Wednesday, 28 August 2019

MY SPIRITUAL JOURNEY (Part 1) - Gontor dan Dia

Assalamualaikum, apa kabar teman-teman?
Semoga kita semua selalu terjaga dalam kebaikan dan lindungan Allah :)

Saya menandai awal perjalanan saya di tahun 2009. Sebab pada saat itu saya sudah mulai beranjak dewasa, mulai berpikir sendiri atas sebuah pilihan dan konsekuensi.

Ramadhan 2009, sekolah kami SMPN 1 Grogol mengadakan kerja sama dengan Pondok Modern Darussalam Gontor. Sehingga kegiatan pondok ramadhan yang lazimnya diisi guru, maka tahun ini akan diisi oleh Ustadz dan Santri Gontor konsulat Kediri.

Pada saat itu kami sudah duduk di kelas 9, sebagai senior tentu saja kami lebih superior dibanding dedek-dedek gemash. Saya ingat banget guru bahasa inggris kami sampai berpesan, "Mereka masih seumuran kalian, jangan macem-macem ya." Ternyata kekhawatiran guru kami benar, kedatangan mereka membawa cerita di hidup kami, terutama hidup saya.

Memang kegiatan itu tidak lama, hanya 10 hari dan itupun ngajarnya berganti-ganti. Selain mengajar, mereka juga mengadakan penutupan berupa pentas seni. Di acara itu mereka mengajak serta sebagian dari kami untuk berpartisipasi. Saya dan satu orang adik kelas mengajukan diri untuk ikut dalam proyek musikalisasi puisi. Penanggung jawab puisi itu adalah seorang santri gontor kelas 5 (setara 2 SMA) yang kemudian saya panggil kakak.

Ke esokan harinya kami dikumpulkan lagi dan kakak bilang, "Puisi ini akan dibaca dua orang, saya dan satu orang lagi. Biar tingginya sama, jadi Ima saja ya."

Singkat cerita, kami terus bertemu setiap hari karena harus latihan bersama. Ya cerita terus berlanjut sampai akhirnya acara itu selesai. Sebagai orang yang tidak pernah merasakan menjadi seorang santri, cerita kehidupan di pesantren yang ia ceritakan begitu menarik hati saya.

Sampai suatu ketika saya bilang, "Kak aku pengen masuk Gontor aja habis ini". Kemudian saya diberikan saran tentang apa saja yang harus saya persiapkan buat masuk gontor. Waktu berjalan, saya dan dia lost contact karena di Pondok tidak boleh pegang HP.

Ternyata Allah berkehendak lain, saya tidak jadi mondok di Gontor dan melanjutkan di Smada Kediri. Apakah kemudian saya lupa dengan Gontor dan dia? tentu saja tidak. Dia masih menghubungi saya ketika liburan, meskipun kami tidak pernah bertemu lagi. Sementara Gontor juga tidak lenyap begitu saja, segala sesuatu tentang Gontor masih sangat menarik hati. Pun, saya memposisikan diri saya sebagai calon santri. Jadi meskipun Allah belum mengizinkan saya belajar di Gontor, tapi saya berazzam untuk tetap belajar agama.


Sampai bertemu di part 2, klik di sini :)
Share:

Tuesday, 27 August 2019

MY SPIRITUAL JOURNEY

Assalamualaikum, apa kabar teman-teman?
Semoga kita semua selalu terjaga dalam kebaikan dan lindungan Allah :)

Sebenarnya saya pengen nulis ini sejak lama, semenjak saya menyadari bahwa semua yang terjadi dalam hidup saya saling berkaitan satu sama lain. Ini layaknya sebuah puzzle, potongan demi potongan peristiwa kehidupan yang membawa saya dalam sebuah rencana besar Allah.

My Spiritual Journey bercerita tentang pengalaman spiritual saya pribadi. Spiritual yang saya maksud adalah hubungan dengan Allah, bukan spiritual ilmu kebatinan. Semua bermula ketika saya bertemu dengan seorang santri dari sebuah pondok pesantren. Kejadian itu yang kemudian banyak mempengaruhi keputusan-keputusan dalam hidup saya. Cerita ini akan menjadi cerita yang lumayan panjang, karena plot waktunya pun juga sangat panjang.

Memang tidak semua peristiwa ini terasa indah, tapi pasti mengandung hikmah. Sebaik-baik perencana adalah Allah, ikuti saja alurnya. Bismillah :)



Share:

Thursday, 25 July 2019

Berdamai dengan patah hati


Halo, kamu apa kabar? semoga kabar baik selalu ku dengar darimu :)

Tulisan ini adalah hadiah, untuk kamu yang merasa hatinya sedang patah. Sekian lama aku menahan diri untuk berkisah. Tapi sekarang ku pikir menulisnya sebagai hadiah juga gak masalah. Layaknya sebuah hadiah, semoga tulisan ini bisa membuat harimu sedikit lebih cerah.

Tidak mengapa jika hari ini pipimu masih basah, menangis tidak berarti kamu lemah. Memang tidak mudah, ketika semua yang seolah sudah di depan mata lalu musnah. Setelah perjalanan dan perjuangan panjang yang indah, tiba-tiba ceritanya berubah. Aku mengerti, berada di posisimu saat ini benar-benar tidak mudah. Hati penuh gundah, pikiran terpecah, bahkan mungkin ragamu ikut melemah. Kecewa tapi tidak bisa marah, ingin lari tapi tidak tau arah. Pada titik ini, izinkan aku berbisik "Waktu tidak pernah berhenti untuk menunggumu siap berdiri lagi dengan gagah"

Meskipun mungkin cerita setiap orang berbeda, tapi perihal kehilangan sakitnya akan tetap sama. Melepas apa yang kita jaga, menerima yang tidak kita percaya, lalu berhenti bertanya tanpa tau jawabnya. Awalnya akupun tak habis pikir dibuatnya, bagaimana mungkin sekian tahun yang kita lalui bersama seolah tidak ada artinya. Tapi semua pertanyaan semacam itu urung aku tanya, sebab jawabnya tidak akan mengubah lara menjadi suka. Percayalah, berhenti bertanya adalah salah satu cara untuk tidak terperosok lebih dalam di kubangan luka.



Detik ini, yang berakhir adalah kisahmu dengan dia, bukan hidupmu. Tuhan mengujimu dengan hebat sebab Dia tau kamu kuat. Yang tumpul masih bisa diasah, yang rusak masih bisa dibenah, pun yang berantakan masih bisa jadi indah. Yang hilang hanya dia, sisanya masih tetap sama. Ini ibarat tanda koma, kamu masih bisa melanjutkan ceritanya. Sekarang, kendali ada di tanganmu sepenuhnya.

Kalau dia memilih pergi, kamu tidak perlu berkecil hati. Apalagi sampai menganggap rendah dirimu sendiri. Percayalah bahwa kamu dilahirkan sempurna, dengan segala kelebihan dan kelemahan yang kamu miliki. Tenang saja kita tidak sendiri, banyak orang di dunia ini yang juga mengalami. Bahkan rasanya mereka juga terlalu sempurna untuk disakiti. Jadi ku rasa ini bukan tentang siapa lebih baik, mungkin dua-duanya baik, tapi hanya perihal lebih tepat saja. Terlepas dari apapun alasannya, bagiku yang lebih penting adalah caranya menyikapi. Lalu apa yang mereka lalukan setelah patah hati? ada yang menyerah dan memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Tapi ada juga orang-orang yang cukup bijaksana belajar dari suatu peristiwa, menjadikan patah hati sebagai motivasi, mengubah air mata menjadi tenaga, hingga akhirnya ini menjadi titip balik atas lahirnya karya yang menginspirasi.

Bung Fiersa Besari, yang karya-karyanya selalu dekat di hati, dulu juga berjuang melewati fase ini. Pada kondisi itu, dia memilih melangkah untuk memulai perjalanan mengelilingi negeri ini. Buah perjalanan itulah yang kemudian melahirkan karya-karya istimewa. Bang Dzawin juga sama, di balik materi stand up-nya yang renyah, hatinya juga pernah patah. Mirip seperti Bung Fiersa, Bang Dzawin memutuskan untuk mengunjungi tempat-tempat baru untuk singgah. Menarik, dia mengajak kita ke tempat yang benar-benar asing lewat video yang di unggah. Lalu bang Wira Nagara dengan puisinya yang selalu menusuk jiwa, sebab dia tau betul bagaimana rasanya ditinggal menikah.

Aku tentu tidak menyuruhmu mengelilingi Indonesia seperti Bang Dzawin dan bung Fiersa, akupun tidak melakukannya dan belum mampu berkarya seperti mereka. Memang aku belum jadi contoh yang sempurna, tapi aku ingin mengajakmu bergerak bersama menjemput bahagia dengan cara yang sederhana. Sekarang adalah waktunya untuk bisa menjadi diri sendiri seutuhnya. Menjadi seperti apa yang kamu suka, bukan yang dia minta. Mewujudkan asamu, bukan asanya.

Kamu sudah tidak perlu lagi banyak berkompromi, bahkan untuk sekadar bahagia. Kamu tidak lagi terpaku "harus menjadi seperti apa", hanya karena takut tidak dicinta. Jika dulu hidup kita terlalu fokus padanya, sampai mungkin tidak peka dengan sekililing kita. Kehilangan menuntun kita bisa lebih terbuka, melepas jerat "harus menjaga". Kamu bisa bertemu dengan siapapun di luar sana, kamu boleh pergi semampu yang kamu bisa. Lanjutkan hidupmu sebaik-baiknya, lalu cobalah berkarya dengan apa yang kamu punya. Kadang bahagia itu sederhana, sesederhana tau tulisanmu ada yang membaca atau bahkan sekadar datangmu disambut senyum ceria. Terkadang, suatu hal sederhana bisa sangat bermakna.



Setiap peristiwa mengajarkan hal berbeda, selama kita mau membuka mata. Nampaknya sederhana, tapi percayalah proses ini yang akan menjadikanmu berbeda. Terlebih jika kamu cukup bijaksana, aku percaya kamu akan bertumbuh menjadi orang yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Aku sepakat dengan Bung Fiersa, kita tidak perlu lupa, hanya perlu melihat dari sudut pandang berbeda.

Selamat menikmati prosesmu ya, nanti kita ketemu lagi di part dua. Aku mau cerita tentang apa yang ku dapati di perjalanan berikutnya :)



Share:

Thursday, 11 July 2019

Pendaftaran santri baru Gontor (Pengalaman pribadi) - Part 6 (terakhir)

Assalamualaikum

Alhamdulillah, Alhamdulillahi hamdan katsiran tayyiban mubarakan fiih. Setelah waktu yang sangat panjang, hampir setahun akhirnya saya memutuskan untuk mengakhiri cerita ini di part 6. InsyaAllah saya sangat terbuka untuk teman-teman, jika masih ada informasi yang belum tersampaikan silakan sampaikan di kolom komentar atau kirim email ke saya nhimayah@gmail.com. Pada part ini saya akan membahas mengenai tempat tinggal di saat mendampingi tes ujian masuk Gontor. Bagi teman-teman yang belum membaca part sebelumnya, bisa klik link berikut:

PART 1 - Kelengkapan, Waktu dan Biaya Pendaftaran

PART 2 - Proses Pendaftaran

PART 3 - Ujian masuk Gontor

PART 4 - Pengumuman kelulusan santri baru

PART 5 - Alternatif jika belum bisa belajar di Gontor

Bismillahirrahmanirrahim, sebagaimana saya sebutkan di part sebelumnya bahwa proses penerimaan santri baru di Gontor itu cukup panjang. Terlebih lagi bagi calon pelajarnya, begitu mendaftar langsung sudah dapat asrama sementara (sampai pengumuman kelulusan). Sehingga bagi calon wali santri, terutama yang luar kota, kemungkinan besar jelas menginap. Kemarin saya bertemu dengan capel dari Bali, masyaAllah ibu dan adiknya menunggu disana dari hari pertama pendaftaran dibuka. Bagi yang belum kenal Gontor, mungkin akan bingung kira-kira harus menginap dimana selama itu?

Bukan hanya anaknya yang harus persiapan tes ujian masuk Gontor, tapi sebenarnya persiapan Bapak/Ibunya juga gak kalah jauhnya. Seperti misalnya persiapan materi, fisik, mental dan kebutuhan ini itu yang lumayan banyak. Persiapan materi sebenarnya angkanya sangat relatif, tapi yang jelas anggaran itu untuk bayar uang pendaftaran, beli kebutuhan anak dan biaya hidup pendamping selama menemani di Gontor (Sewa tempat tinggal, beli makan, kebutuhan dadakan, dll). Persiapan fisik juga perlu karena jelas wira wiri butuh kondisi badan yang fit. Kemudian mental juga perlu, beberapa kali saya lihat anaknya biasanya aja udah ketawa-ketawa malah mamanya masih sering menitikan air mata melihat anaknya. Tapi insyaAllah semua bisa diatasi, niat baik pasti Allah mudahkan. Saya pengennya cerita juga masalah itu semua, namun sepertinya akan sangat panjang. Jadi mohon maaf kesempatan ini izinkan saya fokus berbagi tentang penginapan.

Sebenarnya banyak opsi untuk penginapan, hanya saja karena posisinya sangat ramai ketika pendaftaran jadi ya serba penuh semuanya. Saya jelaskan satu persatu mulai dari yang berbayar hingga yang gratis, semoga membantu :)


Di Dalam Pondok

1. WISMA DARUSSALAM

Wisma darussalam terletak satu lokasi dengan Gontor Putri, lebih tepatnya ada di depan sisi timur dekat dengan masjid luar. Sayangnya saya tidak menemukan foto yang memadai, nanti kalau ketemu insyaAllah saya tambahkan ya. Setahu saya fasilitasnya ada kamar mandi dalam dan tv. Sedangkan untuk biayanya sekitar RP 120.000 - RP 130.000 per malam (harga tahun 2017). Pada waktu itu, penyewaan kamar hanya bisa dilakukan secara langsung di kantor administrasi wisma. Tidak melayani online ataupun booking, jadi sistemnya siapa depat dia dapat. Saat penerimaan santri waktu itu, wisma ini sudah penuh bahkan sampai waiting list.

2. GAZEBO

Begitu menginjakkan kaki di Gontor Putri 1, temen-temen akan langsung melihat banyak gazebo di halaman. Nah, ini adalah salah satu opsi tempat tinggal sementara yang bisa kita tempati. Pengelola gazebo sama dengan pengelola wisma, jadi kalau mau sewa juga ke administrasi wisma. Harganya dulu RP 30.000 permalam. Fasilitasnya gembok dan penerangan, selebihnya teman-teman harus bawa sendiri karena gazebo ini kosongan. Sama dengan wisma, gazebo ini penuh di masa-masa pendaftaran santri baru. BTW, kalau berniat menginap di gazebo sebaiknya membawa selimut dan lotion anti nyamuk.

3. BAPENTA

Bapenta adalah balai penerimaan tamu, ini semacam ruangan besar untuk bersama-sama. Tersedia ruangan terpisah untuk tamu laki-laki dan perempuan. Ketika ada acara, bapenta ini selalu penuh. Bahkan dulu aula belakang juga dijadikan tempat istirahat sementara. Siapapun boleh menggunakan bapenta, tanpa harus registrasi dan mengeluarkan biaya.

4. Back To Nature

Ada satu hal menarik yang saya jumpai di Gontor, banyak tenda-tenda berjajar di halaman. Selain yang sudah saya sebutkan tadi, opsi ini juga banyak peminatnya. Ada yang sengaja membawa tenda, peralatan masak, dll dari rumah. Tapi banyak juga yang tidur begitu saja beralaskan tikar dan beratap langit. Sama sekali bukan hal aneh, ketika melihat orang tidur di parkiran, di bawah pohon, di lorong, dll.


LUAR PONDOK

1. HOTEL

Lokasi Gontor putri 1 dan 2 ini memang lumayan jauh dari kota, tapi ada hotel di sebelah barat Gontor. Jaraknya juga lumayan dekat, sayangnya saya hanya lewat, jadi tidak bisa memberikan informasi lebih lanjut mengenai rate dan fasilitasnya.

2. Rumah Warga

Opsi ini juga lumayan banyak diminati, karena biayanya terjangkau dan jaraknya relatif dekat. Jadi rumah-rumah warga yang di depan pondok itu, sering berubah menjadi penginapan dadakan. Sepanjang jalan utama dari alfamart sampai gontor putri 2, itu banyak sekali penginapan rumah warga. Selayaknya penginapan, sistemnya menyewa satu kamar dengan biaya sekitar RP 50.000 per malam.

Sekian informasi yang bisa saya bagi, nanti kalau ada yang perlu ditambahi saya update lagi ya. Terima kasih untuk semua yang sudah membaca part 1-6. Semoga cerita yang banyak kurangnya ini bisa bermanfaat dan membantu.

Bila ada yang kurang jelas atau pertanyaan lebih lanjut, silakan hubungi saya melalui email atau media sosial saya yang tercantum di profil. Terima Kasih, semoga kebaikan, kesuksesan dan keberkahan selalu menyertai kita semua :)

Wassalamualaikum

Share:

Friday, 3 May 2019

Ayo Hijrah: Kampanye Inspiratif Bank Muamalat Indonesia

Assalamualaikum,
Bagaimana kabarnya teman-teman hari ini? semoga kita semua selalu terjaga dalam kebaikan dan keberkahan

Akhir-akhir ini di dunia maya semakin banyak akun yang masif melakukan dakwah untuk mengajak hijrah. Pun di layar televisi kita, mulai banyak terlihat artis yang mengenakan hijab, aktif melakukan dakwah, dll. Hingga fenomena ini memunculkan istilah baru yaitu "artis hijrah". Dengan adanya tren ini, rasanya mendengar kata hijrah sudah tidak seberat dulu. Sebelum ini, hijrah lebih identik dengan perpindahan tempat, seperti hijrahnya Rasulullah dari Mekah ke Madinah. Hal ini menarik dan mungkin mengundang pertanyaan dalam benak kita, jadi sekarang apa parameter seseorang dapat dikatakan sudah hijrah?

Seorang muslim adalah yang membuat orang-orang muslim lain selamatdari lisan dan tangannya. Adapun orang yang berhijrah (muhajirin) adalah orang hijrah meninggalkan larangan-larangan Allah. (HR Bukhari)
Jika merujuk pada hadits tersebut, maka pada dasarnya hijrah menurut islam adalah meninggalkan segala hal yang dilarang atau dibenci Allah SWT. Makna ini tentu dapat meluas jika kita korelasikan dengan turunan hal-hal yang dilarang Allah dalam kehidupan sehari-hari. Seperti hijrah pekerjaan, lingkungan, pergaulan, penampilan bahkan ada hijrah keuangan, dst.

Salah satu contoh yang menarik adalah hijrah keuangan, kampanye inspiratif ini diisiasi oleh Bank Muamalat Indonesia. Sebagai syariah pertama di Indonesia, melalui gerakan #ayohijrah Bank Muamalat mengkampanyekan untuk menjalani kehidupan sesuai tuntunan islam, khususnya pada sektor keuangan. Bank Muamalat mengajak masyarakat untuk mengelola dananya secara syariah sehingga tercapai kehidupan yang lebih baik dan berkah.

Sejalan dengan gerakan ayo hijrah ini, Bank Muamalat menyediakan berbagai layanan perbankan syariah untuk nasabah. Seperti tabungan hijrah, tabungan hijrah haji dan umroh, tabungan hijrah rencana, tabungan hijrah prima, deposito hijrah, dll. Semua pengelolaan dana didasarkan pada prinsip-prinsip syariah dan diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah. Selain itu, sejak didirikan tahun 1992 Bank Muamalat tidak pernah menginduk kepada bank lain, sehingga lebih terjaga kemurnian syariahnya.

Masalah pengelolaan keuangan bagi saya sangat rentan sekali, sehingga jangan sampai kita titipkan kepada pihak yang salah. Penting untuk memilih lembaga yang syariah, agar dana yang kita titipkan terjaga kehalalannya. Terlebih jika suatu saat ada kemungkinan tabungan itu kita gunakan untuk membeli sesuatu yang keperluan perut dan ibadah.

Tahun 2018, orang tua saya berangkat haji dan beliau mempercayakan pendaftarannya melalui bank Muamalat cabang Kediri. Sebelumnya Beliau sempat mencari informasi ke beberapa bank lain, tapi akhirnya pilihan tetap jatuh kepada bank yang jelas memegang prinsip-prinsip syariah. Alhamdulillah, mulai dari pendaftaran, mendapat nomor porsi, pelunasan hingga berangkat tidak ada masalah apapun.


Perjalanan hijrahku

Dulu saya juga gak terlalu ambil pusing masalah religi, selama kita beribadah wajib dan berbuat baik kepada sesama rasanya itu sudah cukup. Namun belakangan ketika saya mulai memperbaiki diri dan belajar agama lagi, mulai muncul keresahan dan kesadaran pemahaman saya salah.

Sejak 2013, saya kuliah dan kost di wilayah Depok. Awalnya semua terasa baik-baik saja, tapi seiring berjalan waktu kehidupan saya semakin tidak teratur dan sangat tidak nyaman. Puncaknya adalah ketika saya sudah tidak merasakan lagi ketenangan dan kedamaian ketika shalat dan membaca al Quran. Ketidaknyamanan ini semakin menjadi-jadi, sampai akhirnya saya memutuskan untuk langsung pulang sehari setelah wisuda.


Sesampainya di Kediri, saya tidak langsung menemukan apa yang saya cari. Hidayah itu datang lewat wasilah adik saya. Setelah ramadhan 2017 dia resmi menyandang status santri salah satu pesantren di Jawa Timur. Hal itu membuat saya jadi sangat sering berkunjung ke pesantren, dari mulai pulang pergi sampai pernah menginap sepuluh hari. Ketika masuk lingkungan pesantren mau tidak mau harus menyesuaikan diri, minimal penampilan.

Pada titik ini saya sudah membiasakan diri tidak lagi nongkrong malam hari, memuseumkan celana jeans yang dulu jadi andalan setiap hari, dan tidak menggunakan kerudung yang berbahan sangat tipis lagi. Setelah itu, Allah memberikan ilmu baru lagi mengenai riba. Entah darimana mulanya tapi saya menjadi sangat tertarik dengan topik ini. Sampai kemudian saya mulai belajar menerapkan dalam kehidupan.



Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan kebaikan hambaNya, meskipun hanya sebesar biji zarah. Masih banyak dosa dan khilaf yang saya lakukan, bahkan terkadang banyak kebenaran yang masih saya pertanyakan. Tapi Allah Maha Pemurah, tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan juga. Bahkan ketika kita baru niat saja, itu sudah dicatat sebagai satu kebaikan. Allah terus bukakan pintu kebaikan itu silih berganti.

Menjelang ramadhan 2018, saya memiliki rencana untuk ikut program pesantren kilat di pesantren yang sama dengan adik saya. Singkat cerita program tersebut berbayar dan tidak murah untuk saya yang belum berpenghasilan. Tapi ada keyakinan kuat. saya punya Allah Yang Maha Kaya. Saya meminta ke Allah sudah seperti anak-anak yang minta uang jajan ke orang tua. Sampai akhirnya hari terkahir pendaftaran dan uang saya tetap belum cukup untuk mendaftar.

Selepas shalat isya, masih dalam kondisi duduk di atas sajadah, saya menangis sejadi-jadinya. Niat dan tujuan saya baik, tapi kenapa Allah tidak mengizinkan?

Ternyata cerita belum selesai, Allah punya rencana lebih baik dari yang saya miliki. Masih di atas sajadah dengan air mata bercucuran, Allah gerakkan saya untuk mengambil HP dan membuka Instagram. Postingan pertama yang ada di beranda saya adalah postingan Ustadz Yusuf Mansur, poster santri ramadhan majelis Ar Raudhah pimpinan Habib Novel Alaydrus Solo. Tertulis sangat jelas di poster itu gratis 100% dan akhirnya detik itu juga saya daftar.

Alhamdulillah, akhirnya saya berangkat ke Solo. Padahal saya tidak tahu sama sekali siapa itu Habib Novel, tapi ada keyakinan luar biasa untuk berangkat. Selama menjadi santri di Ar Raudhah, hati saya yang dulu rasanya hampa mulai bergairah. Masalah selalu datang silih berganti, tapi hati terasa lebih tenang dalam menyikapi. Seringkali saya meneteskan air mata, sebab apa yang Habib katakan sangat mengena. Allah memang tidak memberikan apa yang saya inginkan, tapi Allah berikan apa yang saya butuhkan. Ketika saya tertatih-tatih dalam perjalanan hijrah ini, Allah langkahkan kaki saya kepada seorang guru yang pas untuk saya ikuti.

Mulai saat itu, inner circle saya sedikit berubah. Alhamdulillah, saya mulai mengenal ulama dan habaib, Allah ringkankan kaki saya untuk menghadiri majelis ilmu dan Allah berikan saya teman-teman yang senantiasa mengingatkan dalam kebaikan. Semakin banyak kita mengenal orang sholeh, maka semakin banyak pula ilmu yang bisa kita teladani.

Kalau Allah sudah memberikan satu kebaikan di hati kita, jangan sia-siakan begitu saja. Teruslah berlomba-lomba dalam kebaikan, semoga kita semua bukan golongan orang yang merugi. #ayohijrah

#AyoHijrah, #BankMuamalat, #MiladBankMuamalat








Share: