Showing posts with label campus. Show all posts
Showing posts with label campus. Show all posts

Wednesday, 1 February 2017

SKRIPSI, done! (Tips)

Pada postingan sebelumnya mengenai skripsi, saya sempat mengatakan untuk memberikan tips. Jadi pada tulisan ini, khusus akan saya bahas mengenai 2 tips yang saya janjikan itu. Tips ini versi saya, jadi belum tentu bisa berlaku untuk semua ya :)

TIPS MENGERJAKAN SKRIPSI DENGAN CEPAT

  • Semua dimulai dari niat dan tujuan kita di awal, ini yang harus kita rumuskan di awal. Sebab kalau tidak, skripsi itu sangat melenakan. Kalau niatnya sudah bulat, setidaknya akan lebih terjaga. Kalau mau selesai dalam 1 semester ya selalu tanamkan, satu semester satu semester. 
  • Be realistis! ingin berkontribusi dengan meneliti sesuatu yang belum pernah ada itu boleh-boleh saja. Tapi sebaiknya pertimbangkan perjalanan ke depannya, apakah ada akses ke sumber data dan sejauh apa data itu bisa kita peroleh. Saran saya, pilih topik yang sederhana yang sesuai dengan minat dan kapasitas kita saja. Mengangkat masalah mikro tapi dengan data yang mumpuni dan analisa tajam tentu akan menjadi karya yang sangat menarik. 
  • Pilih topik yang kira-kira bisa diteliti dengan metode yang lebih kamu sukai. Metode kuantitatif dan kualitatif itu sangat berbeda, masing-masing tentu punya tantangan sendiri. Kalau kamu suka kebebasan berpikir dan tantangan ya pilih kuali, Kalau suka membuktikan dengan perhitungan angka, ya pilih kuantitatif. Bagi saya pribadi kuantitatif lebih cocok untuk saya, sebab adanya perhitungan angka membuat penelitian saya hasilnya lebih pasti, bukan sebatas asumsi yang masih bisa di debat sana-sini. Secara pengumpulan data juga lebih mudah, karena saya bisa pakai kuesioner online. Pengolahannya dibantu aplikasi SPSS jadi tugas peneliti menjelaskan angka itu dengan fakta dan teori. 
  • Pilih topik yang sudah pernah diteliti, namun lihat dari sudut pandang berbeda. Ini agak tricky sebenarnya, tapi dari pengalaman saya cukup membantu. Skripsi saya tentang media dan reputasi, tentu sudah ada yang membahas yang bisa jadi referensi. Tapi harus ada pembaruan yang membedakan penelitian kita dengan sebelumnya, pembaruan itu misalnya ya dari objeknya, sudut pandangnya atau dari studi kasusnya. 
  • Keep Contact! kontak dengan dosen pembimbing dan dengan skripsi kamu sendiri. Kalau tidak bertemu setidaknya kirim email atau apa yang intinya mengabarkan kalau kita terus berjalan dan berprogres. jangan sampai, kita datang pas sudah mau deadline. Karena bagaimanapu kita juga butuh arahan dan persetujuan dosen. Kemudian, selalu usahakan juga membuka skripsi kalau bisa setiap hari, walaupun cuma nambah satu paragraf, edit halaman, bahkan benerin typo sekalipun. Ini akan menjaga kita agar tidak menunda-nunda, karena sekali menunda bisa tau-tau sudah mau deadline.  
  • Rajin-rajin kontak dengan teman yang lagi skripsi juga, biar bisa saling mengingatkan, menguatkan dan mendoakan. haha. 

TIPS MENGOLAH DATA PAKAI SPSS DENGAN CEPAT
  • Langkah pertama, lihat-lihat aja dulu spss itu ada apa. Browsing-browsing dulu cara input di spss. 
  • Kalau sudah tulis variabel view, selanjutnya tinggal input data. Nah kalau mau cepat, kita tulis datanya dulu di excel rubah jadi angka semua, lalu tinggal paste ke spss. Kalau pakai kuesioner online akan lebih cepat lagi, karena sudah ada rekapnya, tinggal kita rubah jadi angka dengan rumus IF di excel. 
  • Kalau sudah selesai input, segera tampilkan output pengujian yang dibutuhkan. Rajin-rajin browsing cara pengujian dengan spss, karena biasanya suka beda cara. Kalau bisa pahami betul kenapa harus menggunakan cara itu dan rujukannya siapa. 
  • Pada spss itu hanya alat yang hanya mengikuti instruksi kita. SPSS akan selalu menampilkan mau benar atau salah pengujian kita, jadi tugas kita adalah memastikan bahwa pengujian yang kita lakukan sudah benar dan bisa diterima secara metode. Misalnya tidak semua penelitian bisa di regresi secara metode, namun spss tugasnya hanya menghitung kan, jadi kalaupun kita klik regresi juga tetap bisa keluar hasilnya. 
  • Cukup uji dan baca yang kita butuhkan, fokus saja. Bagaimana cara membacanya? rajin-rajin browsing dan baca buku.
Share:

Monday, 30 January 2017

SKRIPSI, done! (Part 3)

Setelah part 2 membahas mengenai prosesnya, sekarang kita bahas pengumpulan SKRIPSI di UI ya :)
  • Apa saja yang dikumpulkan?
Pada deadline pengumpulan tugas akhir siap uji kita mengumpulkan 4 bendel hard copy karya akhir. Nantinya itu akan digunakan untuk keperluan sidang dan pada akhirnya dikembalikan lagi ke kita. Belum hard cover, jadi jilid biasa aja. Print juga biasa aja, gak usah bagus-bagus dulu.
  • Skripsi yang dikumpulkan bentuknya gimana? 
Sebenarnya saya tidak menemukan aturan mengenai pengumpulan skripsi siap uji di UI, jadi mungkin sebenarnya belum ada aturan detail formatnya. Tapi kalau saya kemarin sudah benar-benar lengkap mulai dari sampul, judul, kata pengantar, sampai lampiran. Format segala macamnya juga sudah saya sesuaikan dengan SK Rektor UI tahun 2008 mengenai tugas akhir. Sengaja seperti itu, nanti ketika revisi habis sidang biar gak pusing format lagi. Tapi sebenarnya tidak ada ketentuan seperti itu, boleh juga format disesuaikan belakangan.
  • Sidangnya bagaimana? 
Sidang ya begitu, serem-serem seneng. Setiap orang akan memaknai dengan berbeda, tapi karena saya orangnya positive thinking jadi saya sih bersyukur, alhamdulilah lancar semuanya. Baik-baik saja semuanya, Alhamdulillah Allah permudah dan lancarkan semuanya. Tim sidangnya juga baik, terimakasih mbak Hendri (ketua sidang), Mbak Vida Parady (penguji), dan Mas Teguh (dosen pembimbing).

  • Kalau di UI, skripsi yang dikumpulkan formatnya apa saja, kemana dan jumlahnya berapa?
Formatnya ada 2, yakni hard copy dan soft copy. Kemana dan berapa?
1. Ke Sekre Kom UI: 1 buah soft copy dalam bentuk CD 
2. Ke MBRC : 1 buah soft copy dalam bentuk CD dan 1 buah Hard copy
3. Ke Perpusat: Soft copy upload UIANA dan 1 buah hard copy. Di UIANA kita juga harus menyertakan naskah ringkas. Ketentuannya lengkapnya ada di prosedur pengumpulan dan pengunggahan dari perpusat ya. 
*Jangan lupa CD harus ditempel sticker berisi judul, nama dan ttd dosen pembimbing dan dimasukkan dalam mika ya. Ini ada aturan detailnya juga, nanti bisa dibaca sendiri ya di SK Rektor atau prosedur pengumpulan aku agak lupa. 
  • Proses atau alur pengumpulannya bagaimana? 
Jadi setelah sidang, kita juga harus siapkan beberapa berkas yang dikumpulkan bareng pengumpulan skripsi hard cover. Selengkapnya bisa dilihat di PSDK.UI.AC.ID aja itu sudah lumayan jelas. Mungkin yang perlu saya share justru alur pengumpulannya bair gak pada bingung, jadi pas ngumpulin tinggal naruh-naruh dan beres. hehe.
1. Pada deadline pengumpulan, kita harus mengumpulkan ke sekre kom dan MBRC. Perpus bisa belakangan, gak harus hari itu. Jadi yang harus dipersiapkan, berkas-berkas, 2 CD dan 1 hard cover. 
2. Pertama ke sekre kom dulu, menyerahkan semua berkas dan 1 buah CD. Kalau sudah lengkap berkas kita, maka sekre akan memberi cap dan tanda tangani form penerimaan. 
3. Lalu, ke MBRC bawa tugas akhir (CD dan Hard cover) serta form penerimaan dari sekre tadi. Sebaiknya sambil jalan bisa langsung foto copy form itu sebanyak 3x supaya gak bolak-balik pas sampai mbrc. 
4. Di MBRC pertama di cek dulu kelengkapan karya dan formnya. Kalau formnya belum di foto copy ya suruh foto copy dulu. Kalau sudah bisa langsung ke pengecekan CD. Jadi satu persatu petugas akan memastikan isi CD, jadi kita harus buka dulu  di komputer-komputer mbrc dan dicek oleh petugasnya. Kalau sudah akan ditanda tangani oleh petugasnya. Selanjutnya, kita diarahkan naik ke lantai 3 untuk mengumpulkan CD dan hard copy itu. Disini semua form yang kita bawa tadi akan dicap dan ditanda tangani petugas, 1 Form ditinggal, 1 untuk di serahkan ke jurusan dan 1 untuk arsip kita. Jika membawa sumbangan buku, sila serahkan di lantai satu tempat pengecekan kelengkapan tadi. 
5. Balik lagi ke sekre kom, jadi form penyerahan yang sudah di tanda tangani oleh petugas sekre kom dan MBRC harus diserahkan lagi ke sekre sebagai syarat kelengkapan berkas pengajuan ijazah. 
6. Berkas lengkap dan selesai :) 

  • Pengumpulan Skripsi ke Perpusat UI
Setelah beres dengan jurusan dan fakultas, kita juga harus mengumpulkan ke Perpusat UI. Jadi sebelum kita menyerahkan hard copy, harus terlebih dahulu upload ke UIANA. Jadi kurang lebih alurnya adalah upload > nunggu verifikasi > status sudah diterima > mengumpulkan hard cover ke perpus > di cek pengunggahannya > kalau oke, dikasih form (manual) bukti penyerahan tugas akhir. Form tersebut tidak perlu diserahkan ke program tapi harus kita simpan untuk nanti ambil ijazah.

  • Cetak hard cover skripsi dan buat CD dimana? 
Sebenarnya tempat cetak hard cover di dekat UI Depok banyak karena bisa dimana-mana, harganya juga relatif hampir sama. Misalnya, di foto copy yang deket kantor pos FISIP UI (25 ribu), di barel (sekitar 25-30 ribu), dan digital printing sepanjang jalan margonda (30-35 ribu). Harga itu hanya hard covernya ya, belum print isinya. Kalau saya kemarin print dan cetak hard cover di Burring. Harganya 35 ribu dan jadi dalam waktu 3 jam. Kalau harga sih standard, tapi waktunya ini lumayan cepat. Hard cover itu beda dengan jilid biasa yang bisa ditunggu, karena katanya kalau hard cover makan waktu harus nunggu lemnya kering dulu. Ada yang butuh waktu sehari, bahkan sampai 3 hari. Jadi 3 jam itu sudah lumayan cepat. Kalau untuk CD saya beli CD RW dan bikin stickernya di barel dengan harga satuan 15 ribu. Abangnya udah ngerti sih format stikernya harus mencantumkan apa dan bentuknya bagaimana.

  • Habis berapa cetak skripsi? 
Sebelumnya perlu saya informasikan bahwa skripsi saya dari halaman sampul sampai lampiran hanya 99 halaman, halaman yang cetak berwarna tidak lebih dari 10 seingat saya karena hanya screen shot twitter, diagram dan histogram saja. Sedangkan lampiran hanya kuesioner 4 halaman. Pada waktu pengumpulan skripsi siap uji, saya cetak di barel (yang jual pulsa, dekat pan cake durian), untuk 4 bendel skripsi saya habis sekitar 120 ribu. Sedangkan untuk cetak 3 hard cover, di buring, kira-kira saya habis 250 ribuan. Kok murah? ya 3 hard cover 105 ribu, sisanya untuk 99 halaman x 3 itu. Jangan lupa print bolak balik dan biar murah tidak semuanya dicetak digital, yang hitam putih di cetak di mesin foto copy sama mereka. Harganya print warna 2.800 perlembar dan 200 sekian untuk hitam putih. Penting banget, jangan lupa bilang ke operatornya cetak bolak-balik dan dikasih pembatas. Karena saya sempat ada insiden lupa bilang kalau dikasih akan pembatas, jadi operatornya gak atur dulu, nah pas mau disisipin pembatas malah gak pas karena awal bab ada yang dibalik halaman bab sebelumnya. Jadi ada beberapa halaman yang harus di print ulang, untungnya tidak ada halaman warna yang kena. :D


Share:

Sunday, 29 January 2017

SKRIPSI, done! (Part 2)


  • Gimana proses pengerjaan skripsinya?
Alhamdulillah ya, saya baik-baik saja. Tidak berdarah-darah pun tidak ada luka batin atau fisik. Skripsi itu melenakan, kayak gak ada kerjaan tapi sebenarnya ada yang harus di selesaikan. *Nanti saya bagi tips di part selanjutnya ya


  • Skripsi kurang lebih 2 bulan kan, boleh lihat linimasanya? 
Ya tentu saja, seperti yang sudah saya bilang sebelumnya memang bagi yang ingin menyelesaikan skripsi satu semester ini harus sedikit berpacu dengan waktu. Coba saya jelaskan linimasa kasar proses pengerjaan skripsi saya ya.
- Awal Agustus ; mulai cari topik
- Pertengahan Agustus : mulai nulis outline
- 29 Agustus : Deadline mengumpulkan outline siap uji ke sekretariat
- Pertengahan September : Sidang outline
- Setelah sidang - awal Oktober : harus pulang kampung :D
- Awal Oktober - 27 November : Proses pengerjaan 
- Akhir Oktober : selesai revisi bab 1,2,3 dan buat instrumen penelitian
- akhir Oktober - awal November : UTS dan nunggu acc kuesioner
- Menjelang pertengahan November: mulai sebar kuesioner (online)
- Pertengahan November: mulai olah data dan nulis bab 4
- Menjelang akhir november: Finishing
-  25 November: Kirim skripsi final ke dosen pembimbing
- 26 November: Revisi Final
- 27 November: Acc dan mengumpulkan ke sekre


  • Kuanti bukannya susah ya SPSS nya?
Enggak juga sebenarnya, tergantung kebutuhan penelitiannya. Jadi gini sebagai orang yang lebih suka kepastian, saya lebih prefer kuanti karena itu ada angkanya jadi tinggal kita elaborasi dengan teori dan fakta sesungguhnya. Berbeda dengan kuali ya semuanya analisis bergantung kepada kemampuan peneliti. Karakter dan kemampuan orang berbeda-beda, jadi sesungguhnya kita sendiri yang lebih tau penelitian yang seperti apa yang cocok untuk kita. Tidak ada yang lebih pintar dan tidak pintar, ini hanya soal karakter dan orientasi masing-masing orang saja. Jangan lupa pula, semua menyesuaikan dengan kebutuhan penelitian kita ya.

  • Olah data dengan SPSSnya pakai jasa atau kerjain sendiri?
Kerjain sendiri semua, sempet berpikir untuk pakai jasa karena waktunya sudah mepet. Tapi akhirnya saya kerjain sendiri dan selesai dalam waktu semalam. Pertimbangannya, ini akan over budget kalau saya pakai jasa, data saya tidak terlalu banyak hanya 30 pertanyaan dan 75 responden, saya sebar online jadi sudah ada rekapnya dari google form sehingga gak akan makan banyak waktu untuk input di SPSS, dan yang utama kalau olah sendiri lebih bisa menyesuaikan dengan kebutuhan output saya. Sempat panik karena laptop baru saya windows 10 ternyata spss lama tidak compatible. Tapi, semua masalah pasti ada solusi, keep calm and everything gonna be okay. SPSS itu pasti gede dan ada lisensinya, saya sudah coba semalaman tapi tidak bisa dan malah laptop saya kena virus karena download sembarangan, akhirnya saya ke Detos install SPSS. Blok tempat servis laptop, tempatnya pas di depan detos 21 yang banyak CD. Biaya install dan CD 50ribu, beres bisa ditunggu. Btw  *Nanti saya bagi tips untuk mengerjakan SPSS sendiri ya. 
Share:

SKRIPSI, done! (Part 1)

Sebelumnya saya pernah menulis tentang kebimbangan saya dalam memilih jalur kelulusan, yang pada akhirnya saya putuskan untuk skripsi dengan berbagai pertimbangan yang sudah saya ceritakan.

Alhamdulillah, semua sudah beres. Jadi saya bisa berbagi cerita dengan lengkap ya. Tapi saya akan menulis seperti dalam bentuk Q&A ya, biar lebih sistematis saja :)

Saya mulai dari setelah sidang outline, jadi memang di jurusan saya mahasiswa tidak mencari calon dosen pembimbing karena program yang mengatur itu. Kita hanya tinggal menunggu kabar kira-kira siapa calon dosen pembimbing kita dan kapan sidang outline.

  • Tidak bisa milih dosen dong?
Program tetap memperbolehkan itu, tapi konsekuensinya kalau ada problem di kemudian hari maka program tidak bisa bertanggung jawab. Jadi saya sih ikut saja, pastinya program kan juga gak sembarangan milihin. Bahkan mungkin lebih tau dari kita karena kita mungkin terlalu subjektif.


  • Apa yang dipilihin jadi calon dosen pembimbing itu sudah pasti?
Belum tentu juga, semua tergantung dari hasil sidang outline kita. Kalau misal dosen merasa tidak sesuai dengan kompetensinya ya bisa ada kemungkingkan menolak. Sebenarnya kalau di awal sih tidak terlalu masalah, tinggal menunggu calon dosen pengganti saja. Tentu akan lebih repot kalau ganti di tengah-tengah, karena setiap dosen biasanya memiliki karakter dan bidang yang berbeda-beda. Jadi kalau ganti dosen di tengah, kemungkinan akan lebih banyak perombakan.


Sidang outline di komunikasi UI seperti apa?
Intinya ya memaparkan outline penelitian kita. Tapi beda dengan seminar yang biasanya lebih terbuka dan banyak pengujinya. Di jurusan saya sidang outline hanya dengan ketua sidang dan calon dosen pembimbing. Karena disini masih outline jadi juga gak perlu yang terlalu detail. Bahkan saya saat itu tidak pakai powerpoint, benar-benar saya sampaikan kira-kira gambaran penelitian saya seperti apa. Hanya untuk mempertegas outline yang sudah kita kumpulkan dan dibaca calon dosen pembimbing saja. Selesai presentasi singkat lalu tanya jawab, disini sebenarnya titik penentu dari penelitian kalian ke depan. Ada yang penelitiannya dirombak, hampir berubah total, seperti ganti metode bahkan ganti topik. Namun ada pula yang aman, tidak banyak revisi jadi tinggal melanjutkan outline. Alhamdulillah saya termasuk golongan yang kedua.

  • Hasil sidang outlinenya bagaimana?
Calon dosen pembimbing saya bersedia, topik dan judul saya juga diterima. Jadi topik penelitian saya tentang pengaruh twitter terhadap reputasi dengan studi kasus UI. Teori yang saya gunakan information subsidies dan metodenya kuantitatif, selebihnya kalau mau tahu detail bisa cek di lib.ui.ac.id ya. :)


  • Proses bimbingannya bagaimana? 
Proses bimbingan sebenarnya sepenuhnya kebijakan masing-masing dosen karena dari program juga tidak ada kebijakan yang mengatur masalah ini. Hanya ada ketentuan mengenai jumlahnya minimal 10 kali bimbingan. Kalau saya pribadi alhamdulillah lancar sih ya, gak terlalu banyak drama. Dosen pembimbing saya, Mas Teguh Poeradisastra, M.M. yang super baik. Jadi saya selalu bimbingan di kampus ketika beliau selesai ngajar pada hari senin atau selasa. Selebihnya saya bimbingan by email karena beliau super sibuk. Alhamdulillah pokoknya saya bersyukur banget semuanya lancar, walaupun sedikit ada miss yang bikin saya agak panik karena awal november belum juga turun lapangan padahal deadline akhir bulan itu.  But everything is okay, bahkan saya jadi orang pertama yang mengumpulkan tugas akhir siap uji ke sekretariat. #kibasjilbab haha

Selebihnya lanjut ke part 2 ya :)
Share:

Wednesday, 26 October 2016

It's your turn, skripsi/TKA/Jurnal

Akhirnya  tiba juga giliran saya untuk memilih jalur kelulusan, mungkin ini sedikit terlambat untuk saya menceritakannya. Tapi tidak apa  ya, toh mungkin tahun depan prosedurnya juga masih sama selama kurikulumnya sama.

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa apa yang saya ceritakan terbatas pada ilmu komunikasi UI. Bukan ilmu komunikasi di universitas lain, pasti beda peraturan bahkan di FISIP UI aja masing-masing jurusan punya peraturan yang berbeda-beda. Kalau di KOM UI, mahasiswa tidak harus skripsi karena ada 3 jalur kelulusan yang dipilih.

  • SKRIPSI
SKRIPSI bobotnya 6 sks, dengan syarat ipk minimal 3,5. Boleh aja dibawah itu sedikit ambil skripsi tapi ya dengan segala pertimbangan. Pada dasarnya skripsi disini ya sama kayak di tempat lain. Kalau kita ambil skripsi, langkah yang harus ditempuh: Kumpulin outline > dapat dosen pembimbing > sidang outline dengan dosen pembimbing dan ketua sidang (beda dengan seminar) > Selanjutnya sesuai dengan keputusan sidang outline. 

  •  TKA (Tugas Karya Akhir)
TKA bobotnya 4 SKS, tidak ada syarat IPK. Sebenarnya mungkin juga sama beratnya dengan skripsi, tapi dengan karakter yang berbeda. TKA sifatnya lebih praktis sehingga harus real dan aplikatif, kalau skripsi lebih akademis. Jadi total halaman dan batas minimum buku referensi juga pasti beda. Intinya TKA ini kayak bikin projek, kalau humas misal bikin kampanye ya kayak bikin proposal sampai anggaran dana, strategi, dll. Kalau misal teman-teman iklan ya bikin dummy kira-kira nanti bagaimana. Biasanya jalur ini banyak diminati orang-orang yang lebih suka teknis. Oh ya, TKA sama juga kayak skripsi ada sidang outline, dll. 

  • JURNAL
Ini jalur terdamai, tidak ada bobotnya dan tidak ada prosedural sidang outline dll. Jadi kalau jurnal itu jumlahnya hanya 10 halaman, teman-teman tetap bikin outline dan juga tetap punya dosen pembimbing. Saya lupa detilnya peraturan teknis jurnal, tapi yang jelas ini tidak perlu riset lapangan karena semuanya data sekunder. Tidak ada batasan ipk juga, bebas siapa saja boleh ambil dan nyatanya ini memang jalur paling banyak diminati. Tapi gak bisa dianggap sebelah mata juga, karena sekalipun sks sudah terpeuhi bahkan lebih dari 146 tapi kalau gak bikin jurnal ya gak bisa juga. Tetep lulus cuma katanya gak bisa ambil ijazah. 


LALU, KALAU GITU MILIH JURNAL SEMUA DONG? Hmmm enggak juga, ada sebagian yang skripsi, ada TKA juga, dan memang mayoritas jurnal. Tapi sebenarnya ini hanya soal karakter orang, sama sekali tidak bisa disimpulkan kalau anak-anak skripsi pasti yang lebih pinter dan yang ambil jurnal pasti anak-anak pemalas. Bukan seperti itu, masing-masing jalur kelulusan memiliki karakter dan tuntutan sendiri-sendiri. Jadi mungkin ke karakter orangnya juga lebih suka yang mana, tidak terasosiasi dengan kecerdasan seseorang. Semuapun juga butuh tekat dan semangat. hehe. 

Lalu, saya ambil apa? setelah merenung akhirnya saya memutuskan untuk skripsi. Sempat ingin jurnal dan menutup kekurangan mata kuliah dengan belanja saja mata kuliah lain. Tapi ternyata semester ini mulai berlaku peraturan baru, kalau mau ambil mata kuliah lain harus pakai surat. Dengan pertimbangan saya males ngurus surat karena posisi masih di Kediri dan pertimbangan idealisme saya (haha) akhirnya mantap ambil skripsi. Doakan ya, semoga lancar dan selesai secepatnya. 

 Kalender akademik semester ini 



Sebenarnya ini yang bikin greget, karena memang semester ini nampak sangat pendek. Oke aku mau bercerita satu-satu ya :)

  • Outline dikumpulkan maksimal tanggal 29 agustus bertepatan dengan hari pertama masuk kuliah. Jadi buat anak rantau yang ingin menempuh jalur keulusan semester ini, ya mungkin jadi gak bisa balik h-1 kayak sebelum-sebelumnya. hahaha. Tapi gak juga sih, bisa juga bikin di rumah terus nitip temen buat kumpulin. Haha. 
  • Sidang outline tanggal 13-23 september. Jadi habis mengumpulkan outline, program akan bekerja keras mencarikan siapa pembimbing yang cocok untuk kita (baik jalur skripsi, tka maupun jurnal). Lalu kita akan dikabari siapa dosen pembimbignya sekalian dengan jadwal sidangnya. Ya waktunya beda-beda, ada yang diakbari seminggu sebelumnya tapi ada juga yang h-2 baru tahu. Tapi sebenarnya gak masalah karena baru sidang outline aja kan.
  • Batas akhir pengumpulan skripsi dan TKA siap uji 30 november. Jadi kira-kira punya waktu bersih sekitar 2 bulan. Jadi ya berdoa aja semoga semua lancar dan segera selesai tanpa luka fisik dan luka hati :D



Share:

Sunday, 17 April 2016

Bagaimana pendapatmu tentang sosial media? (2)

Pada bagian ke dua ini, saya ingin berbagi cerita mengenai kasus atau mungkin fenomena yang menarik bagi saya. (Part 1 , klik untuk melihat posting bagian 1). Kapasitas saya hanya sharing pengalaman dan pengamatan, bukan bicara level konsep, emangnya saya siapa? :) . Semoga tulisan ini sangat ringan dibaca, bisa disantap layaknya cemilan. Tidak bermaksud menggurui dan sok benar, tapi kembali lagi saya ingin mengajak introspeksi diri (menilai kedalam diri sendiri), apakah sudah bijak kita dalam menggunakan sosial media.

Sosial media itu menurut saya bebas berbatas, seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, anda tidak perlu menjadi ahli untuk menulis di sosial media. Siapapun boleh menulis apapun, tapi ada batasannya. Apa batasannya?

- Privasi anda sendiri
  Anda bebas mau cerita, bagi infomasi, pamer, mengeluh, bahkan nagih utangpun juga silakan. Belum pernah kan pas anda mau posting, terus ada tulisannya "maaf dilarang nagih hutang di facebook". Haha. Poin ini yang orang sering lupa karena mereka pikir sosial media bisa membantu mereka berekspresi. Orang tidak mau kalau orang lain ikut campur masalah rumah tangganya, begitupun orang tidak ingin aibnya tersebar. Celakanya justru yang menyebarkan itu, bukan hanya ke satu dua orang geng gosipnya, tapi ke semua orang. Bahkan ke orang yang sebenarnya gak kenal dan gak peduli soal itu. Misalnya, bikin status "Duh tanggal tua, mana si Abang gak kerja-kerja". Kira-kira apa yang terjadi? Apakah lantas teman-teman facebook anda memberi anda uang? Ya itu bisa saja terjadi, tapi saya pikir jarang sekali. Jelas yang pasti terjadi adalah orang jadi tahu kalau hidup anda susah, ekonomi keluarga anda buruk, hidup anda pas-pasan bahkan kekurangan, dan anda gak punya simpanan. Fatalnya lagi, orang jadi tahu kalau suami anda kerjanya serabutan, kerja musiman,  penghasilannya belum cukup memenuhi kebutuhan. Padahal bukannya kewajiban Istri harus menjaga aib suaminya ya?

Kalau di dunia nyata, yang tahu kondisi anda mungkin hanya tetangga atau orang-orang terdekat. Tapi dengan keluhan anda yang sangat sembrono di facebook itu, semua orang jadi tahu, Teman lama dan saudara-saudara anda yang tinggal beda kota bahkan beda pulaupun jadi tahu. Bagus kalau mereka masih punya rasa kasihan, kalau justru ditertawakan bagaimana? Jatuh harga diri anda di depan mereka.

- Kejujuran
Bukan hanya hubungan di dunia nyata saja yang butuh kejujuran, di sosial media juga. Hubungan apapun pondasinya tetap kejujuran. Lagi-lagi memang sosial media itu bebas, Anda bebas mengatur diri anda agar terlihat seperti apa. Misalnya saya nulis sekolah di Universitas Indonesia, emangnya facebook bakal ngecek apa saya beneran sekolah? Pasti enggak kan. Sebebas itu di sosial media karena memang tidak ada yang menjamin kebenarannya. Tapi ya tolong dong yang masuk akal, jangan mengira seolah-olah teman-teman anda di sosial itu semuanya gaptek. Misal update status, "Sebentar di Holland, sebentar di Itali, sebentar di Paris, sebentara di Jerman". Ya kalau yang bikin status Syahrini sih tidak masalah, tapi misalnya kalau yang bikin status itu saya? Pasti aneh kan, kayak orang jadi males temenan sama saya. Misal contoh lainnya, biasa sehari-hari kemana-mana juga naik motor, tiba-tiba update foto buka pintu mobil Ferrari, kira-kira apa yang terjadi? Bukannya terkesima, tapi orang malah akan mencibir anda. Mereka akan mempertanyakan, kayak apa yang anda tunjukkan di sosial media terlalu jauh dari kenyataan.  Apa dampaknya? Ya jelas orang gak percaya lagi sama anda.

Oke, mungkin anda membantah bahwa itu terjadi kalau orang lain tahu keadaan kita di dunia nyata. Lalu kalau enggak bagaimana? Jangan lupa, sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Cepat atau lambat kebohongan itu akan terbongkar juga. Apalagi kalau anda pengguna internet aktif, wah data anda berceceran dimana-mana. Lalu tinggal ditelusuri, lihat aja apakah informasinya konsisten. Kalau tidak sinkron, ya jelas itu sandiwara. Ya kalau anda punya naluri detektif saya yakin pasti bisa, tapi memang butuh perjuangan dan waktu. Misalnya begini, saya kenalan dengan orang katakanlah dia ngakunya polisi. Tinggal lihat saja, apakah ada foto-fotonya selama bertugas? apakah informasi yang dia bagikan mencerminkan seorang anggota POLRI? apakah teman-teman facebooknya kebanyakan juga anggota POLRI? Memang ada yang susah sekali dibuktikan karena dia menyadari untuk mengatur sedemikian rupa sehingga nampak benar. Tapi pasti ada celah, kalau di penelitian kita istilahnya reliabilitas jadi kita lihat kehandalannya, maaf saya harus menggunakan istilah itu. Mengukur reliabilitas itu artinya di tes berulang kali dengan berbagai macam cara hasilnya tetap sama. Jadi begini, misalnya:

  • Pertama, sekarang dan bulan depan kita menanyakan pertanyaan yang sama, apakah jawabannya tetap sama. 
  • Kedua, kita bandingkan antara cerita dia dengan apa yang dia bagikan di sosial media.
  • Ketiga,  apakah informasi yang dia sampaikan benar sesuai informasi resmi atau yang umumnya orang tahu. 
  • Keempat, Mungkin bisa juga cek dengan informasi yang ada sosial media teman-teman terdekatnya. 
Perlu diperhatikan, disini teman-teman jangan bantah dulu, tampung aja semua, biarkan dia berlaga dengan sandiwaranya. Baru kemudian kalau informasinya sudah banyak ya dianalisis apakah konsisten atau tidak. Melihat konsistensi di sosial media juga tidak susah, anda tinggal telusuri kronologi timelinenya.

- Hak Orang Lain
Lagi-lagi anda boleh menulis apa saja di facebook, mau ngomongin tetangga, mau mencaci maki pemerintah, mau komentar soal pertandingan bola semalam juga boleh. Tapi hati-hati, ingat prinsip bebas terbatas, apalagi negara kita negara hukum. Jangan sampai anda dituntut gara-gara status anda mencemarkan nama baik orang atau mungkin sederhananya sosial media anda di blokir karena tidak sesuai dengan aturan dari pengembang. Misalnya, itu terkait isu hak cipta atau hal-hal yang bisa menimbulkan pro kontra. Contohnya beberapa waktu lalu facebook penulis Tere Liye sempat dibekukan facebook karena ia mengkritik LGBT atau juga misalnya foto anda di Instragram mengandung unsur pornografi juga langsung di hapus oleh instagram. Apalagi sekarang ada fitur laporkan, kalau yang melaporkan banyak tentu itu bisa ditindak lanjuti.



Share:

Bagaimana pendapatmu tentang sosial media?


Belakangan sosial media menjadi sangat menarik bagi saya. Bukan karena saya pengguna baru, tapi ada hal yang menarik diamati, tentang bagaimana orang menggunakan sosial medianya. Saya tidak tahu bagaimana menulisnya supaya sistematis dan mengalir, tapi semoga teman-teman tetap bisa memahami apa yang saya tuliskan.

Well, pertama saya ingin mengajak teman-teman instropeksi diri, sudah bijakkah kita menggunakan sosial media? Saya tidak menyangkal karena saya juga merasakan bagaimana sosial media membantu saya terhubung dengan banyak orang. Tapi kita juga gak bisa menutup mata dari kejadian-kejadian karena kecerobohan orang menggunakan sosial media. Misalnya, kasus Sonya Depari yang dibully habis-habisan di pemberitaan dan sosial media; Kasus anak muda yang menghina Jokowi di soal media beberapa waktu lalu hingga di penjara; kasus Haters  Chika Jessika yang sampai dikejar habis-habisan oleh Dedy Corbuzer; atau mungkin teman-teman sering lihat berita Selebriti, bagaimana hanya dari Sosial media bisa menjadi headline pemberitaan. Misalnya video Marshanda, Status Aurel Hermansyah, dll. 

Saya sepakat sosial media itu sangat berguna, tidak hanya untuk konteks relasi tapi juga materi. Sekarang pemasaran tidak melulu harus beli kolom di koran, beli slot iklan di TV yang harganya berjuta-juta, atau menyebar selebaran yang hanya berakhir di tong sampah. Jangankan barang, bahkan artis dan politisi sekalipun bisa dipasarkan dengan sosial media. Contohnya, masih ingat dengan briptu Norman? Shinta Jojo? atau mungkin politisi Haji Lulung yang mendadak terkenal karena Meme di sosial media, ya meskipun ini konteksnya merugikan tapi kan jadi dikenal orang. 

Sosial media tidak sepenuhnya buruk tapi juga tidak sepenuhnya baik, lalu siapa yang mengontrolnya? Ya kita sendiri sebagai pengguna. Memang karakter sosial media sebebas itu. Tidak peduli apa jabatan anda dan kapasitas anda, silakan menulis status dan komentar tentang apapun yang anda katakan. Facebook, twitter atau apapun sejauh ini kan tidak bisa mencegah anda. Kecuali, kalau status anda tidak etis atau menyinggung pihak lain dan dilaporkan ke sistemnya. Tentu beda dong  dengan kalau anda ingin media konvensional TV atau koran. Tapi karena kebebasan ini yang membuat mereka terbuai dan lalai dengan sosial media. Pasti tapi perlahan, sosial media bisa menjadi bumerang bagi mereka yang lalai. 

(Bersambung, part 2

Share:

Sunday, 20 September 2015

Biaya hidup di UI (Universitas Indonesia)

UI (Universitas Indonesia) sebuah perguruan tinggi penyandang nama bangsa yang terletak di Depok, Jawa Barat. Meskipun letaknya tergolong di pinggiran Jakarta, tapi nyatanya Depok tidak kalah padat dengan Jakarta. Apalagi yang berada di sekitaran jalan Margonda Raya yang menghubungkan Depok dengan Jakarta, jangan ditanya lagi volume kendaraan terlebih lagi saat jam-jam sibuk. Memang kota besar, khususnya di Indonesia identik dengan macet, biaya hidup mahal, kriminalistas tinggi, dll. Tetapi apa sebenarnya di UI seperti itu? Sebelum saya menulis lebih jauh, perlu diketahui bahwa tulisan ini merupakan sudut pandang saya yang notabene anak daerah ( non jabodetabek). Sehingga mungkin bisa berbeda bagi teman-teman yang asli anak sini.

Pertama, kita bahas masalah biaya kuliah. Sebenarnya, menurut saya pribadi biaya kuliah di UI tidaklah mahal. Ya standard, bahkan bisa dikatakan sedikit lebih murah dibanding universitas negeri lainnya. Biaya per semester untuk sainstek (Fakultas Teknik, Mipa, Farmasi, Kedokteran, Kedokteran Gigi, Ilmu komputer, Kesehatan Masyarakat, dan Ilmu keperawatan) berkisar antara 100ribu sampai 7,5 juta. Biaya itu merupakan biaya total, artinya kamu tidak perlu lagi bayar biaya praktikum atau yang lain. Sementara untuk rumpun sosial (Fakultas Ekonomi, Ilmu Budaya, FISIP, Psikologi, dan hukum) range biayanya berkisar antara 100ribu - 5juta. Lalu mungkin kamu akan bertanya bagaimana penetapan biayanya? Kita saat diterima bisa memilih sistem pembayaran yang kita inginkan, antara lain: bayar penuh (bayar lunas dengan nominal tertinggi), bayar cicil ( bayar 3x dengan nominal tetinggi), BOPB (mirip sistem ukt, yaitu nominalnya disesuaikan kemampuan orang tua). Disini bukan seperti SMA yang anak bos dan pegawai biasa di pukul rata, kita bisa memilih sistem pembayaran sendiri sesuai dengan kemampuan kita. Bahkan kita bisa memberitahukan kira-kira berapa nominal yang sanggup kita bayar, tapi tetep keputusan akhir ada di UI. Jadi semuanya bisa kuliah di UI ya, jangan takut soal biaya. Bahkan jika kamu aktif mencari info, banyak sekali beasiswa yang ditawarkan. Tentunya selain bidikmisi ya :) . Supaya lebih jelas terkait biaya pendidikan dapat diakses di www.ui.ac.id/akademik/biaya-pendidikan.html

Lalu bagaimana dengan biaya hidup? Jika boleh saya katakan, biaya hidup akan sebanding dengan life style kita. Disini semua terfasilitasi, artinya kalau kamu mau hidup hemat bisa, mau teramat sangat boros juga bisa. Tidak usah khawatir, kamu masih bisa makan murah di warteg dengan lauk yang cukup bergisi. Coba saya sebutkan ya, rata-rata nasi putih 3 ribu, sayur 1-2ribu, telur 3 ribu, ayam 6 ribu, tempe tahu krupuk seribu dan gratis air putih. Murah kan? Dengan sayur dan telor biasanya saya habis 7 ribu. Disini juga banyak warung penyetan berkisar 7 ribu untuk tempe tahu dan 15 ribu untuk ayam. Kalau mau yang lebih dari itu kita bisa pilih sendiri banyak banget warung, restoran, rumah makan yang ada di sepanjang jalan margonda, food court margo city dan detos. Sementara itu, untuk tempat tinggal juga banya sekali pilihannya. Bagi teman-teman maba mungkin bisa di asrama dulu, dengan biaya hanya 300ribu perbulan. Selain murah, ini juga memudahkan kamu untuk bersosialisasi dengan banyak orang. Jikapun mau kos, pilihannya juga banyak mulai dari yang ratusan - jutaan, ya mungkin untuk standard sekitar 500 ribu perbulan, semakin banyak fasilitas dan semakin dekat jaraknya tentu semakin mahal. Disini juga ada apartment, dengan harga berkisar 1,7 juta - 3 juta mungkin perbulan. Ada pula pilihan kontrak rumah bagi yang mau rame-rame, lagi-lagi tergantung jarak dan fasilitasnya tetapi mungkin standard kisaran 15-20 juta pertahun. Jadi kita tetep bisa kuliah di UI dengan biaya hidup yang terjangkau kan ya? :) 


Share:

Sunday, 6 September 2015

Wisma Michelle (Kos dekat UI Depok)

Postingan ini mungkin akan berasa iklan tapi tidak juga, mungkin lebih tepatnya testimoni dan sedikit deskripsinya saja. Walaupun saya belum mengenal sepenuhnya kost ini tapi alhamdulillah sejauh ini nyaman baik dari segi fisik maupun non fisik (baca:lingkungan sosial). Sebelum menemukan ini, saya telah melihat beberapa kost lain tapi ternyata jodoh saya wisma michelle. Mungkin ketika saya DP kost ini adalah perjalan ke sekian saya menyusuri kober (wilayah seberang stasiun UI). Setiap pulang kuliah saya muter-muter, melihat apakah ada tulisan "ada kamar kosong". Akhirnya, di perjalanan yang kesekian, saya melihat tulisan itu di Wisma Michelle. Langsung saya telepon, janjian besok lihat dan eng ing eeeeng langsung saya DP saat itu juga.
Sebenarnya yang kosong itu banyak, tapi mencari kost itu gak bisa sembarangan. Apalagi dengan kisah terdahulu yang kurang menyenangkan. Dulu saya sebenarnya cukup nyaman dengan fisik kost yang lama, namun dari segi lain membuat saya memilih untuk pindah. Oleh sebab itu, saya memilih kost yang setidaknya fasilitasnya setara dengan kost saya yang lama. Inilah yang membuat pencarian kost saya lama sekali, sampai mepet sekali dengan habisnya masa tinggal saya di asrama. Saya percaya jodoh tidak kemana, Alhamdulillah Allah mempertemukan saya dengan Wisma Michelle. Ketika itu memang jodohmu, selalu ada jalan dan tidak ada keraguan lagi dalam hati. 
Oke, maafkan jika terlalu banyak curhat, sekarang i'll tell u about wisma michelle (My bedroom, exactly) 

Fasilitas umum yang ada disini adalah Free wifi access tiap lantai beda pemancar, TV LED untuk bersama di lantai 1, dapur dan kulkas bersama di lantai 2, parkir motor di dalam rumah, dan halaman cukup untuk 2 mobil. Kesan saya selama beberapa bulan disini sih nyaman-nyaman aja, kayak saya bisa betah seharian gak keluar kamar karena ya sudahlah semua sudah terpenuhi disini. Kalau misal mau makan terus males keluar bisa beli aja di mbak penjaganya, begitupun laundry. Sedangkan untuk galon dan token kita tinggal sms aja nanti orangnya dateng. Oh ya, kalau disini token beli sendiri tiap kamar, tapi gak masalah buat orang kayak saya yang paling cuma butuh listrik untuk lampu, charge dan heater aja. Waktu itu sekitar bulan mei saya beli 30 ribu dan belum beli lagi sampai sekarang (juni). Bahkan saya lihat token saya masih 53 Kwh dari awalnya sekitar 60 sekian Kwh. Dari segi fasilitas kosan ini menurut saya tidak ada kekurangan, paling kekurangannya karena letaknya bisa terbilang agak masuk kedalam jadi awalnya mager juga jalan kaki.
Share:

Wednesday, 17 June 2015

Ekspose Masalah Pribadi ke Publik

Saya baru touch down Kediri kemarin dan kerjaan saya seharian cuma nonton TV. Selama di kost tetap nonton TV sih sesekali, tapi seringnya cuma streaming berita. Kemarin pas bener-bener nonton TV rasanya kaget banget, kenapa jadi seperti ini sih tayangan TV. Genre apa kontennya apa? Sedih saja, masyarakat dipaksa mengkonsumsi masalah-masalah pribadi para bintang televisi produk kapitalisasi. Untung saya adalah generasi 90an yang masih bisa nonton teletubis di pagi hari. Saya gak ngerti lagi dimana fungsi agen sosialisasi televisi, terutama bagi anak-anak. Kasian orang tua jaman sekarang, mereka harus kerja lebih ekstra untuk mengontrol tayangan yang anak-anak mereka saksikan.
Waktu YKS dihentikan, itu seperti isu yang menarik sekali dibahas, terlebih lagi di kelas komunikasi massa. Tapi saat itu saya masih tidak terlalu keberatan. oke mungkin bagi sebagian orang program ini tidak mendidik, tapi bagi saya gak masalah toh emang ini bukan program edukasi tapi hiburan. Selama program itu masih sesuai dengan genrenya ya tidak masalah, mungkin masalah oknum saja jika ternyata ada kata-kata yang tidak pantas. Ini beda dengan kasus yang membuat saya sedikit miris, katanya genre music/entertainment tapi kok satu segmen isinya gosip.
Kemarin pagi saya nonton eat bulaga isinya satu segmen adalah drama cinta vicki prasetyo. Nah pagi ini ternyata masih ada juga segmen drama itu. OMG, ini mah namanya kaderisasi vickinisasi.  Apa sih urgensinya seluruh Indonesia tahu masalah pribadinya vicki? Saya juga gak kenal dia dan masalahnya juga gak ngaruh di hidup saya. Kenapa dibawa-bawa ke publik gini, seolah-olah masalahnya jadi masalah bersama yang perlu dipecahkan seindonesia. Kalau begini ceritanya mah bukan hiburan, malah bikin orang gedek denger omongan vicki. Coba deh kalau yang beginian di tonton anak-anak, mungkin beberapa tahun ke depan mereka gak tau kisah cinta cinderella tapi tahunya kisah cinta vicki kali ya.

 
Acara ini juga gitu, katanya acara musik tapi satu segmen isinya curhatan prahara cinta yang sama sekali gak ada hubungannya dengan kesejahteraan negara. Saya juga gak tau sih sebenarnya apakah dengan adanya segmen ekpos masalah pribadi ke ruang publik gini bisa menaikkan rating? nanti perlu coba saya cari data Nielsen soal ini. Saya jadi takut nasib pertelevisian Indonesia seperti Amerika. Ketika TV sudah dikuasai swasta untuk kepentingan komerisil, TV tak lagi menjadi sarana informasi dan komunikasi publik, tapi TV seperti tong sampah (istilahnya VAST WASTELAND). Padahal frekuensi yang digunakan TV itu milik publik, justru mereka yang harus bayar. Tapi, bukan berarti kita punya kontrol penuh juga, jangan lupa kita adalah negara hukum. Bagaimanapun, Indonesia punya KPI sebagai lembaga yang berwenang mengatur soal penyiaran. Meskipun belakangan KPI seperti bungkam, namun sebenarnya tidak. Jika anda masuk ke website KPI, disitu kita bisa melihat banyak infor, termasuk berapa banyak dan apa saja surat teguran yang diberikan KPI ke stasiun TV.
Share:

Saturday, 14 March 2015

Bahasa cinta #1 - WORDS OF AFFIRMATION

 Like I said before that i will tell you about THE FIVE LOVE LANGUAGES.
 Seperti biasanya, selalu ada yang menarik di kelas komukasi antar pribadi. Meskipun ini bukan materinya tapi dosen saya sempat menyinggung ini ketika membahas materi verbal dan nonverbal. Lalu saya cari-cari di internet, Alhamdulillah ketemu bukunya, kalau ada yang mau bisa cari di google dengan keyword THE FIVE LOVE LANGUAGES GARY CHAPMAN PDF or feel free to contact me if u wanna get it by email. :)

 Di Bukunya dijelasin pentingnya komunikasi dalam sebuah hubungan. Terkadang terjadi misskomunikasi, apa yang kita lakukan ternyata tidak memenuhi definisi cinta pasangan kita. Contohnya ketika  kamu sudah mati-matian nabung buat beliin banyak hadiah untuk pasangan kamu tapi ternyata yang pasangan kamu prioritaskan bukan itu. Mungkin saja quality time lebih penting baginya. Btw, bukunya ini sebenarnya lebih diperuntukkan bagi yang sudah menikah. Pada chapter pertama buku inipun dibahas mengenai, apa yang terjadi dengan cinta setelah pernikahan. Selain itu, Dr. Chapman sendiri adalah seorang konsultan  hubungan cinta. Jadi dibukunya kebanyakan contohnya juga tentang pasiennya. Tapi gak masalah, tetep menarik banget isinya walaupun aku juga belum selesai baca sih. Nanti aku akan cerita disini tentang 5 bahasa kasih itu per bagian ya, sambil baca sambil menulis gitu biar gak kelamaan nunggu selesai baca 272 halaman.

 Oke, The first love language is #1 – Words of Affirmation atau kata-kata penegasan/pengakuan. Kita tidak bisa meremehkan kekuatan dari sebuah kalimat verbal. Sederhana saja seperti memberi pujian atau mengungkapkan betapa kamu menyanginya. Sometimes it’s like kind of bullshit, tapi nyatanya ini penting banget dalam sebuah hubungan. Cobalah untuk mengapresiasi pasangan kita, tunjukkan itu dengan kata-kata verbal.  Jangan menuntut dia untuk melakukan apa yang kita mau, tapi cobalah untuk menghargai apa yang telah dia kerjakan dengan apresiasi secara verbal. Hal itu akan membuat dia merasa dicintai sehingga dengan sendirinya akan muncul motivasi atau hasrat untuk melakukan hal yang sama kepada orang yang dicintainya.
"The object of love is not getting something you want butdoing something for the well-being of the one you love. Itis a fact, however, that when we receive affirming words weare far more likely to be motivated to reciprocate".
 Encouraging Words. Pujian adalah satu cara untuk menegaskan cinta, selain itu ada kata-kata dukungan. Terkadang orang hanya butuh dorongan dari orang yang dicintainya untuk bisa memaksimalkan potensi yang dia punya. Bedakan antara dorongan dengan tuntutan. Dorongan atau dukungan berarti kamu mendukung kemajuan atas apa yang telah dia punya, sementara tuntutan berarti ada tekanan yang kamu berikan padanya untuk melakukan yang kamu mau.
"Encouragement requires empathy and seeing the worldfrom your spouse’s perspective. We must first learn whatis important to our spouse".
 Kind Words. Ini berkaitan dengan cara kita berkomunikasi. Sebuah kata bisa bermakna berbeda ketika kita mengucapkannya dengan intonasi berbeda. Kadang kita mudah terpengaruh oleh lawan bicara kita dan membalas hal yang sama, maksudnya ketika lawan bicara kita menggunakan intonasi yang tinggi kita reflek membalas dengan intonasi yang tinggi pula. Padahal sebenarnya kelembutan bisa meredam kemarahan. Ketika pasanganmu marah, coba balas dengan intonasi yang lembut. Kita sedikit merendahkan hati untuk melihat kemarahannya sebagai informasi atas apa yang sedang ia rasakan. Jika ternyata presepsinya salah, kita bisa menjelaskan baik-baik dengan meminta pemahaman daripada beradu logika untuk membuktikan perspektif kita. Kalaupun ternyata kita salah, kita berbesar hati mengakui dan minta maaf. Disaat seperti itu, pilihannya ada 2 yaitu mengjudge atau memaafkan. Kalau dia memilih menjudge maka  kedekatan (intimacy) itu akan terkorbankan. Oleh sebab itu penting untuk menggunakan kind words, supaya bisa saling memahami bahwa kesalahan adalah bagian dari proses pembelajaran yang membuat kita lebih hati-hati esok hari. Memaafkan adalah salah satu cara mencintai. Cinta tidak menghitung seberapa banyak kesalahan.
Forgiveness is an expression of love. “I love you. I care about you, and I choose to forgive you. Even though my feelings of hurt may linger, I will not allow what has happened to come between us. I hope that we can learn from this experience. You are not a failure because you have failed. You are my spouse, and together we will go on from here.”

Humble Words. Bedakan antara request (permohonan) dan demand (Tuntutan). Tuntutan itu seperti orang tua ke anak balitanya yang harus selalu disetir. Cara kita mengungkapkan keinginan itu sangat penting, Jika kita mendapatinya sebagi demand maka kita telah menghilangkan kedekatan dan membuat pasangan kita menjauh. Tetapi, bagaimanapun kalau kita membuat kebutuhan dan keinginan kita sebagai permohonan, maka kita seperti membuat petunjuk/bimbingan bukan ultimatum.

"Psychologist William James said that possibly the deepest human need is the need to feel appreciated".
Jika kamu bukan orang yang pandai berkata-kata, cobalah menemukan itu dengan mendengarkan orang, membca tulisan lalu lalu tulislah itu. Dengan begitu akan banyak referensi kata-kata yang bisa kamu gunakan berkomunikasi dengan pasangan. Bisa juga dengan cara tidak langsung, ceritakanlah hal-hal positif tentangnya kepada Ibunya atau siapapun. Suatu saat ketika orang itu bercerita pada pasanganmu maka itu telah menjadi wujud apresiasi yang membuat kedekatan cinta itu terjalin.

Will be continued in the next posting :)

Share:

Wednesday, 4 March 2015

Seberapa kenal dengan diri sendiri?




Materi kuliah Komunikasi Antar Pribadi (KAP) sepertinya sayang kalau saya simpan sediri. Bagi saya menarik sekali untuk dibahas disini karena ini sanat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Itulah serunya kuliah di komunikasi, sangat aplikatif materinya. Btw, materi hari ini tentang "SELF" tapi tentu saya tidak membahas semuanya, hanya bagian yang paling menarik aja. Sebenarnya menarik semua, tapi yaa capek yang nulis dan yang baca juga. :)
Oke saya akan bercerita mengenai konsep diri. Pernah gak sih kamu bingung menjawab ketika ada yang bertanya menurutmu kamu orangnya seperti apa? Kalaupun kamu bisa menemukan sebuah kata yang menggambarkan dirimu sendiri, coba pikir lagi apakah itu benar-benar kepribadianmu atau jangan-jangan hanya "kata orang? 


KONSEP DIRI
Gambaran tentang diri kita mencakup psikologis atau fisik, kelebihan/kekuarangan, sifat, kelebihan, dll. Konsep diri ini bisa kita dapat dari citra orang lain, perbandingan sosial, ajaran atau norma budaya, dan interpretasi/evaluasi diri kita sendiri. 
  • Citra atau gambaran orang lain kadang kala pada sisi positifnya bisa membantu kita dalam memahami diri kita sendiri. Contohnya, beberapa bulan lalu temen saya ada yang tanya:"menurut kamu aku orangnya seperti apa sih". Saya bilang kamu dewasa bla bla bla bla. Dia jawabnya malah "masak iya sih kayak begitu? mungkin karena sudah bawaan jadi aku gak sadar melakukan itu." Nah ini tandanya dia memahami konsep dirinya melalui pandangan saya. 
  • Perbandingan sosial, ini terjadi ketika kita berada di suatu kelompok/masyarakat kemudia kita membandingkan/dibandingkan dengan orang lain. Contohnya, Kamu pernah gak sih dibandingin sama kakak, adik, anak tetangga, sepupu, cucu mbah yang lain, bahkan orang lewat sekalipun. haha. Ini bisa oleh orang lain atau diri kita sediri, seperti contoh yang sudah saya sebut merupakan perbandingan dari orang lain. Kalau yang oleh diri kita sendiri biasanya kita punya standar tertentu atas diri kita (katakanlah sabar), kemudian saat berada dengan orang lain ternyata ada orang yang sudah melewati standar anda alias ada yang lebih super sabar. Maka anda disitulah terjadi society comparison, bisa jadi kesimpulannya ternyata saya belum cukup sabar.
  • Ajaran atau norma budaya. Ini berkaitan dengan latar belakang lingkungannya dimana dan bagaimana dia dibesarkan dan menerima sosialisasi. Contoh, temen saya pernah nanya:" Mamamu orangnya gimana?". Saya jawab:" menurutmu kalau anaknya kayak gini, kira-kira orang tuanya seperti apa?". Anak akan cenderung meniru perilaku orang tuanya, atau bisa juga lingkungan yang lebih luas. Seperti gaya hidup sederhana, karena lingkungan sekitar desa masih snagat sederhana. Disitulah kita merujuk bahwa kepribadian seseorang salah satunya dipengaruhi oleh sosialisasi dari lingkungannya. That's why, it is so dangerous for children who live in red area like prostitution.
  • Evaluasi atau intrepretasi diri kita sendiri. Kita berusaha menilai diri kita sendiri dengan mengevaluasi yang sudah-sudah atau mengintepretasikan apa yang kita miliki/alami. Saya sih sering banget melakukan ini, karena menurut saya ini sangat efektif untuk mengendalikan diri sendiri. Contohnya, saya mencoba berbicara dengan diri sendiri, merenung, instropeksi atas kacaunya manajemen waktu akhir-akhir ini. Setelah saya intropeksi lagi ternyata saya terlalu terlalu pemikir, banyak galau, dll. haha

KESADARAN DIRI. 
Pengetahuan tentang diri kita, salah satu caranya dengan Johari window.

Coba pikirkan ruang mana yang paling cocok dengan kita?
1. Open. Semua yang kita tahu tentang diri kita juga orang lain ketahui.
     Contoh: Ada orang yang sangat terbuka dengan orang, dia menampilkan dan bersikap sebagaimana dia sebenarnya. Sehingga orang benar- benar tahu dia. Tapi jarang ya yang bisa totally openned. 
2. Blind. Kita tidak menyadari sesuatu tentang diri kita tapi orang lain tahu tentang itu.
   Contohnya kayak temen saya yang pertama tadi ya.
3. Hidden. Hanya kita yang tahu, dan sengaja membuatnya tidak diketahui orang lain.
   Saya sih mikirnya saya lebih besar di posisi ini, tipe orang pemikir biasanya jarang bisa terbuka dan dengan leluasa bertindak, sehingga pasti lebih banyak dipendam sendiri. 
Contohnya: Saya sebenarnya tahu kamu sedang berbohong dan mengarang cerita, tapi ya sudah cukup tau aja daripada merusak hubungan kita. Kamu pasti tidak mengira, saya stalking kamu sejauh itu. 
4. Unknown. Baik kita atau orang lain juga tidak tahu tentang diri kita. 
   Kita tidak tahu orang juga tidak tahu, contohnya kita dan orang lain sama-sama gak tahu berapa butir nasi yang kita makan setiap hari atau berapa kata yang kita ucapkan dalam sehari.

HARGA DIRI/SELF ESTEEM
Nilai yang kita tempatkan pada diri kita. Kalau menurut materi di kelas, ada beberapa cara untuk meningkatkan harga diri:
  • Mengurangi persepsi yang buruk tentang diri sendiri
  • Berinteraksi dengan orang-orang yang menyenangkan
  • Fokuskan diri pada kegiatan yang mendatangkan kesuksesan
  • Senantiasa mengingatkan diri kita untuk sukses
  • Fokuskan diri untuk merasa nyaman/utuh dengan apa yang dimiliki.
Harga diri sangat erat kaitannya dengan persepsi kita, saat kamu gagal lalu kamu menganggap hidup tak berguna lagi apalagi sampai depresi bunuh diri berarti kamu menilai dirimu nol. Tapi jika kamu masih percaya kamu bisa sukses dengan jalan lain atau kamu memikirkan nanti bagaimana orang lain, kamu masih memberikan sedikit nilai untuk orang lain. Terus tiba-tiba keinget semalem baru dengerin lagu coldplay-fix you, (abaikan, maafkan). haha.

 Btw, perlu diingat disini bahwa kata-kata itu punya power yang bisa memberikan stimuli terhadap penilaian diri kita. Kalau ada orang bilang kata-kata adalah doa ya benar. Itulah sesuatu yang kita pikirkan, percayai dan perjuangkan. Gunakan kata-kata yang positif yang akan berpengaruh pada stimulus syaraf kita. Menurut saya ini cukup efektif, saya selalu bilang pada diri saya sendiri:" No body can steal your happiness. You are still young, beatifull and talented, you have a long time to have better." Begitupun di cermin saya ada tulisan menyemangati diri saya sendiri. Setelah beres dengan diri saya, hal positif itu akan terbawa ke interaksi kita, Saya senang memberikan ucapan untuk seseorang dan saya selalu niat bikinnya. Ketika orang menunjukkan dia peduli dengan kita, seharusnya penilaian kita terhadap diri kita juga meninggkat. It is proven by theory number 2.
Oh ya, there is an inspiring video that related with this topic. The Power of Words 2: Change Your Words, Change Your World





Share:

Tuesday, 3 March 2015

MEDIA BISA MEMBUAT DUNIA NAMPAK LEBIH KEJAM


Hai, akhir-akhir ini cukup ramai pembicaraan mengenai kajahatan. Mulai dari begal yang tidak ada habisnya, bom di ITC Depok sampai yang kecil maling di kostan. Siapa sih yang gak takut dengan begituan? ya saya sediri juga serem banget. Disini saya tidak membahas dari segi hukum, perspektif kriminolog, atau apapun yang saya jga tidak paham. Tetapi saya akan coba mengaitkan ini dengan sebuah teori komunikasi, bagaimana media bisa mempengaruhi anda. Btw, kata media yang saya gunakan disini merujuk pada segala sesuatu yang dapat menjadi perantara komunikasi, bukan hanya TV dan koran ya :) . Media bisa macam-macam, misalnya orang, line, wa, bbm, tv. koran, blog, dll.

Media memang bermanfaat dalam hal pemberian informasi kepada kita. Tapi sayangnya sekarang seringkali keakuratannya dipertanyakan. Kalau kita ngomongin media massa, sudah jelas bahwa idealisme jurnalismenya sudah kalah dengan kepentingan golongan, bisa bisnis, politik, atau mungkin kepentingan pribadi. Contoh nyatanya jelas Pilpres kemarin. Kalau kita bahas media online yang sekarang sudah akrab sekali dengan kita, justru ini lebih dipertanyakan lagi kualitasnya. Pernah gak sih kalian baca berita online, gak taunya infonya salah atau mungkin judul sama isinya gak sama? Jadi media online itu seringkali mengejar kecepatan produksi berita namun ketepatan berita jadi berkurang. Proses gatekeeping dalam media online ini sangat kurang atau bahkan ditiadakan, sehingga bisa saja  proses produksi berita yang harusnya melalui dapur redaksi tapi cukup selesai oleh sang wartawan sendiri. Nah kita bahas sosial media, sebenarnya yang ini jelas banget karena kita sebagai user sekaligus juga kontributor. Artinya orang bisa menggunakan atau menulis berita sesuka hatinya. Ya meskipun ada UU ITE, tapi apakah itu menjamin? sepertinya jawabannya tidak. 



Dari tulisan paragraf sebelumnya kita sudah sepakat bahwa media memang informatif, tapi kita juga harus selektif melihat akurasi informasinya. Nah sayang kita seringkali lupa dengan hal itu, jadi langsung percaya aja sama informasi media. Coba deh kayak kita dapat makanan kita, rakus banget kan kesannya kalau main sikat aja. Basa-basi dulu deh tanya itu apa? darimana? siapa yang bawa? rasanya gimana? Sudah banyak nanya itupun kita gak langsung makan semuanya kan? cicipin dululah untuk memastikan benar-benar good taste. 


Sekarang kita persempit lagi topik kita ke sosial media line, bbm, atau apapun yang bisa broadcast message. Saya yakin teman-teman seringkali merasa terganggu dengan itu, apapun kontennya. Apalagi kalau isinya tentang pencurian di kosan, jambret, begal, bom, rampok, dll yang seketika membuat kita sesak nafas. haha. Meskipun itu sebenarnya berguna juga untuk kita supaya lebih waspada. Jujur saya sedikit tidak suka dengan BC2an begitu, tapi saya masih baca pesannya tapi ya udah cukup tahu aja dan tanpa komentar. Kita harus ingat kembali karakter media apalagi kalau lewat media chatting begini kita tidak tahu sumber sebenarnya kan? tapi parahnya banyak tuh yang main percaya aja dan jadi resah dengan isi pesan itu. Banyak temen-temen saya yang jadi takut kemana-mana katanya takut di begal. Saya cuma bisa bilang, OH. 





Kalau kita kaitkan dengan teori komunikasi, ada teori kultivasi. Sebenarnya ini lebih tepat untuk tv, tapi menurut saya masih relevan disini. Teori ini bilang bahwa penonton kelas berat (nonton tv lebih dari 4 jam) akan cenderung melihat dunia lebih menyeramkan dari yang sebenarnya dibandingkan penonton kelas ringan. Nah ini sama kayak kalian, semakin sering kalian membaca broadcast yang sangat ghoib itu akan membuat kalian makin resah, karena melihat dunia jadi semenyeramkan itu. Saya juga heran ada ya orang iseng banget bikin berita begal. Sebenarnya di depok kejadian begal hanya 3 kali, tapi perasaan banyak banget yang dibroadcast orang-orang. Pernah ada satu malam itu beritanya sampai 3 kali, semua dengan tulisan baru saja terjadi lagi blablabla. Saya tidak menyalahkan orang yang menyampaikan informasi karena mungkin niatnya baik, toh kita sama-sama juga gak tau siapa yang buat mungkin kamu berpositive thingking itu akurat ya :). Tapi yang jelas, kita harus tahu cara mengontrol sikap kita terhadap informasi tersebut. Informasi itu penting untuk kita tahu tapi ya udah tahu aja, jangan sampai mempengaruhi psikologis kita. Semoga jelas maksud tulisan saya ya, terimakasih :) 

Btw ini beberapa screenshot pesan media yang saya dapat, tapi sekali lagi tolong jangan percaya begitu saja, sebatas untuk tahu saja ya. Tidak semua pesannya benar, kitapun sama-sama tidak tahu sumbernya. 











Share:

Thursday, 19 February 2015

Benarkah kita sudah berkomunikasi antar pribadi?

Ini menarik sekali untuk membahas materi ini karena kita mungkin telah, bahkan sedang mengalaminya. Banyak sekali komunikasi interpersonal yang kita lakukan dalam sehari-hari, seperti komunikasi dengan pacarmu, sahabatmu atau mungkin juga antara suami dan istri, dll. Tapi apakah benar kita memang melakukan komunikasi interpersonal atau jangan-jangan komunikasi yang kita lakukan sebenarnya tidak interpersonal. Ketika kita sudah ngobrol panjang lebar, bukan berarti kita telah melakukan komunikasi interpersonal. Oke, kita akan membahas bagaimana komunikasi interpersonal yang sebenarnya. Sebelumnya kita sepati contoh yang kita gunakan adalah dalam konteks hubungan kekasih  ya. 


Komunikasi antar pribadi merupakan interaksi yang bersifat verbal dan nonverbal diantara dua orang atau lebih yang bergantung sama lain. (Devito, 2013)
Secara singkat kalau melihat definisi tersebut kita bisa menilai bahwa hubungan kekasih jelas masuk hubungan interpersonal, karena dilakukan oleh 2 orang atau lebih (ya kali aja ada orang ketika). Komunikasi dengan verbal atau nonverbal, tentu saja sering berbicara dengannya tapi kadang tanpa perlu ngomong dia sudah mengerti dari simbol-simbol nonverbal yang kita sampaikan, seperti gesture, raut wajah, style, dll. Kemudian poin selanjutnya adalah saling bergantung? sebenarnya ini personal banget tapi secara umum pasti ada rasa saling ketergantungan lah ya. Contoh kecilnya saja kamu ketergantungan untuk chatting dengannya, entah benar-benar butuh atau sekedah basa-basi. Tapi nyatanya susah kan gak chatting sehari aja? :D


Dari sini masih clear bahwa ternyata komunikasi kalian memang benar-benar komunikasi antar pribadi. Tapi akan muncul pertanyaan saat kita gunakan defini KAP dari perlbagai pendekatan, ada pendekatan komponen, relasional, dan perkembangan. Nah yang paling menarik kita melihat hubungan kekasih ini dari pendekatan perkembangan. Semoga ini benar-benar menjadi refleksi apakah hubungan kita dengannya benar-benar komunikasi interpersonal atau jangan-jangan masih level impersonal.

Miller (1975) mengatakan bahwa individu akan memiliki perilaku komunikasi tertentu berdasarkan prediksi terhadap mitra komunikasinya.
Prediksi tersebut berpatokan pada 3 level, yaitu: Kultural, sosiologis, dan psikologis. Jika kita melakukan komunikasi berpatokan pada level kultural dan sosiologis, maka komunikasi kita masih impersonal. Meskipun komunikasi itu dilakukan oleh 2 orang, punya saling ketergantungan dan menggunakan bahasa berbal dan nonverbal.

Bagaimana patokan prediksi level kultural, sosiologis dan psiologis tersebut?

  • Level kultural
    Dalam berkomunikasi kita menggunakan prediksi dari data budaya. Misalnya, Kekasihmu berasal dari kota besar. Lalu kamu berasumsi budaya orang metropolitan itu seperti apa. Selanjutnya kamu akan cenderung berpatokan pada data umum tentang budaya orang metropolitan itu untuk komunikasi dengannya.  Jika kamu berkomunikasi dengannya masih melihat budayanya, oh so sorry hubungan kalian masih impersonal.
  • Level Sosiologis
    Level ini kita berpatokan pada data-data pribadi yang bersifat sosial. Seperti: Gaji, tempat tinggal, usia, pendidikan, status sosial, dll. Menurut saya orang cenderung berpatokan dari sini dalam berkomunikasi. Misalnya: Kekasihmu lebih tua dari kamu, lalu kamu berasumsi bahwa orang umur segitu, penghasilan segitu dan latar belakang pendidikannya bahwa dia adalah orang yang dewasa, bijak, mandiri, wawasan luas dan cerdas, dll. Lalu kamu berusaha menjadikan dirimu lebih dewasa, topik yang kalian bicarakan lebih berat, dll. Itu tandanya kamu telah menggunakan prediksi level sosiologis. So, what about you? jika masih berkomunikasi dengan melihat hal-hal itu berarti hubungan kalian belum bisa dikatan interpersonal.
  • Level psikologis
    Ketika orang berkomunikasi berusaha menghilanghkan data kultural dan data sosiologis, berarti dia sudah masuk level psikologis. Jadi kalian berkomukasi benar-benar melihat bagaimana karakternya tanpa terpengaruh dia asalnya dari mana, anaknya siapa, sekolahnya dimana, dll. Misalnya, meskipun kamu tahu dia anak metropolitan, anaknya jendral, rumahnya satu blok, sekolahnya di luar negeri atau apapun itu. Tapi kamu saat kamu berkomunikasi dengannya benar-benar tidak membawa embel-embel itu lagi. Obrolan kalian mengalir sebagaimana keadaan yang ada saat itu, kamu tak sungkan meskipun dia anak jendral, kamu merasa rendah diri meskipun ijazahnya semua luar negeri, dll. Yeaaah, this is the real interpersonal relationship. 
Sekarang coba pikirkan kembali apakah kamu sudah benar-benar meninggalkan data kultural dan sosiologisnya dalam berkomunikasi? Sudah dengan berapa banyak orang kita menjalin hubungan interpersonal.

Perlu saya tambahkan bahwa tidak mutlak interpersonal dan impersonal, tetapi mungkin juga hubungan kalian berada di tengah-tengah. Selain itu, tidak ada yang mutlak juga alur dari level prediksi. Sangat mungkin orang langsung pada level psikologis, tapi biasanya mulai dari kultural (data yang paling umum), level sosiologi dan barulah level psikologis.  KAP juga tidak bergantung pada waktu, tapi kedalaman konteksnya. 

Satu lagi yang menarik ditambahkan disini komunikasi bersifat dinamis, Frank Dance (1967) mengibaratkan komunikasi sebagai sebuah spiral.
Layaknya sebuah spiral, komunikasi dibangun dari sebuah titik kecil kemudian lingkarannya membesar seiring akumulasi proses interaksi dan pengalaman masa lalu. Spiral ini tidak bisa diputar balik,  mungkin ada jeda,lalu garisnya akan berlanjut lagi. Itu artinya ketika orang berkomunikasi ia akan selalu membawa informasi di masa lalu yang dibawa dan diakumulasi dengan sekarang. Ketikapun mereka tidak berkomunikasi dalam jangka waktu yang lama, garis itu tidak putus, artinya orang tidak memulai komunikasi dari awal lagi kan? tapi hanya melanjutkan komunikasi yang dulu beserta data yang terekam. Khusus teori ini pengennya akan dibahas di postingan selanjutnya, Thank You, see u :D
Share:

Wednesday, 31 December 2014

Pakai TV berbayar kok dhoho dan rajawali tv tidak ada?

Kemarin saya ke toko elektronik, kebetulan ada pegawainya yang sedang telepon. Dari pembicaraannya saya dengar, :"Apa pak yang tidak ada? Rajawali ? Dhoho tv?". Dari situ langsung bisa ditebak kemungkinan dia habis pasang TV berbayar, namun customer kurang memahami cara kerja TV tersebut. Sehingga langsung komplain ketika dia tidak bisa menemukan stasiun TV andalan kota Kediri :D

Saya pengen bercerita sedikit tentang TV Kabel dan tv satelit berbayar, supaya suatu saat jika teman-teman pasang TV kabel/satelite berbayar tidak heran ketika tidak menemukan channel rajawali dan dhoho tv. Mungkin ini tidak terlalu dalam bahasannya, karena saya sendiri juga hanya belajar sekilas. Tetapi setidaknya bisa menambah pengetahuan kita semua. Sayang saja ketika anda bayar mahal untuk TV kabel, tapi tidak tahu kelebihannya. Mubazir sekali jika channel yang anda cari tetap saja dhoho tv, sementara anda bisa melihat channel-channel luar negeri yang tidak anda temui di Tv biasa.

Sebelumnya kita perlu tahu dulu beberapa platform broadcasting yang sudah umum di sekitar kita, misalnya TV terestial (satelite), TV kabel, Mobile TV, internet tv dan IPTV. Pertama, Tv terestrial adalah model dari televisi yang menggunakan gelombang radio melalui transmisi dan diterima oleh antena. Tv terestrial ini paling banyak digunakan orang karena bersifat gratis, kita hanya membeli perangkatnya (TV) tanpa diharuskan membayar untuk programnya. Cara kerjanya, stasiun televisi mengirim gelombang ke satelite yang kemudian dipantulkan kembali ke daerah pancaran satelite tersebut. Dari situ, sinyalnya akan ditangkap oleh antena-antena kita dirumah hingga kita bisa nonton siarannya. Cara kerja semacam ini disebut free to air.

Tapi ada juga tv satelite yang berbayar , misalnya indovision. Jadi kalau anda pasang parabola indovision bisa menikmati paket channel yang disediakan indovision dan membayar setiap bulannya. Begitupun untuk tv kabel. Bedanya ini langsunh pakai kabel optik, tapi sama saja sistem paket channelnya. Contohnya di Indonesia, firstmedia. Nah jika anda mencari tv lokal seperti dhoho tv dan rajawali tentu tidak ada karena itu diluar line up tv berbayar tersebut. Tapi untuk tv nasional seperti trans7, indonesiar, rcti, antv, dll seperti itu masih ada.

Berikut contoh paket yang ditawarkan Indovision.


 Paket tv bisa anda lihat di situs resmi tv yang bersangkutan atau juga di lyngsat.com untuk tv satelit. Lyngsat memberikan info mengenai satelit dan yang menggunakannya. Jadi kita bisa lihat misalnya satelit PALAPA D digunakan stasiun tv mana saja. Disitu ada keterangan lengkap mengenai tv yang menggunakan, seperti alamat, jenis tv, frekuensi, paltform, dll. Berikut contoh paket tranvision yang saya lihat di lyngsat, paket transvision.

Share:

Tuesday, 21 October 2014

ANALISIS MEDIA (1)


Beberapa waktu yang lalu mungkin kalian sempet jengkel dengan 2 stasiun tv yang dengan terang mengunggungkan calon presidennya. Apakah hanya faktor kepemilikan yang menyebabkan seperti itu? Yuk kita belajat tentang media analisis. Saya akan sedikit berbagi tentang pelajaran yang aku dapat di pengantar kajian media, ya walaupun masih dasar tapi semoga bisa menambah pengetahuan kita.



Di era moden ini, konten dan platform media sangat beragam. Manusia juga semakin pintar menyesuaikan dengan perubahan itu. Kita tidak lagi bertindak sebagai khalayak pasif yang hanya menerima apapun yang disampaikan media. Tetapi kita sudah menjadi khalayak aktif yang bebas menentukan / memilih informasi mana yang sesuai dengan kita. Bahkan teknologi sekarang sudah mumpuni untuk kita menjadi khalayak interaktif, yang mana audience bisa memberikan feedback atau berkontribusi terhadap konten media.

Sebelum kita coba menganalisis media secara lebih mendalam, ada baiknya sebagai audience yang cerdas perlu tahu satu konsep  yang namanya literacy media (melek media). Ini adalah kemampuan audience untuk menganalis, mengevaluasi dan menilai pesan media sehingga tidak ditelan mentah-mentah.




5 KONSEP INTI DALAM LITERACY MEDIA
  • Media Are Constructions
Media selalu berusaha untuk mengkonstruksikan aspek kehidupan (Orang, tempat, event ,dll). Terkadang media seperti merepresetasikan apa yang ada di kehidupan nyata kita. Tetapi menjadi bias kita kita mulai memyadari bahwa media juga mengkontruksikan apa yang ada di kehidupan kita dengan opini, asumsi, dan kepentingan pribadi.
contoh : Siapa yang membuat standar definisi cantik adalah langsing, putih bening , rambut panjang? Media. Lalu siapa yang menetapkan bahwa rambut indah adalah yang hitam berkilau dan tebal? iklan shampo dari media.
  • Media Have Commercial Implication
Media juga merupakan sebuah perusahaan komersil yang berorientasi pada uang. Sehingga akan ada bias antara fungsi media yang sesungguhnya dengan kepentingan bisnis. 
Contoh : Media seringkali meliput event special seperti wedding party. Sebenarnya ini tidak terlalu krusial, namun media sengaja membuat isu ini seolah-olah penting untuk diketahui oleh semua orang sehingga ujung-ujungnya rating mereka naik dan iklannya banyak.
  • Media Has Its own unique aesthetic form
Ada banyak cara berbeda-beda yang digunakan media untuk menarik perhatian khalayak. Contohnya: Sebuah stasiun tv akan menyiarkan langsung wedding party, maka dari jauh-jauh hari acara gossipnya terus memberitakan tentang itu. Perlu diketahui juga, bahwa setiap program tv mempunyai kharakter yang konsisten sehingga menjadi ciri khasnya. Misalnya acara gossip silet  dengan insert tentu saja berbeda pembawaan acaranya.
  • Audiences Negociate meaning
Pesan yang disampaikan media kepada banyak orang tidak diartikan sama oleh masing-masing orang. Ada beberapa faktor seperti usia, gender, pengalaman , dll yang membuat orang akan memaknai pesan media. 
Misalnya: Media meliput blusukan jokowi, lalu ada pro dan kontra. Beberapa mungkin melihat ini sebagai gambaran bahwa pemimpin itu harusnya merakyat, namun ada juga bahwa liputan ini hanya sebuah pencitraan di depan media. Dari sini sudah terlihat bahwa satu pesan yang sama bisa dimaknai berbeda oleh khalayak.
  • Media is social and political
Media memiliki nilai, kekuatan dan kekuasaan sehingga bisa mempengaruhi kehidupan social dan politik. Media adalah salah satu agen sosialisasi, oleh sebab itu dia bisa saja mensosalisasikan budaya-budaya tertentu sehingga lama kelamaan bisa merubah kehidupan sosial. Contoh: media memperlihatkan bagaimana kehidupan masyarakat modern yang konsumeris, maka khalayak akan berpikir untuk meniru gaya hidup yang seperti itu sehingga kita masuk dalam budaya konsumerisme. 

Setelah mengetahui konsep literasi media bahwa apa yang disampaikan media tidak semuanya bisa kita terima mentah-mentah karena ada banyak faktor didalamnya. Lalu sekarang kita bisa menganalisis pesan media dengan pertanyaan kunci sebagaim berikut:
  • Authorship ->  Siapa yang membuat pesan ini?
  • Purpose -> Kenapa pesan ini dibuat? Siapa target dari pesan ini?
  • Economic -> Siapa yang membiayai ini?
  • Impact  -> Siapa yang diuntungkan/dirugikan pesan ini?
  • Respone -> Apa tindakan yang dilakukan untuk merespon pesan ini?
  •  Content -> Apa nilai, informasi dan pesan yang dibawa? 
  • Technique -> Bagaimana teknik yang digunakan? Bagaimana pesan ini dikomunikasikan?
  • Interpretation -> Bagaimana orang yang berbeda memaknai pesan ini dengan berbeda?
  • Context -> Kapan ini dibuat? Dimana dan bagaimana ini di bagikan ke publik?
Contohnya menyusul di posting selanjutnya ya :) 
Share:

Rating/share hidup dan mati suatu program

Postingan ini aku berbagi tentang materi di pengantar penyiaran.  Kenapa suatu program atau acara TV bisa bertahan lama bahkan menjadi favorit? Apa hubungan antara program tv, audience, rating/share , dan advertising? Temen-temen mungkin sering bertanya, Kenapa sih sinetron ini masih tayang terus? atau pernah juga bertanya, padahal tayangan ini kan bagus mendidik tapi kenapa kok dihentikan?

Siapa yang menentukan acara / program ini lanjut atau berhenti? Programming. Jadi ada suatu bagian namanya Tv programming, dia yang menentukan kelanjutan acara. Lalu apa dasar penentuannya? Patokannya adalah angka rating/share program tersebut. Disini lebih mengacu pada kuantitas rating, bukan kualitas program. Jadi sebenarnya jika kalian mempertanyakan sinetron A kenapa masih tayang terus bahkan lebih dari seribu episode, tentu jawabannya karena ratingnya tinggi. Angka rating itu sendiri mengindikasikan jumlah orang yang menonton program tersebut dari seluruh populasi penonton. Berarti dapat kita simpulkan bahwa sebenarnya masih lebih banyak orang yang suka daripada yang tidak suka. Sementara ini rating tertinggi program tv di Indonesia masih di pegang oleh sinetron dan ajang pencarian bakat. Bahkan program sekelas kick andypun ratingnya masih kalah dengan sinetron yang kalian pandang sebelah mata.

Sebenarnya kenapa rating sangat berpengaruh? Hal ini karena rating merupakan indikator pengukur khalayak yang menjadi audience acara tersebut. Sehingga semakin tinggi rating maka semakin banyak pula audience yang artinya banyak pula orang yang bisa menjadi target iklan. Semakin tinggi rating suatu acara maka semakin mahal pula harga 1 slot iklan yang ditawarkan. Satu slot iklan akan berdurasi 30 atau 60 second. Rating dari Indonesian Idol selalu masuk dalam jajaran atas, coba tebak berapa harga satu slot iklan 30'? Harganya 18 juta pada tahun 2004.

Sebenarnya jika ratingnya rendah terus kenapa sih? Jika sebuah acara ratingnya rendah itu tandanya program tersebut tidak banyak diminati audience, itulah kenapa program tersebut juga tidak memiliki nilai jual untuk para pemasang iklan. Disinilah masalahnya, iklan adalah sumber pendapatan terbesar yang mencover biaya produksi, Jadi kalau tidak ada iklan berarti tidak bisa produksi lagi. Supaya mudah untuk mencontohkan, kita menggunakan contoh koran yang jelas terukur berapa jumlah pembaca dari berapa total penjualannya. Sebenarnya biaya produksi koran itu mahal, tapi bagaimana kita bisa membeli koran sekelas kompas dengan harga Rp 4 ribu? hal itu karena adanya iklan-iklan yang dipasang di kompas. Pernah aku baca disebuah buku yang lupa sumbernya, bahwa 3/4 dari biaya produksi dicover oleh iklan. Sementara uang penjualan itu hanya mencover 10%.

Dari sini kita dapat simpulkan bahwa keberlangsungan sutu program tidak berdasar pada kualitas program itu. Namun lebih mengarah pada kuantitas rating/share. Ada program yang sebenarnya bagus nilai edukasinya, bahkan juga produksinya namun karena ratingnya rendah sehingga dihentikan. Tapi ada juga program yang sekedar bikin orang ketawa joget-joget justru bertahan bertahun-tahun karena banyak yang nonton jadi ratingnya tinggi. Sekarang pertelevisian kita terutama tv komersil memang berlomba-lomba mengejar rating, itulah kenapa sering kali jika suatu stasiun tv membuat program baru yang terlihat sukses maka stasiun lain juga akan menciptakan program sejenis. Dunia televisi tidak bisa dilepaskan dari dunia bisnis yang mana ada orientasi profit, sehingga fungsi utama televisi sering kali bias oleh kepentingan bisnis.

Share: