisah untuk tamu laki-laki dan perempuan. Ketika ada acara, bapenta ini selalu penuh. Bahkan dulu aula belakang juga dijadikan tempat istirahat sementara. Siapapun boleh menggunakan bapenta, tanpa harus registrasi dan mengeluarkan biaya.

4. Back To Nature

Ada satu hal menarik yang saya jumpai di Gontor, banyak tenda-tenda berjajar di halaman. Selain yang sudah saya sebutkan tadi, opsi ini juga banyak peminatnya. Ada yang sengaja membawa tenda, peralatan masak, dll dari rumah. Tapi banyak juga yang tidur begitu saja beralaskan tikar dan beratap langit. Sama sekali bukan hal aneh, ketika melihat orang tidur di parkiran, di bawah pohon, di lorong, dll.


LUAR PONDOK

1. HOTEL

Lokasi Gontor putri 1 dan 2 ini memang lumayan jauh dari kota, tapi ada hotel di sebelah barat Gontor. Jaraknya juga lumayan dekat, sayangnya saya hanya lewat, jadi tidak bisa memberikan informasi lebih lanjut mengenai rate dan fasilitasnya.

2. Rumah Warga

Opsi ini juga lumayan banyak diminati, karena biayanya terjangkau dan jaraknya relatif dekat. Jadi rumah-rumah warga yang di depan pondok itu, sering berubah menjadi penginapan dadakan. Sepanjang jalan utama dari alfamart sampai gontor putri 2, itu banyak sekali penginapan rumah warga. Selayaknya penginapan, sistemnya menyewa satu kamar dengan biaya sekitar RP 50.000 per malam.

Sekian informasi yang bisa saya bagi, nanti kalau ada yang perlu ditambahi saya update lagi ya. Terima kasih untuk semua yang sudah membaca part 1-6. Semoga cerita yang banyak kurangnya ini bisa bermanfaat dan membantu.

Bila ada yang kurang jelas atau pertanyaan lebih lanjut, silakan hubungi saya melalui email atau media sosial saya yang tercantum di profil. Terima Kasih, semoga kebaikan, kesuksesan dan keberkahan selalu menyertai kita semua :)

Wassalamualaikum

Share: