Monday, 15 October 2018

CABUT BERKAS KENDARAAN DI SAMSAT KEDIRI

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Tulisan kali ini saya ingin berbagi pengalaman saya mengurus pajak 5 tahunan kendaraan bermotor di SAMSAT KEDIRI. Ini pengalaman pertama saya dan ternyata gak serumit yang saya bayangkan. Saya sangat mengapresiasi perbaikan pelayanan yang sedang digadang-gadang pemerintah. Saya membuat sketsa sederhana, untuk memudahkan saya menceritakan alur pengurusannya. Pun saya tuliskan biaya yang harus dikeluarkan untuk masing-masing pos. Sebenarnya gak rumit, hanya saja memang kita harus berpindah-pindah dan ini yang sedikit memakan waktu.

Sebelum ke SAMSAT KOTA Kediri saya harus mencabut berkas ke SAMSAT KABUPATEN KEDIRI. Sebab, secara geografis tempat tinggal saya adalah kabupaten, namun ada kebijakan baru bahwa administrasi kendaraan bermotor beberapa wilayah kabupaten sekarang  di bawah SAMSAT Kota Kediri. Cabut berkas di Samsat sama sekali tidak rumit dan cepat, selama persyaratannya lengkap. 

Persyaratan cabut berkas: 
1. STNK ASLI 
2. BPKB ASLI
3. KTP asli sesuai nama pemilik STNK.


ALUR PENCABUTAN BERKAS


  •    FOTO COPY BERKAS
Begitu sampai di Samsat, silakan langsung menuju ke Foto Copy. Pelayanan disitu sudah langsung menggandakan dan menatakan dalam map sesuai persyaratan. Beliau juga memberi tahu saya harus kemana setelah foto copy.  Di sini saya cumacabut berkas jadi langsung diarahkan ke loket cabut berkas, kalau misalnya perpanjangan disitu maka langkah selanjutnya adalah cek fisik.

Biaya foto copy RP. 10.000
  

  •  LOKET MUTASI BERKAS
Setelah foto copy saya langsung menuju loket cabut berkas yang berada di sisi tengah Samsat Kab. Kediri (menghadap ke barat). Silakan kumpulkan berkasnya di situ dan kita harus menunggu sebentar karena petugas perlu mencarikan dulu berkasnya di gudang. Setelah berkas siap, nama pemilik STNK akan dipanggil sesuai urutan. Petugasnya juga memberita tahu untuk segera membawa berkas ini ke Samsat Kota Kediri.

Biaya: Gratis

Mungkin banyak diantara kita yang menanyakan, apakah mengurus pajak 5 tahunan bisa diwakilkan? itu kebijakan masing-masing daerah, kebetulan di Kediri bisa. Saat mengurus ini saya membawa STNK dan KTP atas nama ayah. Apakah perlu surat kuasa? tidak. Namun perlu menjadi catatan bahwa masing-masing daerah bisa memiliki kebijakan yang berbeda. Sempat juga waktu menunggu antrian ada yang bertanya, apa saya mengurus kendaraan atas nama sendiri. Beliau nampak heran ketika saya bilang bukan dan kondisi saya saat itu tinggal menunggu cetak STNK baru.


------------------------------------------- Bersambung ke Part 2 ---------------------------------------------------




Share:

Monday, 30 July 2018

Move up

Assalamualaikum warahmatulahi wabarakatuh

Apa kabar teman-teman? semoga Allah selalu menjaga kita semua dalam keadaan sebaik-baiknya. Saya bersyukur, pertengahan tahun ini, tepatnya juni kemarin Allah pilih saya untuk dijadikan pribadi yang lebih baik. Alhamdulillah, Allah kuatkan. Saya gak percaya itu terjadi, tapi saya jauh lebih gak percaya Allah izinkan saya bisa setegar ini. Hari ini tanggal 30 Juli, tepat satu bulan, saya dedikasikan tulisan ini untuk semua teman-teman yang mungkin sedang berjuang berdamai dengan keadaan. Semoga melalui tulisan ini kita bisa saling menguatkan, dengan seizin Allah. Masih banyak hal yang perlu kamu perjuangkan, semangatmu gak boleh redup. Kamu gak sendirian :)

Setiap orang yang berjuang pasti mengingingkan keberhasilan, pun orang yang menunggu pasti berharap pertemuan dan orang yang berkomitmen pasti mendambakan kesetiaan. Tapi, sayangnya realita tidak selalu sesuai dengan yang kita harapkan. Kepercayaan, kesetiaan dan segala hal yang dibangun susah payah dengan sangat perlahan berakhir dengan harus mengikhlaskan. Berat? Sangat manusiawi. Aku yakin tidak ada orang yang tidak sakit hati bila ada diposisi demikian. 

Mungkin hatimu masih terlampau sulit untuk mengerti kejadian ini. Tapi sekarang semua sudah terjadi dan orang yang kamu perjuangkan sudah mengambil keputusan. Sedih itu wajar, tapi jangan lama-lama sebab hidupmu harus tetap berjalan. Semakin lama kita bangkit, maka semakin lama pula kita berada dalam ketertinggalan. Bangun keinginan dalam diri untuk segera bangkit, sekalipun rasanya hati masih menjerit. Lakukan yang bisa kita lakukan, selebihnya biar Allah yang membereskan. Termasuk dia yang sudah membuatmu kecewa dan tak habis pikir karenanya, serahkan pada Allah yang maha Bijaksana. Tetaplah menjadi pribadi istimewa yang lisan dan hatinya terjaga, tidak mencela sekalipun hatimu begitu terluka.

Yakinilah sebenarnya Allah berikan ujian itu ke kamu (bukan ke yang lain) karena Allah tahu kalau kamu kuat menjalani. Kalau Allah saja percaya kamu kuat, masak iya kamu malah gak percaya pada diri sendiri?. Aku percaya kamu hebat, kamu kuat. Kalau ragamu masih berlum kuat untuk berdiri lagi, cobalah mulai dari hati dan pikiran. Tata lagi pelan-pelan, pasti Allah bukakan jalan dan insyaAllah segalanya akan jauh lebih indah dari yang kita bayangkan. 

Jangan putus asa, dengan atau tanpa dia kamu tetap akan bahagia. Yang hilang hanya satu orang, selebihnya masih sama. Tidak perlu menyalahkan siapapun atas apapun. Kalau hatimu masih terlalu berat untuk memafkan, maka ringankanlah dengan iman. Memaafkan bukan berarti membenarkan, apapun alasannya tidak ada penghinatan yang bisa dibenarkan. Tetapi bukan berarti itu bisa jadi pembenaran untuk membenci. Dia tidak sepenuhnya salah, pun kamu tidak sepenuhnya benar. Sebab kebenaran hakiki hanya milik Allah. Akan tidak bijak juga jika sebab kesalahannya ini menjadikan kita lupa akan kebaikannya yang dulu-dulu.

Teman-teman, yakinilah bahwa segala sesuatu terjadi dengan seizin Allah. Maka sebaik-baik tindakan adalah mengembalikan pada Allah. Masalah ini terjadi dengan seizin Allah, maka biar Allah pula yang memberi solusi. Gak mungkin Allah mencabut sesuatu dari kita, kecuali Allah gantikan dengan yang lebih baik lagi. Mungkin bagi kita dia terbaik saat ini, tapi sesungguhnya Allah Maha Mengetahui yang ghaib, termasuk masa depan dan isi hati. Kalau kita sandarkan semuanya pada Allah, apa yang berat akan terasa ringan. Allah itu Maha Melihat, jadi mustahil Allah gak lihat perjuangan kamu. Jika sekarang Allah tidak memberikan apa yang kamu perjuangkan, bukan berarti itu menjadi kesia-siaan. Makhluk bisa menyia-nyiakan kamu, tapi Allah tidak akan pernah menyiakan-nyiakan. Kamu berdoa minta yang terbaik kan? Allah kabulkan doamu dengan memalingkan dia darimu, sebab dia bukan yang terbaik untuk kamu.

Di saat seperti ini, yakinilah bahwa Allah sedang memberikan perhatian ekstra ke kamu. Ibarat anak sekolah, pengawasan itu lebih ketat ketika sedang ujian atau pelajaran hari biasa?. Makanya cobalah untuk bersabar sekalipun kamu berhak untuk marah, cobalah untuk tidak membenci sekalipun hatimu begitu tersakiti, cobalah untuk memaafkan meskipun air matamu masih tak tertahankan. Keikhlasanmu, kesabaranmu, dan keluasan hatimu semoga membawamu pada derajat yang lebih tinggi. Sehingga kamupun layak mendapatkan yang lebih istimewa menurut Allah. Banyaklah berdoa, mintalah apa saja, termasuk seseorang yang jauh lebih baik menurutNya. Mana tahu, Allah palingkan dia dari kamu sebab Allah ingin berikan ruang untuk yang jauh lebih baik. Sekarang semuanya balik ke diri kita, mau bergegas membuka lembaran baru atau masih mau terpuruk pada masa lalu.

Aku mengerti ini berat sekali, tapi sayang waktumu kalau hanya kamu habiskan untuk meratapi. Cobalah untuk sedikit saja membuka mata, di sampingmu ada orang tua dan keluarga yang begitu mengkhawatirkanmu. Kamu tidak sendiri, merekapun merasakan kesedihan dan kekecewaan yang kamu rasakan. Semakin lama kamu gak bangkit, semakin lama pula mereka ikut merasakan sakit. Yang pergi biarlah pergi, masih banyak hal yang bisa kamu syukuri. Tidak mengapa jika ini membuat mimpimu tercerai berai, semua masih bisa dirajut kembali. Kamu tidak sendiri, pun hidupmu masih sangat berarti. Tersenyumlah, kita sambut hari esok dengan harapan baru :) 



Share:

Sunday, 29 July 2018

Apa kabar?

Asslamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Sekian lama tidak posting dan sepertinya saya masih punya hutang untuk menyelesaikan cerita tentang pendaftaran Gontor. Sebenarnya tulisan itu sudah menjadi draft sejak lama, namun karena ada beberapa informasi yang masih perlu dilengkapi makanya belum saya posting sampai saat ini.

Apa kabar teman-teman semua? Semoga Allah senantiasa melindungi dan menjaga kita semua. Apa kabar ramadhan kita? Masihkah semangat itu berkobar sampai kini atau sudah hilang tergerus urusan duniawi yang tiada henti. Banyak sekali yang ingin saya tulis dan bagi ke teman-teman semua. Namun terkadang semuanya hanya berakhir di draft karena belum selesai sempurna. Semoga semua yang ada di draft bisa segera saya posting, bisa dibaca teman2 dan semoga ada manfaat yang bisa diambil.

Setelah ini saya akan menulis sesuatu, kejadian besar yang baru saja terjadi di hidup saya. Lewat tulisan itu, saya ingin menyemangati teman-teman yang mungkin pernah atau sedang mengalami hal yang sama. Semoga Allah luruskan niat saya sehingga apa yang saya sampaikan bisa sampai ke hati. Tunggu ya, insyaAllah segera dipublish. Barakallah 😊

Share:

Sunday, 15 April 2018

Perihal mengikhlaskan


Awalnya saya berpikir bahwa melepaskan dan mengikhlaskan itu adalah duel antara perasaan dan pikiran. Semakin besar kita mengedepankan perasaan, biasanya akan makin susah untuk melepaskan. Sehingga mungkin satu-satunya untuk berdamai dengan keadaan adalah memenangkan logika pikiran. Ternyata saya salah, bahkan salah besar. Berhari-hari bahkan lewat satu bulan rasanya kok masih berat hati. Tapi saya tahu dan yakin, bukan hanya saya yang mengalami ini. Ada hati lain yang juga berjuang keras menahan diri, dari apa? Dari hal yang tidak diridhoi Ilahi

Ridho Allah, itulah kata kunci yang membawa pada ketenangan hati. Perasaan mudah sekali berubah, kemarin seolah-olah sangat yakin tapi tiba-tiba muncul keraguan. Sebaiknya kita juga menghindari mengambil keputusan ketika emosi, sebab besar kemungkinan itu datangnya dari syaitan. Itulah sebabnya banyak yang akhirnya hanya mendapat penyesalan. Lalu mudah saja kita terjebak dalam ketidaktegasan, mudah datang dan pergi lagi tanpa pernah bisa konsisten.

Begitupun dengan logika, tidak semua hal bisa dipaksakan. Perasaan itu adalah fitrah, bersumber dari hati bukan dari pikiran. Ketika berusaha memenangkan logika, yang ada malah kita capek sendirian. Sebab pikiran berkata tidak tapi hati terus saja berkata ya, dominan perasaan. Bukan hal mudah pula untuk bisa melihat fakta dengan objektif ketika kita sudah terbawa perasaan. Yang buruk akan lenyap dengan pemakluman dan semua yang terlihat hanya kebaikan. Lalu, hal apa yang sekiranya kuat sehingga bisa mengalahkan perasaan? Pasti ini juga melelahkan, sebab justru kita berkonflik dengan diri sendiri, logika vs perasaan.

Alhamdulillah, akhirnya sekarang saya sudah mendapat ketenangan. Setelah proses yang cukup panjang, melalui doa serta nasehat para Gurunda dan inspirasi saya. Seharusnya saya bersyukur, sangat bersyukur sebab Allah gerakkan hati untuk mengambil keputusan yang bahkan saya sendiri juga gak mengerti kok bisa saya seberani itu. Tenyata itulah Allah yang sedang menjalankan rencanaNya, lewat cara ini mungkin Allah ingin menjaga kami berdua. Semakin kesini sayapun menyadari bahwa ada yang salah. Tidak boleh ada pembenaran apapun disini. Salah ya salah, kecil atau besar tetaplah salah. Sekarang saya (dan mungkin juga dia) benar-benar berusaha menahan, bukan karena kebencian tapi sebab Iman. Jika iman yang menjadi alasan, insyaAllah Allah juga yang akan memberi keteguhan pada sebaik-baik pilihan.  

Saya yakin, kita sama-sama memiliki tujuan yang mulia. Alangkah lebih mulia jika tujuan kita itu juga kita dapatkan dengan cara yang baik, dengan cara yang lebih Allah ridhoi. Mari kita sama-sama berbenah, supaya segalanya lebih berkah. Kita perbaiki semua yang salah biar lebih sesuai syariah.  Saya bersyukur, dengan seizin Allah kamu dan aku insyaAllah sama-sama mengerti akan hal itu. InsyaAllah tidak ada buruk sangka diantara kita, sebab kita sama-sama ridho dan sudah menyerahkan segalanya kepada Allah. Saya bersyukur sekali, merasa Allah begitu menyayangi kami. InsyaAllah lewat kejadian ini, kami menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi. Lebih sabar, lebih beriman, lebih banyak belajar, dst. Indah, sangat indah sekali ketika ada dua orang yang saling mengikhlaskan sebab mengerti ada iman yang harus dijaga melebihi perasaan. Cukup doa yang menghubungkan kita, pun lewat doa kita saling menjaga. Alhamdulillah ala kulli haal. 


Kotamu dan Kotaku

17 April 2018



Share:

Wednesday, 11 April 2018

Gontor dan pemimpin peradaban umat


Image source: A fourth year student of Unida
Teduh rasanya melihat foto ini, Unida (universitas Darussalam Gontor) yang berpadu dengan temaram jingga cahaya senja. Melihat foto ini bak semilir angin segar, tenang dan damai, mungkin begitu ibaratnya. Di tengah problema dunia yang serasa tiada hentinya, saya melihat seolah Gontor berdiri dengan gagah beraninya. Ditengah carut marutnya dunia dengan berbagai problematikanya, rasanya optimisme  saya kembali memenuhi rongga dada. Terlebih ketika misi "seribu Gontor untuk Indonesia" semakin menggaung dan mendunia.


Meskipun saya bukan Gontorian, tapi saya bisa merasakan spirit dan optimisme Tri murti, Kyai, Ustadz-Ustadzah, alumni dan seluruh santri Gontor. Dari mulai awal berdiri hingga kini, Gontor tetap teguh dengan nilai dan sistemnya sendiri. Tidak peduli siapa Presidennya, siapa Menteri Pendidikannya, pendidikan di Gontor tidak pernah ganti. Kedisiplinan harga mati yang harus dijunjung tinggi, tidak ada toleransi. Semua dituntut cepat beradaptasi, tidak ada langkah kecuali berlari. Bagi mereka yang tidak bersegera, akhirnya akan gugur sendiri.


Gontor, pesantren berdasi yang bertolak belakang dengan stigma pesantren yang identik dengan sarung dan peci. Nilai kepondok modernan Gontor tidak hanya mendidik santri untuk berwawasam islami, namun juga berakhlak dan berintelektual tinggi. Tidak ada ketergantungan di Gontor, semua berdiri diatas kakinya sendiri. Siap dipimpin dan memimpin, itu yang tertanam dalam diri santri. Saya senang sekali dengan karakter didikan Gontor dan menurut saya generasi dengan karakter seperti itulah yang siap bertahan di tengah gempuran hedonisme dan westernisasi. Gontor mengajarkan santri untuk selalu berjuang, hidup tidak takut mati. Ada darah perjuangan yang kental dalam diri mereka, sehingga telah terbentuk pula jiwa kepemimpinan sejati. Cekatan, punya inisiatif, berani ambil resiko, tangguh, tegas tapi mengayomi, punya semangat tinggi. Begitupun santri putri, jika biasanya identik dengan kalem dan lemah lembut, rasanya gontor sedikit berbeda dalam hal ini. Tapi itulah santri Gontor putri, ditempa dan dibesarkan untuk menjadi kader-kader pendamping pemimpin peradaban umat. Pemimpin itu juga jangan diartikan hanya jabatan struktural saja. 

Orang besar menurut Gontor itu adalah orang yang mau mengajarkan ilmunya dengan penuh keiklasan meski dia berada di tempat yang terpencil dan di balik gunung sekalipun!" -- KH Imam Zarkasyi


Dalam lubuk hati saya, ada harapan besar untuk menjadi bagian dari Pondok Modern Darussalam Gontor. Dengan seizin Allah, perlahan cita-cita itu mulai menemui jalannya menjadi realita. Allah dekatkan saya dengan Gontor, melalui orang-orang terdekat saya. 7 tahun silam saya bercita-cita untuk masuk Gontor dan sekarang Allah wujudkan itu melalui adik saya. Saya juga mohon kepada Allah, Semoga Allah menjadikan anak keturunan saya dan kita semua sebagai generasi islami dengan intelektual tinggi, yang siap menjadi pemimpin untuk mengawal peradaban umat. InsyaAllah, Aamiin Allahumma Aamiin.

Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a'yun waj'alna lil muttaqina imama

Share: