Thursday, 25 July 2019

Berdamai dengan patah hati


Halo, kamu apa kabar? semoga kabar baik selalu ku dengar darimu :)

Tulisan ini adalah hadiah, untuk kamu yang merasa hatinya sedang patah. Sekian lama aku menahan diri untuk berkisah. Tapi sekarang ku pikir menulisnya sebagai hadiah juga gak masalah. Layaknya sebuah hadiah, semoga tulisan ini bisa membuat harimu sedikit lebih cerah.

Tidak mengapa jika hari ini pipimu masih basah, menangis tidak berarti kamu lemah. Memang tidak mudah, ketika semua yang seolah sudah di depan mata lalu musnah. Setelah perjalanan dan perjuangan panjang yang indah, tiba-tiba ceritanya berubah. Aku mengerti, berada di posisimu saat ini benar-benar tidak mudah. Hati penuh gundah, pikiran terpecah, bahkan mungkin ragamu ikut melemah. Kecewa tapi tidak bisa marah, ingin lari tapi tidak tau arah. Pada titik ini, izinkan aku berbisik "Waktu tidak pernah berhenti untuk menunggumu siap berdiri lagi dengan gagah"

Meskipun mungkin cerita setiap orang berbeda, tapi perihal kehilangan sakitnya akan tetap sama. Melepas apa yang kita jaga, menerima yang tidak kita percaya, lalu berhenti bertanya tanpa tau jawabnya. Awalnya akupun tak habis pikir dibuatnya, bagaimana mungkin sekian tahun yang kita lalui bersama seolah tidak ada artinya. Tapi semua pertanyaan semacam itu urung aku tanya, sebab jawabnya tidak akan mengubah lara menjadi suka. Percayalah, berhenti bertanya adalah salah satu cara untuk tidak terperosok lebih dalam di kubangan luka.



Detik ini, yang berakhir adalah kisahmu dengan dia, bukan hidupmu. Tuhan mengujimu dengan hebat sebab Dia tau kamu kuat. Yang tumpul masih bisa diasah, yang rusak masih bisa dibenah, pun yang berantakan masih bisa jadi indah. Yang hilang hanya dia, sisanya masih tetap sama. Ini ibarat tanda koma, kamu masih bisa melanjutkan ceritanya. Sekarang, kendali ada di tanganmu sepenuhnya.

Kalau dia memilih pergi, kamu tidak perlu berkecil hati. Apalagi sampai menganggap rendah dirimu sendiri. Percayalah bahwa kamu dilahirkan sempurna, dengan segala kelebihan dan kelemahan yang kamu miliki. Tenang saja kita tidak sendiri, banyak orang di dunia ini yang juga mengalami. Bahkan rasanya mereka juga terlalu sempurna untuk disakiti. Jadi ku rasa ini bukan tentang siapa lebih baik, mungkin dua-duanya baik, tapi hanya perihal lebih tepat saja. Terlepas dari apapun alasannya, bagiku yang lebih penting adalah caranya menyikapi. Lalu apa yang mereka lalukan setelah patah hati? ada yang menyerah dan memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Tapi ada juga orang-orang yang cukup bijaksana belajar dari suatu peristiwa, menjadikan patah hati sebagai motivasi, mengubah air mata menjadi tenaga, hingga akhirnya ini menjadi titip balik atas lahirnya karya yang menginspirasi.

Bung Fiersa Besari, yang karya-karyanya selalu dekat di hati, dulu juga berjuang melewati fase ini. Pada kondisi itu, dia memilih melangkah untuk memulai perjalanan mengelilingi negeri ini. Buah perjalanan itulah yang kemudian melahirkan karya-karya istimewa. Bang Dzawin juga sama, di balik materi stand up-nya yang renyah, hatinya juga pernah patah. Mirip seperti Bung Fiersa, Bang Dzawin memutuskan untuk mengunjungi tempat-tempat baru untuk singgah. Menarik, dia mengajak kita ke tempat yang benar-benar asing lewat video yang di unggah. Lalu bang Wira Nagara dengan puisinya yang selalu menusuk jiwa, sebab dia tau betul bagaimana rasanya ditinggal menikah.

Aku tentu tidak menyuruhmu mengelilingi Indonesia seperti Bang Dzawin dan bung Fiersa, akupun tidak melakukannya dan belum mampu berkarya seperti mereka. Memang aku belum jadi contoh yang sempurna, tapi aku ingin mengajakmu bergerak bersama menjemput bahagia dengan cara yang sederhana. Sekarang adalah waktunya untuk bisa menjadi diri sendiri seutuhnya. Menjadi seperti apa yang kamu suka, bukan yang dia minta. Mewujudkan asamu, bukan asanya.

Kamu sudah tidak perlu lagi banyak berkompromi, bahkan untuk sekadar bahagia. Kamu tidak lagi terpaku "harus menjadi seperti apa", hanya karena takut tidak dicinta. Jika dulu hidup kita terlalu fokus padanya, sampai mungkin tidak peka dengan sekililing kita. Kehilangan menuntun kita bisa lebih terbuka, melepas jerat "harus menjaga". Kamu bisa bertemu dengan siapapun di luar sana, kamu boleh pergi semampu yang kamu bisa. Lanjutkan hidupmu sebaik-baiknya, lalu cobalah berkarya dengan apa yang kamu punya. Kadang bahagia itu sederhana, sesederhana tau tulisanmu ada yang membaca atau bahkan sekadar datangmu disambut senyum ceria. Terkadang, suatu hal sederhana bisa sangat bermakna.



Setiap peristiwa mengajarkan hal berbeda, selama kita mau membuka mata. Nampaknya sederhana, tapi percayalah proses ini yang akan menjadikanmu berbeda. Terlebih jika kamu cukup bijaksana, aku percaya kamu akan bertumbuh menjadi orang yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Aku sepakat dengan Bung Fiersa, kita tidak perlu lupa, hanya perlu melihat dari sudut pandang berbeda.

Selamat menikmati prosesmu ya, nanti kita ketemu lagi di part dua. Aku mau cerita tentang apa yang ku dapati di perjalanan berikutnya :)



Share:

Thursday, 11 July 2019

Pendaftaran santri baru Gontor (Pengalaman pribadi) - Part 6 (terakhir)

Assalamualaikum

Alhamdulillah, Alhamdulillahi hamdan katsiran tayyiban mubarakan fiih. Setelah waktu yang sangat panjang, hampir setahun akhirnya saya memutuskan untuk mengakhiri cerita ini di part 6. InsyaAllah saya sangat terbuka untuk teman-teman, jika masih ada informasi yang belum tersampaikan silakan sampaikan di kolom komentar atau kirim email ke saya nhimayah@gmail.com. Pada part ini saya akan membahas mengenai tempat tinggal di saat mendampingi tes ujian masuk Gontor. Bagi teman-teman yang belum membaca part sebelumnya, bisa klik link berikut:

PART 1 - Kelengkapan, Waktu dan Biaya Pendaftaran

PART 2 - Proses Pendaftaran

PART 3 - Ujian masuk Gontor

PART 4 - Pengumuman kelulusan santri baru

PART 5 - Alternatif jika belum bisa belajar di Gontor

Bismillahirrahmanirrahim, sebagaimana saya sebutkan di part sebelumnya bahwa proses penerimaan santri baru di Gontor itu cukup panjang. Terlebih lagi bagi calon pelajarnya, begitu mendaftar langsung sudah dapat asrama sementara (sampai pengumuman kelulusan). Sehingga bagi calon wali santri, terutama yang luar kota, kemungkinan besar jelas menginap. Kemarin saya bertemu dengan capel dari Bali, masyaAllah ibu dan adiknya menunggu disana dari hari pertama pendaftaran dibuka. Bagi yang belum kenal Gontor, mungkin akan bingung kira-kira harus menginap dimana selama itu?

Bukan hanya anaknya yang harus persiapan tes ujian masuk Gontor, tapi sebenarnya persiapan Bapak/Ibunya juga gak kalah jauhnya. Seperti misalnya persiapan materi, fisik, mental dan kebutuhan ini itu yang lumayan banyak. Persiapan materi sebenarnya angkanya sangat relatif, tapi yang jelas anggaran itu untuk bayar uang pendaftaran, beli kebutuhan anak dan biaya hidup pendamping selama menemani di Gontor (Sewa tempat tinggal, beli makan, kebutuhan dadakan, dll). Persiapan fisik juga perlu karena jelas wira wiri butuh kondisi badan yang fit. Kemudian mental juga perlu, beberapa kali saya lihat anaknya biasanya aja udah ketawa-ketawa malah mamanya masih sering menitikan air mata melihat anaknya. Tapi insyaAllah semua bisa diatasi, niat baik pasti Allah mudahkan. Saya pengennya cerita juga masalah itu semua, namun sepertinya akan sangat panjang. Jadi mohon maaf kesempatan ini izinkan saya fokus berbagi tentang penginapan.

Sebenarnya banyak opsi untuk penginapan, hanya saja karena posisinya sangat ramai ketika pendaftaran jadi ya serba penuh semuanya. Saya jelaskan satu persatu mulai dari yang berbayar hingga yang gratis, semoga membantu :)


Di Dalam Pondok

1. WISMA DARUSSALAM

Wisma darussalam terletak satu lokasi dengan Gontor Putri, lebih tepatnya ada di depan sisi timur dekat dengan masjid luar. Sayangnya saya tidak menemukan foto yang memadai, nanti kalau ketemu insyaAllah saya tambahkan ya. Setahu saya fasilitasnya ada kamar mandi dalam dan tv. Sedangkan untuk biayanya sekitar RP 120.000 - RP 130.000 per malam (harga tahun 2017). Pada waktu itu, penyewaan kamar hanya bisa dilakukan secara langsung di kantor administrasi wisma. Tidak melayani online ataupun booking, jadi sistemnya siapa depat dia dapat. Saat penerimaan santri waktu itu, wisma ini sudah penuh bahkan sampai waiting list.

2. GAZEBO

Begitu menginjakkan kaki di Gontor Putri 1, temen-temen akan langsung melihat banyak gazebo di halaman. Nah, ini adalah salah satu opsi tempat tinggal sementara yang bisa kita tempati. Pengelola gazebo sama dengan pengelola wisma, jadi kalau mau sewa juga ke administrasi wisma. Harganya dulu RP 30.000 permalam. Fasilitasnya gembok dan penerangan, selebihnya teman-teman harus bawa sendiri karena gazebo ini kosongan. Sama dengan wisma, gazebo ini penuh di masa-masa pendaftaran santri baru. BTW, kalau berniat menginap di gazebo sebaiknya membawa selimut dan lotion anti nyamuk.

3. BAPENTA

Bapenta adalah balai penerimaan tamu, ini semacam ruangan besar untuk bersama-sama. Tersedia ruangan terpisah untuk tamu laki-laki dan perempuan. Ketika ada acara, bapenta ini selalu penuh. Bahkan dulu aula belakang juga dijadikan tempat istirahat sementara. Siapapun boleh menggunakan bapenta, tanpa harus registrasi dan mengeluarkan biaya.

4. Back To Nature

Ada satu hal menarik yang saya jumpai di Gontor, banyak tenda-tenda berjajar di halaman. Selain yang sudah saya sebutkan tadi, opsi ini juga banyak peminatnya. Ada yang sengaja membawa tenda, peralatan masak, dll dari rumah. Tapi banyak juga yang tidur begitu saja beralaskan tikar dan beratap langit. Sama sekali bukan hal aneh, ketika melihat orang tidur di parkiran, di bawah pohon, di lorong, dll.


LUAR PONDOK

1. HOTEL

Lokasi Gontor putri 1 dan 2 ini memang lumayan jauh dari kota, tapi ada hotel di sebelah barat Gontor. Jaraknya juga lumayan dekat, sayangnya saya hanya lewat, jadi tidak bisa memberikan informasi lebih lanjut mengenai rate dan fasilitasnya.

2. Rumah Warga

Opsi ini juga lumayan banyak diminati, karena biayanya terjangkau dan jaraknya relatif dekat. Jadi rumah-rumah warga yang di depan pondok itu, sering berubah menjadi penginapan dadakan. Sepanjang jalan utama dari alfamart sampai gontor putri 2, itu banyak sekali penginapan rumah warga. Selayaknya penginapan, sistemnya menyewa satu kamar dengan biaya sekitar RP 50.000 per malam.

Sekian informasi yang bisa saya bagi, nanti kalau ada yang perlu ditambahi saya update lagi ya. Terima kasih untuk semua yang sudah membaca part 1-6. Semoga cerita yang banyak kurangnya ini bisa bermanfaat dan membantu.

Bila ada yang kurang jelas atau pertanyaan lebih lanjut, silakan hubungi saya melalui email atau media sosial saya yang tercantum di profil. Terima Kasih, semoga kebaikan, kesuksesan dan keberkahan selalu menyertai kita semua :)

Wassalamualaikum

Share:

Friday, 3 May 2019

Ayo Hijrah: Kampanye Inspiratif Bank Muamalat Indonesia

Assalamualaikum,
Bagaimana kabarnya teman-teman hari ini? semoga kita semua selalu terjaga dalam kebaikan dan keberkahan

Akhir-akhir ini di dunia maya semakin banyak akun yang masif melakukan dakwah untuk mengajak hijrah. Pun di layar televisi kita, mulai banyak terlihat artis yang mengenakan hijab, aktif melakukan dakwah, dll. Hingga fenomena ini memunculkan istilah baru yaitu "artis hijrah". Dengan adanya tren ini, rasanya mendengar kata hijrah sudah tidak seberat dulu. Sebelum ini, hijrah lebih identik dengan perpindahan tempat, seperti hijrahnya Rasulullah dari Mekah ke Madinah. Hal ini menarik dan mungkin mengundang pertanyaan dalam benak kita, jadi sekarang apa parameter seseorang dapat dikatakan sudah hijrah?

Seorang muslim adalah yang membuat orang-orang muslim lain selamatdari lisan dan tangannya. Adapun orang yang berhijrah (muhajirin) adalah orang hijrah meninggalkan larangan-larangan Allah. (HR Bukhari)
Jika merujuk pada hadits tersebut, maka pada dasarnya hijrah menurut islam adalah meninggalkan segala hal yang dilarang atau dibenci Allah SWT. Makna ini tentu dapat meluas jika kita korelasikan dengan turunan hal-hal yang dilarang Allah dalam kehidupan sehari-hari. Seperti hijrah pekerjaan, lingkungan, pergaulan, penampilan bahkan ada hijrah keuangan, dst.

Salah satu contoh yang menarik adalah hijrah keuangan, kampanye inspiratif ini diisiasi oleh Bank Muamalat Indonesia. Sebagai syariah pertama di Indonesia, melalui gerakan #ayohijrah Bank Muamalat mengkampanyekan untuk menjalani kehidupan sesuai tuntunan islam, khususnya pada sektor keuangan. Bank Muamalat mengajak masyarakat untuk mengelola dananya secara syariah sehingga tercapai kehidupan yang lebih baik dan berkah.

Sejalan dengan gerakan ayo hijrah ini, Bank Muamalat menyediakan berbagai layanan perbankan syariah untuk nasabah. Seperti tabungan hijrah, tabungan hijrah haji dan umroh, tabungan hijrah rencana, tabungan hijrah prima, deposito hijrah, dll. Semua pengelolaan dana didasarkan pada prinsip-prinsip syariah dan diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah. Selain itu, sejak didirikan tahun 1992 Bank Muamalat tidak pernah menginduk kepada bank lain, sehingga lebih terjaga kemurnian syariahnya.

Masalah pengelolaan keuangan bagi saya sangat rentan sekali, sehingga jangan sampai kita titipkan kepada pihak yang salah. Penting untuk memilih lembaga yang syariah, agar dana yang kita titipkan terjaga kehalalannya. Terlebih jika suatu saat ada kemungkinan tabungan itu kita gunakan untuk membeli sesuatu yang keperluan perut dan ibadah.

Tahun 2018, orang tua saya berangkat haji dan beliau mempercayakan pendaftarannya melalui bank Muamalat cabang Kediri. Sebelumnya Beliau sempat mencari informasi ke beberapa bank lain, tapi akhirnya pilihan tetap jatuh kepada bank yang jelas memegang prinsip-prinsip syariah. Alhamdulillah, mulai dari pendaftaran, mendapat nomor porsi, pelunasan hingga berangkat tidak ada masalah apapun.


Perjalanan hijrahku

Dulu saya juga gak terlalu ambil pusing masalah religi, selama kita beribadah wajib dan berbuat baik kepada sesama rasanya itu sudah cukup. Namun belakangan ketika saya mulai memperbaiki diri dan belajar agama lagi, mulai muncul keresahan dan kesadaran pemahaman saya salah.

Sejak 2013, saya kuliah dan kost di wilayah Depok. Awalnya semua terasa baik-baik saja, tapi seiring berjalan waktu kehidupan saya semakin tidak teratur dan sangat tidak nyaman. Puncaknya adalah ketika saya sudah tidak merasakan lagi ketenangan dan kedamaian ketika shalat dan membaca al Quran. Ketidaknyamanan ini semakin menjadi-jadi, sampai akhirnya saya memutuskan untuk langsung pulang sehari setelah wisuda.


Sesampainya di Kediri, saya tidak langsung menemukan apa yang saya cari. Hidayah itu datang lewat wasilah adik saya. Setelah ramadhan 2017 dia resmi menyandang status santri salah satu pesantren di Jawa Timur. Hal itu membuat saya jadi sangat sering berkunjung ke pesantren, dari mulai pulang pergi sampai pernah menginap sepuluh hari. Ketika masuk lingkungan pesantren mau tidak mau harus menyesuaikan diri, minimal penampilan.

Pada titik ini saya sudah membiasakan diri tidak lagi nongkrong malam hari, memuseumkan celana jeans yang dulu jadi andalan setiap hari, dan tidak menggunakan kerudung yang berbahan sangat tipis lagi. Setelah itu, Allah memberikan ilmu baru lagi mengenai riba. Entah darimana mulanya tapi saya menjadi sangat tertarik dengan topik ini. Sampai kemudian saya mulai belajar menerapkan dalam kehidupan.



Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan kebaikan hambaNya, meskipun hanya sebesar biji zarah. Masih banyak dosa dan khilaf yang saya lakukan, bahkan terkadang banyak kebenaran yang masih saya pertanyakan. Tapi Allah Maha Pemurah, tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan juga. Bahkan ketika kita baru niat saja, itu sudah dicatat sebagai satu kebaikan. Allah terus bukakan pintu kebaikan itu silih berganti.

Menjelang ramadhan 2018, saya memiliki rencana untuk ikut program pesantren kilat di pesantren yang sama dengan adik saya. Singkat cerita program tersebut berbayar dan tidak murah untuk saya yang belum berpenghasilan. Tapi ada keyakinan kuat. saya punya Allah Yang Maha Kaya. Saya meminta ke Allah sudah seperti anak-anak yang minta uang jajan ke orang tua. Sampai akhirnya hari terkahir pendaftaran dan uang saya tetap belum cukup untuk mendaftar.

Selepas shalat isya, masih dalam kondisi duduk di atas sajadah, saya menangis sejadi-jadinya. Niat dan tujuan saya baik, tapi kenapa Allah tidak mengizinkan?

Ternyata cerita belum selesai, Allah punya rencana lebih baik dari yang saya miliki. Masih di atas sajadah dengan air mata bercucuran, Allah gerakkan saya untuk mengambil HP dan membuka Instagram. Postingan pertama yang ada di beranda saya adalah postingan Ustadz Yusuf Mansur, poster santri ramadhan majelis Ar Raudhah pimpinan Habib Novel Alaydrus Solo. Tertulis sangat jelas di poster itu gratis 100% dan akhirnya detik itu juga saya daftar.

Alhamdulillah, akhirnya saya berangkat ke Solo. Padahal saya tidak tahu sama sekali siapa itu Habib Novel, tapi ada keyakinan luar biasa untuk berangkat. Selama menjadi santri di Ar Raudhah, hati saya yang dulu rasanya hampa mulai bergairah. Masalah selalu datang silih berganti, tapi hati terasa lebih tenang dalam menyikapi. Seringkali saya meneteskan air mata, sebab apa yang Habib katakan sangat mengena. Allah memang tidak memberikan apa yang saya inginkan, tapi Allah berikan apa yang saya butuhkan. Ketika saya tertatih-tatih dalam perjalanan hijrah ini, Allah langkahkan kaki saya kepada seorang guru yang pas untuk saya ikuti.

Mulai saat itu, inner circle saya sedikit berubah. Alhamdulillah, saya mulai mengenal ulama dan habaib, Allah ringkankan kaki saya untuk menghadiri majelis ilmu dan Allah berikan saya teman-teman yang senantiasa mengingatkan dalam kebaikan. Semakin banyak kita mengenal orang sholeh, maka semakin banyak pula ilmu yang bisa kita teladani.

Kalau Allah sudah memberikan satu kebaikan di hati kita, jangan sia-siakan begitu saja. Teruslah berlomba-lomba dalam kebaikan, semoga kita semua bukan golongan orang yang merugi. #ayohijrah

#AyoHijrah, #BankMuamalat, #MiladBankMuamalat








Share:

Saturday, 20 April 2019

Berani Investasi dengan Yang Maha Memberi




Assalamualaikum, apa kabar teman-teman? semoga kita semua senantiasa terjaga dalam kebaikan dan keberkahan.

Saya yakin setiap dari kita adalah orang baik, hati nurani kita selalu mengajak untuk peduli dan berbagi dengan sesama. Namun apa yang terjadi ketika dihadapkan dengan realita uang di dompet tinggal selembar saja, tanggal gajian masih lama atau mungkin terbentur cicilan yang terasa tiada habisnya. Saya dan mungkin juga kamu akan dilema, lalu akhirnya mengurungkan niat kita yang mulia.

Belakangan saya sadar bahwa pemikiran itu salah. Sedekah tidak akan membuat hidup kita jadi susah, tapi justru itulah pengetuk pintu langit dari semua masalah. Banyak sekali kisah tentang keajaiban sedekah, mulai dari kisah Abdurahman bin Auf (sahabat Nabi) hingga testimoni nyata dari para ahlul sedekah. Memang terkadang kisahnya sulit dipercaya, tapi itulah bukti kebesaran Allah. Teruslah belajar dari kisah-kisah itu, sampai akhirnya Allah berikan hidayah dan menjadikan kita ahlul sedekah.


Saya ingin mengajak teman-teman mengingat kembali kisah Kakek Sanusi, beliau adalah kakek penjual pisang yang viral karena kebaikan hatinya berani berbagi kepada saudara kita yang lebih membutuhkan. Kakek Sanusi datang dengan gerobak dorongan, bukan dengan mobil khas orang gedongan. Jangankan mikir investasi, untuk makan esok hari saja beliau harus kerja keras lagi. Tapi nyatanya kakek Sanusi tidak takut berbagi. Tidak ada kebaikan yang sia-sia, Allah berikan balasan istimewa dengan mengundang beliau ke Baitullah lewat PPPA Daarul Quran


Lalu, bagaimana dengan kita? mungkin kita kelewat penakut, jadi takut berbagi karena khawatir ada kebutuhan mendadak esok hari. Belakangan saya mulai belajar menepis pikiran semacam ini. Bukan karena uang saya sudah berlebihan hari ini, tapi saya percaya hidup dijamin Allah yang Maha Memberi. Bagaimana mungkin kita takut kekurangan, jika Allah berjanji untuk selalu mencukupkan.

Dulu zaman Rasulullah ada kisah seorang budak wanita yang didatangi oleh seorang fakir. Dia tidak memiliki apapun, selain separuh kurma yang akhirnya diberikan kepada fakir tersebut. Tapi alangkah indahnya ketika balasan dari separuh kurma itu adalah surga. Tidak perlu malu dengan sedekah kita yang terasa belum seberapa. Jika memang hanya itu yang kita punya, tentu nilainya sangat berharga di mata Allah ta'ala.

“Wahai Rasulullah, sedekah yang mana yang lebih besar pahalanya?” Beliau menjawab, Engkau bersedekah pada saat kamu masih sehat, saat kamu takut menjadi fakir, dan saat kamu berangan-angan menjadi kaya. Dan janganlah engkau menunda-nunda sedekah itu, hingga apabila nyawamu telah sampai di tenggorokan, kamu baru berkata, “Untuk si fulan sekian dan untuk fulan sekian, dan harta itu sudah menjadi hak si fulan.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 1419 dan Muslim no. 1032). 

Sayapun punya pengalaman pribadi, bagaimana Allah begitu dekat dan janji Allah itu pasti. Dengan status masih mencari kerja, tentu saja keuangan saya masih dari orang tua. Tapi dengan umur sudah dua puluh tiga, ada perasaan malu untuk terus meminta. Ramadhan 2018, saya berniat untuk ikut program ramadhan di sebuah pondok pesantren. Singkat cerita kegiatan tersebut berbayar dan tidak sedikit, untuk saya yang belum bekerja. Kala itu waktu pendaftaran masih 2 minggu, Bismillah saya mau ikhtiar lewat jalur langit. Jangankan 2 minggu, berdoa sekali aja kalau Allah menghendaki juga dikabulkan. Tuhan kita Maha Mendengar :)

Selama 2 minggu, ikhtiar mengetuk pintu langit terus berjalan, melalui doa, dhuha, waqiah, sedekah dll. Sebelumnya saya pernah mendengar kisah ahlul sedekah, beliau selalu memberi orang yang datang minta sedekah padanya. Saya coba amalkan itu, ketika ada teman yang sedang mengajak donasi untuk acara sosial keagamaan langsung saya iyakan. Maha Besar Allah, tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan juga. Alhamdulillah, rezeki datang silih berganti. Tapi karena uangnya belum cukup untuk daftar santri, jadi saya pilih nol kan lagi (donasikan dan bagikan lagi). Kalau kita bisa yakin deposito di bank tidak akan rugi, kenapa kita takut investasi dengan yang Maha Memberi?

Seminggu berjalan uangnya belum tercukupi, h-2 dan sampai akhirnya hari terakhir tidak cukup juga. Saya bawa lagi posternya ke atas sajadah, tangis saya tumpah ruah. Saya merasa ini niat baik tapi kenapa Allah gak permudah? 

Ternyata saya salah, rencana Allah memang selalu lebih indah. Allah memang tak memberi apa yang saya inginkan, tapi Allah memberi yang saya butuhkan. Jadi dengan kondisi air mata belum selesai sepenuhnya, saya ambil hp dan buka instagram. Postingan pertama yang muncul diberanda adalah postingan Ustadz Yusuf Mansur tentang informasi pendaftaran santri ramadhan Ar Raudhah, Pimpinan Habib Novel Alaydrus Solo. Saya cari info sebentar tentang Habib Novel, lalu seketika itu pula saya langsung minta izin orang tua untuk bisa nyantri kesana. Alhamdulillah, sampai sekarang saya menjadi santri Habib Novel meskipun tidak tinggal di Solo sepenuhnya. 

Dari pengalaman itu saya mendapat pelajaran luar biasa. Kalau Allah tidak berikan apa yang kita minta, bersiaplah untuk menerima yang lebih istimewa. Tidak ada istilah doa, dhuha, sedekah, dan semua amal kebaikan yang sia-sia. Percayalah, semua dibalas dengan cara terbaikNya. 

Ketika kita merasa permintaan "tidak" kunjug terkabul, coba renungkan kembali mungkin Allah sudah kabulkan dengan bentuk yang lain. Rezeki bukan hanya materi, tapi juga kesehatan, kenikmatan beribadah, iman, ketenangan batin, keluarga yang harmonis, dll. 

Mungkin 700 kali balasan sedekah yang kita nanti-nanti tak kunjung terpenuhi, tapi Allah anugerahkan kesehatan dan keimanan yang jauh tak ternilai. Boleh jadi sedekahmu tidak terbalas 10 kali, tapi boleh jadi Allah ganti itu dengan menyelamatkan kita dari musibah yang membahayakan diri. Setiap kebaikan yang kita lakukan adalah sebuah investasi, yang bisa menyelamatkan kita dari kejadian yang tidak kita inginkan di masa depan.

Jangan ragu untuk berbagi, yuk mulai investasi dengan Allah sejak dini. Apalagi sekarang zaman teknologi, banyak wadah untuk kita berbagi. Misalnya, melalui situs crowd funding, donasi perorangan atau lewat lembaga seperti dompet dhuafa melalui link donasi.dompetdhuafa.org


“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”

Share:

Monday, 15 April 2019

My Braces Story (Pasang behel di Kediri)



Halo, teman-temanku :)
Jadi bulan Februari kemarin saya pasang behel, mungkin banyak dari temen-temen juga yang sebenarnya pengen pakai behel. Terbukti dengan banyaknya orang yang nanya ke saya masalah behel ketika saya mengunggah foto. Biar lebih mudah dan to the point, tulisan ini saya bikin dalam bentuk QnA yang emang biasanya banyak ditanyakan temen-temen. Selamat membaca :)

1. Kenapa pakai behel?

Tujuan pakai behel emang macam-macam, bisa untuk perawatan atau sekadar fashion. Kalau saya emang buat perawatan, jadi sebenarnya udah sejak kuliah saya pengen pakai behel karena merasa gigi kurang rapi. Makin kesini rasanya gigi semakin menjadi-jadi, akhirnya saya coba cari info tempat pasang behel di Kediri. Awalnya gigi saya itu berjubel dan belok kanan kiri sesuka hati, udah kayak angkot di Jakarta. haha.


2. Dimana pasang behelnya?

Saya pasang behel di drg. Niken W. Wulandari, praktiknya di Jalan Slamet Riyadi No. 29 Banjaran, Kota Kediri. Lokasi tepatnya di depan SMK Pawiyatan Daha Kediri. Kalau dari barat, perempatan BCA Joyoboyo ke timur. Sedangkan dari timur, pertigaan/perempatan indomaret selatan MAN 2 Kediri ke barat kurang lebih 500m. Lokasinya ada di kanan jalan, tepat di perempatan pertama. Temen-temen bisa juga lewat gang sampingnya toko tas Elizabeth ke Selatan, lalu perempatan pertama belok kanan sedikit (2 rumah).


3. Kenapa memutuskan pasang behel di drg. Niken?

Awalnya saya kesulitan juga cari info tempat pasang behel di Kediri. Datanglah saya ke salah satu rumah sakit swasta di Kediri, karena di sana ada dokter spesialis orthodontist. Tapi karena satu dan lain hal, saya cari alternatif lain dulu. Alhamdulillah saya ketemu blognya mbak Lilin yang berbagi pengalaman pasang behel di drg Niken, silakan baca di sini. Dari reviewnya sih bagus dan pas datang ke sana emang pasien orthodonti dokter Niken lumayan banyak banget.


4. Berapa sih biaya pasang dan perawatan behel?

Pas saya pasang behel tanggal 20 Februari 2019, biayanya untuk atas bawah Rp 4,5 juta. Itu diluar tindakan ekstra, seperti cabut, tembel, rongten, dll. Biaya kontrol kalau gak ada tindakan lain RP 100 ribu, cabut dan tembel sepertinya Rp 80 ribu. Kalau dibandingkan dengan dokter lain, biaya pasang behel termasuk murah.


5. Sakit gak sih pasang behel?

Oh ya jangan ditanya, bayangkan dong saya pasang behel sekaligus cabut 1 gigi. 3 hari kemudian cabut 1 gigi lagi dan seminggu kemudian cabut 1 gigi lagi. Jadi total gigi saya sudah cabut 3, dari total 4 yang harus dicabut. Ini gak paten, tergantung kondisi gigi kita. Ngilu gak pas awal-awal? pasti. Rasanya ngilu dan gigi kehilangan daya gigitnya, tapi kira-kira seminggu saya udah mulai bisa makan nasi dan mie.


6. Warna karet apa ya yang bagus?

Saya pertama kali pakai warna biru muda, ya bagus tapi karena mencolok jadi kayak itu bisa mengalihkan dunia lawan bicaramu wkwk. Kemudian saya ganti soft pink, ini juga bagus tapi warnanya terlalu cantik untuk gigiku yang tak sempurna. Kalau siang kelihatan bagus banget, tapi kalau malem jadi bikin gigi kelihatan lebih kuning. Akhirnya sekarang saya ganti silver, it's awesome. Jadi saya rekomendasikan silver aja, terutama untuk yang baru pasang.



7. Pernah lepas gak kak?

Pernah, itu hal yang wajar kok. Bahkan banyak cerita yang bracketnya sampai tertelan, Alhamdulillah saya gak. Saya yang suka lepas itu paling ujung, yang di geraham. Kalau masih nyangkut ya saya biarin, sampai dia bener-bener lepas. Saya suka simpen sih kalau lepas gitu, tapi sejauh ini gak pernah ditanyain dan selalu di pasang yang baru sama dokternya.


8. Gimana sejauh ini perkembangannya?

Alhamdulillah lumayan memuaskan, lihat perbandingannya di foto berikut ya :)







Share: