Friday, 22 April 2016

Jogja never ending story

Stasiun Tugu Yogyakarta
Source: http://jogjaholidays.com/

Sebenarnya saya bingung mau kasih judul apa, ya sudahlah ya itu aja. Haha. Pada postingan sebelumnya saya sudah cerita gimana perjuangannya ngejar kereta jam 6.45 dari lari2an Depok ke Senen. Saya juga sudah cerita kenapa harus ke Jogja lagi, jadi kali ini mau cerita tentang pas saya sudah di Jogjanya. :)

Well, saya sampai jogja sore hari dengan cuaca mendung-mendung manja. Jujur saya saat itu berdoa jangan hujan dulu, saya gak mau dong ke jogja cuma numpang pindah tempat tidur doang. Pasti itu menyedihkan. Alhamdulillah selama 2 hari disana gak hujan, cuma mendung itu aja. Saya lebih bersyukur lagi karena pas saya udah di Kediri ada berita Jogja hujan lebat. Planning saya saat itu, kalau hujan ya langsung naik taxi aja ke penginapan. Kalau aman, gak hujan, saya akan jalan-jalan ke malioboro yang saat itu baru saja resmi memindahkan parkir ke parkiran abu bakar ali. Sebenarnya saya juga pengen ke Tugu Jogja dulu, tapi saya bingung aja kayak tugu jogja dan malioboro itu bertolak belakang kalau dari stasiun. Jadi ya saya harus pilih salah satu demi efektivitas segala hal. haha. Alhamdulillah karena gak hujan jadi kita bisa ke malioboro dulu. Yeey.

Saya jalan dari tugu ke malioboro, ya itu gak jauh sih sebenarnya. Cuma karena pikiran saya kayak masih ketinggalan di kasur kostan, di lampu merah, di pasar senen, dimana-mana dan mau hujan juga jadi yaa sedikit ngos2an juga. Apalagi itu sepanjang pintu barat tugu dan jalan pasar kembang banyak banget yang nawarin becak. Saya harus jalan cepet antara takut hujan dan males ditanya2in tukang becak. Haha. Kondisi saya jalan sendirian saat itu, dengan dandanan dan tentengan yang saya rasa itu membuat saya kelihatan mencolok. Ada banyak hal ingin saya ceritakan, jadi kita sambung perbagian di posting selanjutnya ya. :)
Share:

Wednesday, 20 April 2016

Jogja istimewa



Minggu lalu saya ke Jogja, sejenak. Seperti biasanya hanya seperti singgah, membangkitkan kembali kenangan yang tak kunjung terlupakan. Biasanya saya sampai Jogja pagi, sebelum matahari meninggi. Tapi kemarin karena jumat ada jadwal ujian jadi saya baru berangkat sabtu pagi dan sampai sana sore. Mungkin ada yang bertanya kenapa harus ke Jogja lagi? Saya sebenarnya juga tidak tahu alasan pasti, tapi yang jelas ada sisi emosional yang membuat Jogja memiliki ruang di pikiran (mungkin juga hati). Bukan karena ada siapa dan ada apa, tidak. Tapi saya suka Jogjanya itu sendiri, terutama suasana dan budayanya.

Saya tipe orang yang mendefinisikan kedamaian adalah ketenangan, artinya saya butuh ruang yang memang sangat tenang untuk mendapatkan kedamaian itu, Bagiku Jogja punya itu, saya bisa berjalan di sepanjang malioboro tanpa terganggu dengan cat calling (Istilah pelecehan secara verbal di jalan; digodain atau disuitin).  Selain itu Jogja bisa mengakomodir kebutuhan saya, budaya Jogja berpadu antara budaya modern dengan tradisional. Saya seneng aja ketika saya berjalan di Jogja, mereka sadar bahwa mereka tinggal di daerah wisata dan yang mereka hadapi turis. Istilahnya sebagai tuan rumah mereka seperti meyambut dengan senang hati. Ini yang saya cari, saya coba untuk tahu lebih banyak tentang Jogja lewat mereka.


Semakin kesini saya semakin jatuh cinta dengan Jogja, bagaimana saya menemukan kenyamanan ketika berada di Jogja. Memang saya belum mengenal Jogja sepenuhnya, tapi saya yakin Jogja masih istimewa sebagaimana lagu itu. Saya baru mulai untuk mengenal sosial budayanya, belum politik dan isu-isu lainnya. Karena saya tidak mungkin juga ngobrol soal kebijakan dengan ibu-ibu dipasar, tukang becak atau pedagang-pedagang di Malioboro kan? ;). Kalau ada kesempatan dan menemukan orang yang tepat pasti saya ngobrol lebih banyak soal itu semua.

Oh ya, saya juga asli orang jawa, lahir dan besar di Jawa. Hanya untuk kuliah ini saja pindah ke Depok. Mungkin ada yang berpikir, "Asli orang Jawa tapi lihat Jogja kok segitu tertariknya. Beda kalau misal orang Jakarta terus baru ke Jogja, itu wajar". Ya seperti yang saya bilang, saya senang dengan budaya Jogja dimana tradisional dan modern bisa melebur. Satu sisi saya suka banget dengan budaya orang desa yang guyub, kolektivis, ramah, dll. Tapi satu sisi saya hidup di jaman dimana slogan, "Mangan ra mangan sing penting kumpul" sudah tidak berlaku. Saya harus mengikuti perkembangan zaman untuk menjadi professional. Jogja aksesnya cukup mudah bisa ditempuh semua jalur, banyak institusi pendidikan sampai level tinggi, industrinya cukup berkembang banyak hotel-hotel internasional group ada disana, selain itu punya banyak tempat wisata ya saya gak pengen aja anak-anak saya kurang piknik. haha. Beda kalau di Kediri, aksesnya hanya bisa jalur darat, belum banyak industri/perusahaan skala besar, jauh banget sama tempat wisata kalau mau harus ke luar Kota. Kayak orang tua saya libur kerja pas hari minggu aja, jadi kebanyakan waktu libur ya untuk istirahat daripada pergi-pergi. Ya saya bayangin sebagai profesional saya juga tidak akan punya banyak waktu untuk keluarga, tapi disisi lain bagaimanapun quality time dengan keluarga itu penting. Makanya kalau di Jogja banyak pilihan, tidak melulu harus ke mall. Kita bisa sabtu malam sekedar makan malam bersama di cafe atau resto yang banyak sekali pilihannya disana. Mungkin juga bisa sekedar menghabiskan weekend kita ke pantai yang jaraknya mungkin tidak sejauh rumah saya ke Trenggalek. Tidak perlu mahal, yang penting kita menikmati kebersamaan dan nyaman. Kita bisa saling berbagi banyak cerita membayar semua waktu yang tersita untuk kerja. Lagipula Kediri Jogja itu kan gak jauh, kita bisa naik kereta yang hanya 3 jam.
 



Share:

Sunday, 17 April 2016

Bagaimana pendapatmu tentang sosial media? (2)

Pada bagian ke dua ini, saya ingin berbagi cerita mengenai kasus atau mungkin fenomena yang menarik bagi saya. (Part 1 , klik untuk melihat posting bagian 1). Kapasitas saya hanya sharing pengalaman dan pengamatan, bukan bicara level konsep, emangnya saya siapa? :) . Semoga tulisan ini sangat ringan dibaca, bisa disantap layaknya cemilan. Tidak bermaksud menggurui dan sok benar, tapi kembali lagi saya ingin mengajak introspeksi diri (menilai kedalam diri sendiri), apakah sudah bijak kita dalam menggunakan sosial media.

Sosial media itu menurut saya bebas berbatas, seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, anda tidak perlu menjadi ahli untuk menulis di sosial media. Siapapun boleh menulis apapun, tapi ada batasannya. Apa batasannya?

- Privasi anda sendiri
  Anda bebas mau cerita, bagi infomasi, pamer, mengeluh, bahkan nagih utangpun juga silakan. Belum pernah kan pas anda mau posting, terus ada tulisannya "maaf dilarang nagih hutang di facebook". Haha. Poin ini yang orang sering lupa karena mereka pikir sosial media bisa membantu mereka berekspresi. Orang tidak mau kalau orang lain ikut campur masalah rumah tangganya, begitupun orang tidak ingin aibnya tersebar. Celakanya justru yang menyebarkan itu, bukan hanya ke satu dua orang geng gosipnya, tapi ke semua orang. Bahkan ke orang yang sebenarnya gak kenal dan gak peduli soal itu. Misalnya, bikin status "Duh tanggal tua, mana si Abang gak kerja-kerja". Kira-kira apa yang terjadi? Apakah lantas teman-teman facebook anda memberi anda uang? Ya itu bisa saja terjadi, tapi saya pikir jarang sekali. Jelas yang pasti terjadi adalah orang jadi tahu kalau hidup anda susah, ekonomi keluarga anda buruk, hidup anda pas-pasan bahkan kekurangan, dan anda gak punya simpanan. Fatalnya lagi, orang jadi tahu kalau suami anda kerjanya serabutan, kerja musiman,  penghasilannya belum cukup memenuhi kebutuhan. Padahal bukannya kewajiban Istri harus menjaga aib suaminya ya?

Kalau di dunia nyata, yang tahu kondisi anda mungkin hanya tetangga atau orang-orang terdekat. Tapi dengan keluhan anda yang sangat sembrono di facebook itu, semua orang jadi tahu, Teman lama dan saudara-saudara anda yang tinggal beda kota bahkan beda pulaupun jadi tahu. Bagus kalau mereka masih punya rasa kasihan, kalau justru ditertawakan bagaimana? Jatuh harga diri anda di depan mereka.

- Kejujuran
Bukan hanya hubungan di dunia nyata saja yang butuh kejujuran, di sosial media juga. Hubungan apapun pondasinya tetap kejujuran. Lagi-lagi memang sosial media itu bebas, Anda bebas mengatur diri anda agar terlihat seperti apa. Misalnya saya nulis sekolah di Universitas Indonesia, emangnya facebook bakal ngecek apa saya beneran sekolah? Pasti enggak kan. Sebebas itu di sosial media karena memang tidak ada yang menjamin kebenarannya. Tapi ya tolong dong yang masuk akal, jangan mengira seolah-olah teman-teman anda di sosial itu semuanya gaptek. Misal update status, "Sebentar di Holland, sebentar di Itali, sebentar di Paris, sebentara di Jerman". Ya kalau yang bikin status Syahrini sih tidak masalah, tapi misalnya kalau yang bikin status itu saya? Pasti aneh kan, kayak orang jadi males temenan sama saya. Misal contoh lainnya, biasa sehari-hari kemana-mana juga naik motor, tiba-tiba update foto buka pintu mobil Ferrari, kira-kira apa yang terjadi? Bukannya terkesima, tapi orang malah akan mencibir anda. Mereka akan mempertanyakan, kayak apa yang anda tunjukkan di sosial media terlalu jauh dari kenyataan.  Apa dampaknya? Ya jelas orang gak percaya lagi sama anda.

Oke, mungkin anda membantah bahwa itu terjadi kalau orang lain tahu keadaan kita di dunia nyata. Lalu kalau enggak bagaimana? Jangan lupa, sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Cepat atau lambat kebohongan itu akan terbongkar juga. Apalagi kalau anda pengguna internet aktif, wah data anda berceceran dimana-mana. Lalu tinggal ditelusuri, lihat aja apakah informasinya konsisten. Kalau tidak sinkron, ya jelas itu sandiwara. Ya kalau anda punya naluri detektif saya yakin pasti bisa, tapi memang butuh perjuangan dan waktu. Misalnya begini, saya kenalan dengan orang katakanlah dia ngakunya polisi. Tinggal lihat saja, apakah ada foto-fotonya selama bertugas? apakah informasi yang dia bagikan mencerminkan seorang anggota POLRI? apakah teman-teman facebooknya kebanyakan juga anggota POLRI? Memang ada yang susah sekali dibuktikan karena dia menyadari untuk mengatur sedemikian rupa sehingga nampak benar. Tapi pasti ada celah, kalau di penelitian kita istilahnya reliabilitas jadi kita lihat kehandalannya, maaf saya harus menggunakan istilah itu. Mengukur reliabilitas itu artinya di tes berulang kali dengan berbagai macam cara hasilnya tetap sama. Jadi begini, misalnya:

  • Pertama, sekarang dan bulan depan kita menanyakan pertanyaan yang sama, apakah jawabannya tetap sama. 
  • Kedua, kita bandingkan antara cerita dia dengan apa yang dia bagikan di sosial media.
  • Ketiga,  apakah informasi yang dia sampaikan benar sesuai informasi resmi atau yang umumnya orang tahu. 
  • Keempat, Mungkin bisa juga cek dengan informasi yang ada sosial media teman-teman terdekatnya. 
Perlu diperhatikan, disini teman-teman jangan bantah dulu, tampung aja semua, biarkan dia berlaga dengan sandiwaranya. Baru kemudian kalau informasinya sudah banyak ya dianalisis apakah konsisten atau tidak. Melihat konsistensi di sosial media juga tidak susah, anda tinggal telusuri kronologi timelinenya.

- Hak Orang Lain
Lagi-lagi anda boleh menulis apa saja di facebook, mau ngomongin tetangga, mau mencaci maki pemerintah, mau komentar soal pertandingan bola semalam juga boleh. Tapi hati-hati, ingat prinsip bebas terbatas, apalagi negara kita negara hukum. Jangan sampai anda dituntut gara-gara status anda mencemarkan nama baik orang atau mungkin sederhananya sosial media anda di blokir karena tidak sesuai dengan aturan dari pengembang. Misalnya, itu terkait isu hak cipta atau hal-hal yang bisa menimbulkan pro kontra. Contohnya beberapa waktu lalu facebook penulis Tere Liye sempat dibekukan facebook karena ia mengkritik LGBT atau juga misalnya foto anda di Instragram mengandung unsur pornografi juga langsung di hapus oleh instagram. Apalagi sekarang ada fitur laporkan, kalau yang melaporkan banyak tentu itu bisa ditindak lanjuti.



Share:

Bagaimana pendapatmu tentang sosial media?


Belakangan sosial media menjadi sangat menarik bagi saya. Bukan karena saya pengguna baru, tapi ada hal yang menarik diamati, tentang bagaimana orang menggunakan sosial medianya. Saya tidak tahu bagaimana menulisnya supaya sistematis dan mengalir, tapi semoga teman-teman tetap bisa memahami apa yang saya tuliskan.

Well, pertama saya ingin mengajak teman-teman instropeksi diri, sudah bijakkah kita menggunakan sosial media? Saya tidak menyangkal karena saya juga merasakan bagaimana sosial media membantu saya terhubung dengan banyak orang. Tapi kita juga gak bisa menutup mata dari kejadian-kejadian karena kecerobohan orang menggunakan sosial media. Misalnya, kasus Sonya Depari yang dibully habis-habisan di pemberitaan dan sosial media; Kasus anak muda yang menghina Jokowi di soal media beberapa waktu lalu hingga di penjara; kasus Haters  Chika Jessika yang sampai dikejar habis-habisan oleh Dedy Corbuzer; atau mungkin teman-teman sering lihat berita Selebriti, bagaimana hanya dari Sosial media bisa menjadi headline pemberitaan. Misalnya video Marshanda, Status Aurel Hermansyah, dll. 

Saya sepakat sosial media itu sangat berguna, tidak hanya untuk konteks relasi tapi juga materi. Sekarang pemasaran tidak melulu harus beli kolom di koran, beli slot iklan di TV yang harganya berjuta-juta, atau menyebar selebaran yang hanya berakhir di tong sampah. Jangankan barang, bahkan artis dan politisi sekalipun bisa dipasarkan dengan sosial media. Contohnya, masih ingat dengan briptu Norman? Shinta Jojo? atau mungkin politisi Haji Lulung yang mendadak terkenal karena Meme di sosial media, ya meskipun ini konteksnya merugikan tapi kan jadi dikenal orang. 

Sosial media tidak sepenuhnya buruk tapi juga tidak sepenuhnya baik, lalu siapa yang mengontrolnya? Ya kita sendiri sebagai pengguna. Memang karakter sosial media sebebas itu. Tidak peduli apa jabatan anda dan kapasitas anda, silakan menulis status dan komentar tentang apapun yang anda katakan. Facebook, twitter atau apapun sejauh ini kan tidak bisa mencegah anda. Kecuali, kalau status anda tidak etis atau menyinggung pihak lain dan dilaporkan ke sistemnya. Tentu beda dong  dengan kalau anda ingin media konvensional TV atau koran. Tapi karena kebebasan ini yang membuat mereka terbuai dan lalai dengan sosial media. Pasti tapi perlahan, sosial media bisa menjadi bumerang bagi mereka yang lalai. 

(Bersambung, part 2

Share:

Monday, 11 April 2016

pelajaran pertama, semua butuh perjuangan.

Halo, apa kabar?
Saya baru saja melakukan perjalanan singkat ke Jogja, singkat teramat singkat. haha. Menurut saya setiap momen itu menarik, jadi saya ceritakan perbagian supaya lebih spesifik dan tidak terlalu panjang.
Sebenanrya kereta ke Jogja itu banyak, banyak kelasnya, banyak harganya, banyak jam keberangkatannya pula. Menurut saya sebenanrya perjalanan paling ideal kalau kita jalan dari jakarta adalah naik kereta malam, lalu sampai jogja pagi sekitar jam 7. Lumayan, bisa hemat biaya penginapan semalam. Apalagi bagi saya yang sebenarnya ke Jogja hanya singgah, jadi kalau kayak gitu saya gak perlu booking penginapan. Tapi karena tiket jumat malam sudah habis, akhirnya saya beli Gajah wong jam 6.45 dari senen dan jam 14.55 sampai stasiun tugu Yogyakarta.

well, ya kebayang dong bagaimana perjuangannya jalan dari Depok ngejar kereta jam 6.45. Saya keluar kosan sekitar jam 5.15, itu bener-bener masih gelap. Saya takut juga jalan sendirian ke stasiun, akhirnya saya naik Grab bike. Ya karena itu deket, saya gak sempet ngobrol banyak sama abangnya. Dari stasiun Pocin pas itu masuk kereta tujuan jatinegara, jadi ya udah saya naik itu aja daripada nunggu yang kota lama. Harusnya saya turun di stasiun transit manggarai, tapi karena nanti takut ribet ya udah saya turun Tebet dimana jalannya keluar stasiun cuma satu. haha. Sampai situ sekitr jm 6.05, dan saya pikir saya masih punya waktu banyak. huhu. Saya harus sambung dengan yang lain, setelah check&recheck beberapa saat, akhirnya saya putuskan order uber. Dengan asumsi bisa hemat juga karena bisa pakai promo free 100k.

Uber. Abangnya nelpon saya kalau tidak bisa masuk ke depan stasiun. Saya disuruh nyebrang ke arah kampung melayu. OMG bahkan saya gak tau daerah situ. haha. Ya saya satpam terus akhirnya saya jalan dan memang ubernya sudah disitu dengan unit All New Avanza hitam. Seharusnya Tebet-Senen gak jauh-jauh banget, tapi sopirnya jalannya selow banget jadi saya terpaksa ngomong kalau saya agak buru-buru. Dia agak kenceng jadinya, tapi lebih gesit supir grab car yang bisa nganter saya jatinegara-Depok cuma 20 menit. haha. Ya memang background mereka beda, jam terbangnya beda. Bapak driver uber dulunya karyawan Astra dan full time uber 3 bulan belakangan. Kalau bapak grab car dulunya supir blue bird, jadi yaaa dia udah tau medan dan emang biasa nyupir kan ya. well kita balik lagi, saya gak berpikir kalau Tebet-Senen harus ngelewati lampu merah yang banyak dan itu berasa cukup lama juga kalau pas kita diburu waktu. huhu. Dengan restu Allah dan perjuangan bapak Uber akhrinya saya sampai di stasiun pasar senen jam 6.38. Saya langsung lari-larian ke pintu masuk dan sudah tidak ada antrian, makin panik. Si petugas loketnya dengan santai bilang, "tenang mbak nafas dulu kereta aja belum datang kok." Alhamdulillah. Pas saya bener-bener baru masuk peron ada pengumuman kereta akan segera masuk di jalur 3. Sejauh ini saya bersyukur banget. :D

Kereta Api Gajah Wong PSE-YK. Di dalem kereta, saya duduk sama mbak-mbak dan ibu-ibu. Kita gak terlalu banyak ngobrol, entahlah biasanya saya tertarik banget ngobrol sama stranger on the train. Karena pikiran saya mungkin sebagian masih ketinggalan di kasur kosan, di stasiun pocin dan sisanya berceceran di lampu merah dari Tebet - Senen. haha. Tapi ada cerita yang kemudian membuat saya sangat bersyukur, ternyata mbak-mbak depan saya dia sedan prepare buat masuk kuliah. Sebenarnya dia sama kayak saya angkatan 2013 tapi karena dia sedang memperjuangkan masuk POLRI dan ternyata belum direstui Tuhan ya akhirnya dia baru mau masuk kuliah sekarang. Dia daftar di FKG (kedokteran gigi) di UMY. Biaya yang dia keluarkan di awal ini banyak sekali, bahkan itu jumlahnya lebih dari 8x biaya kuliah saya sampe lulus. hoho. Ya memang tidak bisa disamakan antara negeri dan swasta. Tapi poinnya saya harus bersyukur, masuk kuliah dengan diberi kemudahan Allah dan biayanya juga masih sangat rasional.

Well, lama perjalanan yang harus saya tempuh dengan kereta ini sekitar 8 jam. Ini pertama kalinya saya naik kereta pagi karena biasanya kereta jarak jauh emang jalannya malam. Awalnya yang ACnya dingin banget, ya ampun lama-lama panas banget. Sampai saya gak tenang, mau tidur panas, mau gak tidur perjalanan masih panjang. Saya kesel juga sama HP saya, dicharge nambahnya lama banget tapi habisnya cepet banget. huft. Dengan segala keluh kesah itu, akhirnya jam 14.55 saya sampai stasiun tugu Yogyakarta. Yeeey, holiday start here.
Share: