Showing posts with label Campus Life. Show all posts
Showing posts with label Campus Life. Show all posts

Wednesday, 1 February 2017

SKRIPSI, done! (Tips)

Pada postingan sebelumnya mengenai skripsi, saya sempat mengatakan untuk memberikan tips. Jadi pada tulisan ini, khusus akan saya bahas mengenai 2 tips yang saya janjikan itu. Tips ini versi saya, jadi belum tentu bisa berlaku untuk semua ya :)

TIPS MENGERJAKAN SKRIPSI DENGAN CEPAT

  • Semua dimulai dari niat dan tujuan kita di awal, ini yang harus kita rumuskan di awal. Sebab kalau tidak, skripsi itu sangat melenakan. Kalau niatnya sudah bulat, setidaknya akan lebih terjaga. Kalau mau selesai dalam 1 semester ya selalu tanamkan, satu semester satu semester. 
  • Be realistis! ingin berkontribusi dengan meneliti sesuatu yang belum pernah ada itu boleh-boleh saja. Tapi sebaiknya pertimbangkan perjalanan ke depannya, apakah ada akses ke sumber data dan sejauh apa data itu bisa kita peroleh. Saran saya, pilih topik yang sederhana yang sesuai dengan minat dan kapasitas kita saja. Mengangkat masalah mikro tapi dengan data yang mumpuni dan analisa tajam tentu akan menjadi karya yang sangat menarik. 
  • Pilih topik yang kira-kira bisa diteliti dengan metode yang lebih kamu sukai. Metode kuantitatif dan kualitatif itu sangat berbeda, masing-masing tentu punya tantangan sendiri. Kalau kamu suka kebebasan berpikir dan tantangan ya pilih kuali, Kalau suka membuktikan dengan perhitungan angka, ya pilih kuantitatif. Bagi saya pribadi kuantitatif lebih cocok untuk saya, sebab adanya perhitungan angka membuat penelitian saya hasilnya lebih pasti, bukan sebatas asumsi yang masih bisa di debat sana-sini. Secara pengumpulan data juga lebih mudah, karena saya bisa pakai kuesioner online. Pengolahannya dibantu aplikasi SPSS jadi tugas peneliti menjelaskan angka itu dengan fakta dan teori. 
  • Pilih topik yang sudah pernah diteliti, namun lihat dari sudut pandang berbeda. Ini agak tricky sebenarnya, tapi dari pengalaman saya cukup membantu. Skripsi saya tentang media dan reputasi, tentu sudah ada yang membahas yang bisa jadi referensi. Tapi harus ada pembaruan yang membedakan penelitian kita dengan sebelumnya, pembaruan itu misalnya ya dari objeknya, sudut pandangnya atau dari studi kasusnya. 
  • Keep Contact! kontak dengan dosen pembimbing dan dengan skripsi kamu sendiri. Kalau tidak bertemu setidaknya kirim email atau apa yang intinya mengabarkan kalau kita terus berjalan dan berprogres. jangan sampai, kita datang pas sudah mau deadline. Karena bagaimanapu kita juga butuh arahan dan persetujuan dosen. Kemudian, selalu usahakan juga membuka skripsi kalau bisa setiap hari, walaupun cuma nambah satu paragraf, edit halaman, bahkan benerin typo sekalipun. Ini akan menjaga kita agar tidak menunda-nunda, karena sekali menunda bisa tau-tau sudah mau deadline.  
  • Rajin-rajin kontak dengan teman yang lagi skripsi juga, biar bisa saling mengingatkan, menguatkan dan mendoakan. haha. 

TIPS MENGOLAH DATA PAKAI SPSS DENGAN CEPAT
  • Langkah pertama, lihat-lihat aja dulu spss itu ada apa. Browsing-browsing dulu cara input di spss. 
  • Kalau sudah tulis variabel view, selanjutnya tinggal input data. Nah kalau mau cepat, kita tulis datanya dulu di excel rubah jadi angka semua, lalu tinggal paste ke spss. Kalau pakai kuesioner online akan lebih cepat lagi, karena sudah ada rekapnya, tinggal kita rubah jadi angka dengan rumus IF di excel. 
  • Kalau sudah selesai input, segera tampilkan output pengujian yang dibutuhkan. Rajin-rajin browsing cara pengujian dengan spss, karena biasanya suka beda cara. Kalau bisa pahami betul kenapa harus menggunakan cara itu dan rujukannya siapa. 
  • Pada spss itu hanya alat yang hanya mengikuti instruksi kita. SPSS akan selalu menampilkan mau benar atau salah pengujian kita, jadi tugas kita adalah memastikan bahwa pengujian yang kita lakukan sudah benar dan bisa diterima secara metode. Misalnya tidak semua penelitian bisa di regresi secara metode, namun spss tugasnya hanya menghitung kan, jadi kalaupun kita klik regresi juga tetap bisa keluar hasilnya. 
  • Cukup uji dan baca yang kita butuhkan, fokus saja. Bagaimana cara membacanya? rajin-rajin browsing dan baca buku.
Share:

Monday, 30 January 2017

SKRIPSI, done! (Part 3)

Setelah part 2 membahas mengenai prosesnya, sekarang kita bahas pengumpulan SKRIPSI di UI ya :)
  • Apa saja yang dikumpulkan?
Pada deadline pengumpulan tugas akhir siap uji kita mengumpulkan 4 bendel hard copy karya akhir. Nantinya itu akan digunakan untuk keperluan sidang dan pada akhirnya dikembalikan lagi ke kita. Belum hard cover, jadi jilid biasa aja. Print juga biasa aja, gak usah bagus-bagus dulu.
  • Skripsi yang dikumpulkan bentuknya gimana? 
Sebenarnya saya tidak menemukan aturan mengenai pengumpulan skripsi siap uji di UI, jadi mungkin sebenarnya belum ada aturan detail formatnya. Tapi kalau saya kemarin sudah benar-benar lengkap mulai dari sampul, judul, kata pengantar, sampai lampiran. Format segala macamnya juga sudah saya sesuaikan dengan SK Rektor UI tahun 2008 mengenai tugas akhir. Sengaja seperti itu, nanti ketika revisi habis sidang biar gak pusing format lagi. Tapi sebenarnya tidak ada ketentuan seperti itu, boleh juga format disesuaikan belakangan.
  • Sidangnya bagaimana? 
Sidang ya begitu, serem-serem seneng. Setiap orang akan memaknai dengan berbeda, tapi karena saya orangnya positive thinking jadi saya sih bersyukur, alhamdulilah lancar semuanya. Baik-baik saja semuanya, Alhamdulillah Allah permudah dan lancarkan semuanya. Tim sidangnya juga baik, terimakasih mbak Hendri (ketua sidang), Mbak Vida Parady (penguji), dan Mas Teguh (dosen pembimbing).

  • Kalau di UI, skripsi yang dikumpulkan formatnya apa saja, kemana dan jumlahnya berapa?
Formatnya ada 2, yakni hard copy dan soft copy. Kemana dan berapa?
1. Ke Sekre Kom UI: 1 buah soft copy dalam bentuk CD 
2. Ke MBRC : 1 buah soft copy dalam bentuk CD dan 1 buah Hard copy
3. Ke Perpusat: Soft copy upload UIANA dan 1 buah hard copy. Di UIANA kita juga harus menyertakan naskah ringkas. Ketentuannya lengkapnya ada di prosedur pengumpulan dan pengunggahan dari perpusat ya. 
*Jangan lupa CD harus ditempel sticker berisi judul, nama dan ttd dosen pembimbing dan dimasukkan dalam mika ya. Ini ada aturan detailnya juga, nanti bisa dibaca sendiri ya di SK Rektor atau prosedur pengumpulan aku agak lupa. 
  • Proses atau alur pengumpulannya bagaimana? 
Jadi setelah sidang, kita juga harus siapkan beberapa berkas yang dikumpulkan bareng pengumpulan skripsi hard cover. Selengkapnya bisa dilihat di PSDK.UI.AC.ID aja itu sudah lumayan jelas. Mungkin yang perlu saya share justru alur pengumpulannya bair gak pada bingung, jadi pas ngumpulin tinggal naruh-naruh dan beres. hehe.
1. Pada deadline pengumpulan, kita harus mengumpulkan ke sekre kom dan MBRC. Perpus bisa belakangan, gak harus hari itu. Jadi yang harus dipersiapkan, berkas-berkas, 2 CD dan 1 hard cover. 
2. Pertama ke sekre kom dulu, menyerahkan semua berkas dan 1 buah CD. Kalau sudah lengkap berkas kita, maka sekre akan memberi cap dan tanda tangani form penerimaan. 
3. Lalu, ke MBRC bawa tugas akhir (CD dan Hard cover) serta form penerimaan dari sekre tadi. Sebaiknya sambil jalan bisa langsung foto copy form itu sebanyak 3x supaya gak bolak-balik pas sampai mbrc. 
4. Di MBRC pertama di cek dulu kelengkapan karya dan formnya. Kalau formnya belum di foto copy ya suruh foto copy dulu. Kalau sudah bisa langsung ke pengecekan CD. Jadi satu persatu petugas akan memastikan isi CD, jadi kita harus buka dulu  di komputer-komputer mbrc dan dicek oleh petugasnya. Kalau sudah akan ditanda tangani oleh petugasnya. Selanjutnya, kita diarahkan naik ke lantai 3 untuk mengumpulkan CD dan hard copy itu. Disini semua form yang kita bawa tadi akan dicap dan ditanda tangani petugas, 1 Form ditinggal, 1 untuk di serahkan ke jurusan dan 1 untuk arsip kita. Jika membawa sumbangan buku, sila serahkan di lantai satu tempat pengecekan kelengkapan tadi. 
5. Balik lagi ke sekre kom, jadi form penyerahan yang sudah di tanda tangani oleh petugas sekre kom dan MBRC harus diserahkan lagi ke sekre sebagai syarat kelengkapan berkas pengajuan ijazah. 
6. Berkas lengkap dan selesai :) 

  • Pengumpulan Skripsi ke Perpusat UI
Setelah beres dengan jurusan dan fakultas, kita juga harus mengumpulkan ke Perpusat UI. Jadi sebelum kita menyerahkan hard copy, harus terlebih dahulu upload ke UIANA. Jadi kurang lebih alurnya adalah upload > nunggu verifikasi > status sudah diterima > mengumpulkan hard cover ke perpus > di cek pengunggahannya > kalau oke, dikasih form (manual) bukti penyerahan tugas akhir. Form tersebut tidak perlu diserahkan ke program tapi harus kita simpan untuk nanti ambil ijazah.

  • Cetak hard cover skripsi dan buat CD dimana? 
Sebenarnya tempat cetak hard cover di dekat UI Depok banyak karena bisa dimana-mana, harganya juga relatif hampir sama. Misalnya, di foto copy yang deket kantor pos FISIP UI (25 ribu), di barel (sekitar 25-30 ribu), dan digital printing sepanjang jalan margonda (30-35 ribu). Harga itu hanya hard covernya ya, belum print isinya. Kalau saya kemarin print dan cetak hard cover di Burring. Harganya 35 ribu dan jadi dalam waktu 3 jam. Kalau harga sih standard, tapi waktunya ini lumayan cepat. Hard cover itu beda dengan jilid biasa yang bisa ditunggu, karena katanya kalau hard cover makan waktu harus nunggu lemnya kering dulu. Ada yang butuh waktu sehari, bahkan sampai 3 hari. Jadi 3 jam itu sudah lumayan cepat. Kalau untuk CD saya beli CD RW dan bikin stickernya di barel dengan harga satuan 15 ribu. Abangnya udah ngerti sih format stikernya harus mencantumkan apa dan bentuknya bagaimana.

  • Habis berapa cetak skripsi? 
Sebelumnya perlu saya informasikan bahwa skripsi saya dari halaman sampul sampai lampiran hanya 99 halaman, halaman yang cetak berwarna tidak lebih dari 10 seingat saya karena hanya screen shot twitter, diagram dan histogram saja. Sedangkan lampiran hanya kuesioner 4 halaman. Pada waktu pengumpulan skripsi siap uji, saya cetak di barel (yang jual pulsa, dekat pan cake durian), untuk 4 bendel skripsi saya habis sekitar 120 ribu. Sedangkan untuk cetak 3 hard cover, di buring, kira-kira saya habis 250 ribuan. Kok murah? ya 3 hard cover 105 ribu, sisanya untuk 99 halaman x 3 itu. Jangan lupa print bolak balik dan biar murah tidak semuanya dicetak digital, yang hitam putih di cetak di mesin foto copy sama mereka. Harganya print warna 2.800 perlembar dan 200 sekian untuk hitam putih. Penting banget, jangan lupa bilang ke operatornya cetak bolak-balik dan dikasih pembatas. Karena saya sempat ada insiden lupa bilang kalau dikasih akan pembatas, jadi operatornya gak atur dulu, nah pas mau disisipin pembatas malah gak pas karena awal bab ada yang dibalik halaman bab sebelumnya. Jadi ada beberapa halaman yang harus di print ulang, untungnya tidak ada halaman warna yang kena. :D


Share:

Sunday, 29 January 2017

SKRIPSI, done! (Part 2)


  • Gimana proses pengerjaan skripsinya?
Alhamdulillah ya, saya baik-baik saja. Tidak berdarah-darah pun tidak ada luka batin atau fisik. Skripsi itu melenakan, kayak gak ada kerjaan tapi sebenarnya ada yang harus di selesaikan. *Nanti saya bagi tips di part selanjutnya ya


  • Skripsi kurang lebih 2 bulan kan, boleh lihat linimasanya? 
Ya tentu saja, seperti yang sudah saya bilang sebelumnya memang bagi yang ingin menyelesaikan skripsi satu semester ini harus sedikit berpacu dengan waktu. Coba saya jelaskan linimasa kasar proses pengerjaan skripsi saya ya.
- Awal Agustus ; mulai cari topik
- Pertengahan Agustus : mulai nulis outline
- 29 Agustus : Deadline mengumpulkan outline siap uji ke sekretariat
- Pertengahan September : Sidang outline
- Setelah sidang - awal Oktober : harus pulang kampung :D
- Awal Oktober - 27 November : Proses pengerjaan 
- Akhir Oktober : selesai revisi bab 1,2,3 dan buat instrumen penelitian
- akhir Oktober - awal November : UTS dan nunggu acc kuesioner
- Menjelang pertengahan November: mulai sebar kuesioner (online)
- Pertengahan November: mulai olah data dan nulis bab 4
- Menjelang akhir november: Finishing
-  25 November: Kirim skripsi final ke dosen pembimbing
- 26 November: Revisi Final
- 27 November: Acc dan mengumpulkan ke sekre


  • Kuanti bukannya susah ya SPSS nya?
Enggak juga sebenarnya, tergantung kebutuhan penelitiannya. Jadi gini sebagai orang yang lebih suka kepastian, saya lebih prefer kuanti karena itu ada angkanya jadi tinggal kita elaborasi dengan teori dan fakta sesungguhnya. Berbeda dengan kuali ya semuanya analisis bergantung kepada kemampuan peneliti. Karakter dan kemampuan orang berbeda-beda, jadi sesungguhnya kita sendiri yang lebih tau penelitian yang seperti apa yang cocok untuk kita. Tidak ada yang lebih pintar dan tidak pintar, ini hanya soal karakter dan orientasi masing-masing orang saja. Jangan lupa pula, semua menyesuaikan dengan kebutuhan penelitian kita ya.

  • Olah data dengan SPSSnya pakai jasa atau kerjain sendiri?
Kerjain sendiri semua, sempet berpikir untuk pakai jasa karena waktunya sudah mepet. Tapi akhirnya saya kerjain sendiri dan selesai dalam waktu semalam. Pertimbangannya, ini akan over budget kalau saya pakai jasa, data saya tidak terlalu banyak hanya 30 pertanyaan dan 75 responden, saya sebar online jadi sudah ada rekapnya dari google form sehingga gak akan makan banyak waktu untuk input di SPSS, dan yang utama kalau olah sendiri lebih bisa menyesuaikan dengan kebutuhan output saya. Sempat panik karena laptop baru saya windows 10 ternyata spss lama tidak compatible. Tapi, semua masalah pasti ada solusi, keep calm and everything gonna be okay. SPSS itu pasti gede dan ada lisensinya, saya sudah coba semalaman tapi tidak bisa dan malah laptop saya kena virus karena download sembarangan, akhirnya saya ke Detos install SPSS. Blok tempat servis laptop, tempatnya pas di depan detos 21 yang banyak CD. Biaya install dan CD 50ribu, beres bisa ditunggu. Btw  *Nanti saya bagi tips untuk mengerjakan SPSS sendiri ya. 
Share:

SKRIPSI, done! (Part 1)

Sebelumnya saya pernah menulis tentang kebimbangan saya dalam memilih jalur kelulusan, yang pada akhirnya saya putuskan untuk skripsi dengan berbagai pertimbangan yang sudah saya ceritakan.

Alhamdulillah, semua sudah beres. Jadi saya bisa berbagi cerita dengan lengkap ya. Tapi saya akan menulis seperti dalam bentuk Q&A ya, biar lebih sistematis saja :)

Saya mulai dari setelah sidang outline, jadi memang di jurusan saya mahasiswa tidak mencari calon dosen pembimbing karena program yang mengatur itu. Kita hanya tinggal menunggu kabar kira-kira siapa calon dosen pembimbing kita dan kapan sidang outline.

  • Tidak bisa milih dosen dong?
Program tetap memperbolehkan itu, tapi konsekuensinya kalau ada problem di kemudian hari maka program tidak bisa bertanggung jawab. Jadi saya sih ikut saja, pastinya program kan juga gak sembarangan milihin. Bahkan mungkin lebih tau dari kita karena kita mungkin terlalu subjektif.


  • Apa yang dipilihin jadi calon dosen pembimbing itu sudah pasti?
Belum tentu juga, semua tergantung dari hasil sidang outline kita. Kalau misal dosen merasa tidak sesuai dengan kompetensinya ya bisa ada kemungkingkan menolak. Sebenarnya kalau di awal sih tidak terlalu masalah, tinggal menunggu calon dosen pengganti saja. Tentu akan lebih repot kalau ganti di tengah-tengah, karena setiap dosen biasanya memiliki karakter dan bidang yang berbeda-beda. Jadi kalau ganti dosen di tengah, kemungkinan akan lebih banyak perombakan.


Sidang outline di komunikasi UI seperti apa?
Intinya ya memaparkan outline penelitian kita. Tapi beda dengan seminar yang biasanya lebih terbuka dan banyak pengujinya. Di jurusan saya sidang outline hanya dengan ketua sidang dan calon dosen pembimbing. Karena disini masih outline jadi juga gak perlu yang terlalu detail. Bahkan saya saat itu tidak pakai powerpoint, benar-benar saya sampaikan kira-kira gambaran penelitian saya seperti apa. Hanya untuk mempertegas outline yang sudah kita kumpulkan dan dibaca calon dosen pembimbing saja. Selesai presentasi singkat lalu tanya jawab, disini sebenarnya titik penentu dari penelitian kalian ke depan. Ada yang penelitiannya dirombak, hampir berubah total, seperti ganti metode bahkan ganti topik. Namun ada pula yang aman, tidak banyak revisi jadi tinggal melanjutkan outline. Alhamdulillah saya termasuk golongan yang kedua.

  • Hasil sidang outlinenya bagaimana?
Calon dosen pembimbing saya bersedia, topik dan judul saya juga diterima. Jadi topik penelitian saya tentang pengaruh twitter terhadap reputasi dengan studi kasus UI. Teori yang saya gunakan information subsidies dan metodenya kuantitatif, selebihnya kalau mau tahu detail bisa cek di lib.ui.ac.id ya. :)


  • Proses bimbingannya bagaimana? 
Proses bimbingan sebenarnya sepenuhnya kebijakan masing-masing dosen karena dari program juga tidak ada kebijakan yang mengatur masalah ini. Hanya ada ketentuan mengenai jumlahnya minimal 10 kali bimbingan. Kalau saya pribadi alhamdulillah lancar sih ya, gak terlalu banyak drama. Dosen pembimbing saya, Mas Teguh Poeradisastra, M.M. yang super baik. Jadi saya selalu bimbingan di kampus ketika beliau selesai ngajar pada hari senin atau selasa. Selebihnya saya bimbingan by email karena beliau super sibuk. Alhamdulillah pokoknya saya bersyukur banget semuanya lancar, walaupun sedikit ada miss yang bikin saya agak panik karena awal november belum juga turun lapangan padahal deadline akhir bulan itu.  But everything is okay, bahkan saya jadi orang pertama yang mengumpulkan tugas akhir siap uji ke sekretariat. #kibasjilbab haha

Selebihnya lanjut ke part 2 ya :)
Share:

Wednesday, 26 October 2016

It's your turn, skripsi/TKA/Jurnal

Akhirnya  tiba juga giliran saya untuk memilih jalur kelulusan, mungkin ini sedikit terlambat untuk saya menceritakannya. Tapi tidak apa  ya, toh mungkin tahun depan prosedurnya juga masih sama selama kurikulumnya sama.

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa apa yang saya ceritakan terbatas pada ilmu komunikasi UI. Bukan ilmu komunikasi di universitas lain, pasti beda peraturan bahkan di FISIP UI aja masing-masing jurusan punya peraturan yang berbeda-beda. Kalau di KOM UI, mahasiswa tidak harus skripsi karena ada 3 jalur kelulusan yang dipilih.

  • SKRIPSI
SKRIPSI bobotnya 6 sks, dengan syarat ipk minimal 3,5. Boleh aja dibawah itu sedikit ambil skripsi tapi ya dengan segala pertimbangan. Pada dasarnya skripsi disini ya sama kayak di tempat lain. Kalau kita ambil skripsi, langkah yang harus ditempuh: Kumpulin outline > dapat dosen pembimbing > sidang outline dengan dosen pembimbing dan ketua sidang (beda dengan seminar) > Selanjutnya sesuai dengan keputusan sidang outline. 

  •  TKA (Tugas Karya Akhir)
TKA bobotnya 4 SKS, tidak ada syarat IPK. Sebenarnya mungkin juga sama beratnya dengan skripsi, tapi dengan karakter yang berbeda. TKA sifatnya lebih praktis sehingga harus real dan aplikatif, kalau skripsi lebih akademis. Jadi total halaman dan batas minimum buku referensi juga pasti beda. Intinya TKA ini kayak bikin projek, kalau humas misal bikin kampanye ya kayak bikin proposal sampai anggaran dana, strategi, dll. Kalau misal teman-teman iklan ya bikin dummy kira-kira nanti bagaimana. Biasanya jalur ini banyak diminati orang-orang yang lebih suka teknis. Oh ya, TKA sama juga kayak skripsi ada sidang outline, dll. 

  • JURNAL
Ini jalur terdamai, tidak ada bobotnya dan tidak ada prosedural sidang outline dll. Jadi kalau jurnal itu jumlahnya hanya 10 halaman, teman-teman tetap bikin outline dan juga tetap punya dosen pembimbing. Saya lupa detilnya peraturan teknis jurnal, tapi yang jelas ini tidak perlu riset lapangan karena semuanya data sekunder. Tidak ada batasan ipk juga, bebas siapa saja boleh ambil dan nyatanya ini memang jalur paling banyak diminati. Tapi gak bisa dianggap sebelah mata juga, karena sekalipun sks sudah terpeuhi bahkan lebih dari 146 tapi kalau gak bikin jurnal ya gak bisa juga. Tetep lulus cuma katanya gak bisa ambil ijazah. 


LALU, KALAU GITU MILIH JURNAL SEMUA DONG? Hmmm enggak juga, ada sebagian yang skripsi, ada TKA juga, dan memang mayoritas jurnal. Tapi sebenarnya ini hanya soal karakter orang, sama sekali tidak bisa disimpulkan kalau anak-anak skripsi pasti yang lebih pinter dan yang ambil jurnal pasti anak-anak pemalas. Bukan seperti itu, masing-masing jalur kelulusan memiliki karakter dan tuntutan sendiri-sendiri. Jadi mungkin ke karakter orangnya juga lebih suka yang mana, tidak terasosiasi dengan kecerdasan seseorang. Semuapun juga butuh tekat dan semangat. hehe. 

Lalu, saya ambil apa? setelah merenung akhirnya saya memutuskan untuk skripsi. Sempat ingin jurnal dan menutup kekurangan mata kuliah dengan belanja saja mata kuliah lain. Tapi ternyata semester ini mulai berlaku peraturan baru, kalau mau ambil mata kuliah lain harus pakai surat. Dengan pertimbangan saya males ngurus surat karena posisi masih di Kediri dan pertimbangan idealisme saya (haha) akhirnya mantap ambil skripsi. Doakan ya, semoga lancar dan selesai secepatnya. 

 Kalender akademik semester ini 



Sebenarnya ini yang bikin greget, karena memang semester ini nampak sangat pendek. Oke aku mau bercerita satu-satu ya :)

  • Outline dikumpulkan maksimal tanggal 29 agustus bertepatan dengan hari pertama masuk kuliah. Jadi buat anak rantau yang ingin menempuh jalur keulusan semester ini, ya mungkin jadi gak bisa balik h-1 kayak sebelum-sebelumnya. hahaha. Tapi gak juga sih, bisa juga bikin di rumah terus nitip temen buat kumpulin. Haha. 
  • Sidang outline tanggal 13-23 september. Jadi habis mengumpulkan outline, program akan bekerja keras mencarikan siapa pembimbing yang cocok untuk kita (baik jalur skripsi, tka maupun jurnal). Lalu kita akan dikabari siapa dosen pembimbignya sekalian dengan jadwal sidangnya. Ya waktunya beda-beda, ada yang diakbari seminggu sebelumnya tapi ada juga yang h-2 baru tahu. Tapi sebenarnya gak masalah karena baru sidang outline aja kan.
  • Batas akhir pengumpulan skripsi dan TKA siap uji 30 november. Jadi kira-kira punya waktu bersih sekitar 2 bulan. Jadi ya berdoa aja semoga semua lancar dan segera selesai tanpa luka fisik dan luka hati :D



Share:

Sunday, 20 September 2015

Biaya hidup di UI (Universitas Indonesia)

UI (Universitas Indonesia) sebuah perguruan tinggi penyandang nama bangsa yang terletak di Depok, Jawa Barat. Meskipun letaknya tergolong di pinggiran Jakarta, tapi nyatanya Depok tidak kalah padat dengan Jakarta. Apalagi yang berada di sekitaran jalan Margonda Raya yang menghubungkan Depok dengan Jakarta, jangan ditanya lagi volume kendaraan terlebih lagi saat jam-jam sibuk. Memang kota besar, khususnya di Indonesia identik dengan macet, biaya hidup mahal, kriminalistas tinggi, dll. Tetapi apa sebenarnya di UI seperti itu? Sebelum saya menulis lebih jauh, perlu diketahui bahwa tulisan ini merupakan sudut pandang saya yang notabene anak daerah ( non jabodetabek). Sehingga mungkin bisa berbeda bagi teman-teman yang asli anak sini.

Pertama, kita bahas masalah biaya kuliah. Sebenarnya, menurut saya pribadi biaya kuliah di UI tidaklah mahal. Ya standard, bahkan bisa dikatakan sedikit lebih murah dibanding universitas negeri lainnya. Biaya per semester untuk sainstek (Fakultas Teknik, Mipa, Farmasi, Kedokteran, Kedokteran Gigi, Ilmu komputer, Kesehatan Masyarakat, dan Ilmu keperawatan) berkisar antara 100ribu sampai 7,5 juta. Biaya itu merupakan biaya total, artinya kamu tidak perlu lagi bayar biaya praktikum atau yang lain. Sementara untuk rumpun sosial (Fakultas Ekonomi, Ilmu Budaya, FISIP, Psikologi, dan hukum) range biayanya berkisar antara 100ribu - 5juta. Lalu mungkin kamu akan bertanya bagaimana penetapan biayanya? Kita saat diterima bisa memilih sistem pembayaran yang kita inginkan, antara lain: bayar penuh (bayar lunas dengan nominal tertinggi), bayar cicil ( bayar 3x dengan nominal tetinggi), BOPB (mirip sistem ukt, yaitu nominalnya disesuaikan kemampuan orang tua). Disini bukan seperti SMA yang anak bos dan pegawai biasa di pukul rata, kita bisa memilih sistem pembayaran sendiri sesuai dengan kemampuan kita. Bahkan kita bisa memberitahukan kira-kira berapa nominal yang sanggup kita bayar, tapi tetep keputusan akhir ada di UI. Jadi semuanya bisa kuliah di UI ya, jangan takut soal biaya. Bahkan jika kamu aktif mencari info, banyak sekali beasiswa yang ditawarkan. Tentunya selain bidikmisi ya :) . Supaya lebih jelas terkait biaya pendidikan dapat diakses di www.ui.ac.id/akademik/biaya-pendidikan.html

Lalu bagaimana dengan biaya hidup? Jika boleh saya katakan, biaya hidup akan sebanding dengan life style kita. Disini semua terfasilitasi, artinya kalau kamu mau hidup hemat bisa, mau teramat sangat boros juga bisa. Tidak usah khawatir, kamu masih bisa makan murah di warteg dengan lauk yang cukup bergisi. Coba saya sebutkan ya, rata-rata nasi putih 3 ribu, sayur 1-2ribu, telur 3 ribu, ayam 6 ribu, tempe tahu krupuk seribu dan gratis air putih. Murah kan? Dengan sayur dan telor biasanya saya habis 7 ribu. Disini juga banyak warung penyetan berkisar 7 ribu untuk tempe tahu dan 15 ribu untuk ayam. Kalau mau yang lebih dari itu kita bisa pilih sendiri banyak banget warung, restoran, rumah makan yang ada di sepanjang jalan margonda, food court margo city dan detos. Sementara itu, untuk tempat tinggal juga banya sekali pilihannya. Bagi teman-teman maba mungkin bisa di asrama dulu, dengan biaya hanya 300ribu perbulan. Selain murah, ini juga memudahkan kamu untuk bersosialisasi dengan banyak orang. Jikapun mau kos, pilihannya juga banyak mulai dari yang ratusan - jutaan, ya mungkin untuk standard sekitar 500 ribu perbulan, semakin banyak fasilitas dan semakin dekat jaraknya tentu semakin mahal. Disini juga ada apartment, dengan harga berkisar 1,7 juta - 3 juta mungkin perbulan. Ada pula pilihan kontrak rumah bagi yang mau rame-rame, lagi-lagi tergantung jarak dan fasilitasnya tetapi mungkin standard kisaran 15-20 juta pertahun. Jadi kita tetep bisa kuliah di UI dengan biaya hidup yang terjangkau kan ya? :) 


Share:

Sunday, 6 September 2015

Wisma Michelle (Kos dekat UI Depok)

Postingan ini mungkin akan berasa iklan tapi tidak juga, mungkin lebih tepatnya testimoni dan sedikit deskripsinya saja. Walaupun saya belum mengenal sepenuhnya kost ini tapi alhamdulillah sejauh ini nyaman baik dari segi fisik maupun non fisik (baca:lingkungan sosial). Sebelum menemukan ini, saya telah melihat beberapa kost lain tapi ternyata jodoh saya wisma michelle. Mungkin ketika saya DP kost ini adalah perjalan ke sekian saya menyusuri kober (wilayah seberang stasiun UI). Setiap pulang kuliah saya muter-muter, melihat apakah ada tulisan "ada kamar kosong". Akhirnya, di perjalanan yang kesekian, saya melihat tulisan itu di Wisma Michelle. Langsung saya telepon, janjian besok lihat dan eng ing eeeeng langsung saya DP saat itu juga.
Sebenarnya yang kosong itu banyak, tapi mencari kost itu gak bisa sembarangan. Apalagi dengan kisah terdahulu yang kurang menyenangkan. Dulu saya sebenarnya cukup nyaman dengan fisik kost yang lama, namun dari segi lain membuat saya memilih untuk pindah. Oleh sebab itu, saya memilih kost yang setidaknya fasilitasnya setara dengan kost saya yang lama. Inilah yang membuat pencarian kost saya lama sekali, sampai mepet sekali dengan habisnya masa tinggal saya di asrama. Saya percaya jodoh tidak kemana, Alhamdulillah Allah mempertemukan saya dengan Wisma Michelle. Ketika itu memang jodohmu, selalu ada jalan dan tidak ada keraguan lagi dalam hati. 
Oke, maafkan jika terlalu banyak curhat, sekarang i'll tell u about wisma michelle (My bedroom, exactly) 

Fasilitas umum yang ada disini adalah Free wifi access tiap lantai beda pemancar, TV LED untuk bersama di lantai 1, dapur dan kulkas bersama di lantai 2, parkir motor di dalam rumah, dan halaman cukup untuk 2 mobil. Kesan saya selama beberapa bulan disini sih nyaman-nyaman aja, kayak saya bisa betah seharian gak keluar kamar karena ya sudahlah semua sudah terpenuhi disini. Kalau misal mau makan terus males keluar bisa beli aja di mbak penjaganya, begitupun laundry. Sedangkan untuk galon dan token kita tinggal sms aja nanti orangnya dateng. Oh ya, kalau disini token beli sendiri tiap kamar, tapi gak masalah buat orang kayak saya yang paling cuma butuh listrik untuk lampu, charge dan heater aja. Waktu itu sekitar bulan mei saya beli 30 ribu dan belum beli lagi sampai sekarang (juni). Bahkan saya lihat token saya masih 53 Kwh dari awalnya sekitar 60 sekian Kwh. Dari segi fasilitas kosan ini menurut saya tidak ada kekurangan, paling kekurangannya karena letaknya bisa terbilang agak masuk kedalam jadi awalnya mager juga jalan kaki.
Share:

Monday, 1 September 2014

My lecturer is ex director RCTI

Hallo september , Wish me luck to run my new periode and more better than before. Kuliah pertama di semester ini cukup banyak perubahan , mulai dari jam kuliah yang biasa pagi jadi siang, dari orang-orang di kampus yang rame dedek-dedek lucu sampai pastinya dosen-dosen baru dan matkul baru.

Tadi siang berangkat ke kampus kayak aneh karena kampus rame orang-orang baru yang gak kenal sama sekali jadi serasa asinh dalam keramaian. Tapi gak ngaruh juga sih, saya mah langsung ke kelas mencari habitat saya. Kuliah perdana saya dimulai jam 11.00 dengan matkul pengantar penyiaran. For your information, semester ini saya bakal belajar semua pengantar peminatan komunikasi. Nah, untuk matkul pengantar penyiaran ini kita mengenal dasar - dasar penyiaran dulu, mencakup history , teori dan juka sedikit teknis. Bagi saya apapun itu tidak masalah yang penting saya enjoy dengan teman dan dosennya. Matkul ini satu-satunya yang tidak memunculkan nama dosen sama sekali jadi kita benar-benar acak milihnya. How lucky i am! Saya Amazing banget pas tadi kenalan dosennya, namanya Mbak Esti. Masih muda, Good lucking, Ramah dan lulusan luar negeri. Beliau baru 3 tahun ngajar di UI karena sebelumnya dia 10 tahun sebagai sutradara di RCTI. Motivasi saya dulu masuk ui karena tertarik kerja di tv , tapi untuk sekarang goyah. Jadi ketika ada orang yang bisa share pengalaman dengan real ini sangat menarik bagi saya. Dari cara mbak Esti ngajar, kayak bisa kebayang ritme kerja di TV. 

Backgroundnya sebagai orang tv sedikit banyak ilmunya di share dengan kita. Ini terlihat dari SAP , di pertemuan mendatang kita akan kedatangan dosen tamu dari presenter tv , produser dan kita juga akan berkunjung ke KPI. Wow, it's really amazing guys :D

Share:

Tuesday, 5 August 2014

Ilmu komunikasi universitas indonesia

Halo , beranjak sedikit dari apa yang biasa aku tulis. Kali ini aku mau berbagi cerita tentang Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Meskipun baru setahun tapi semoga apa yang saya bagikan bisa menambah pengetahuan tentang jurusan ini terutama bagi adik-adik yang sedang bimbang memilih jurusan.

Ilmu komunikasi di UI merupakan salah satu departemen yang ada dalam fakultas ilmu sosial dan ilmu politik. Di Ui masih bergabung dengan FISIP, beda dengan unpad yang komunikasinya telah menjadi Fakultas ilmu komunikasi (Fikom).  Di jurusan ini kita bisa memilih 5 peminatan yang bebas dipilih sesuai keinginan dan bakat kita, yaitu humas , penyiaran , jurnalisme , kajian media dan periklanan.

Mahasiswa sarjana ilmu komunikasi memiliki 3 jenis mata kuliah , yaitu matkul wajib unibersitas , matkul wajib fakultas dan matkul wajib jurusan. Di luar itu , kita boleh ambil mata kuliah lain yang tidak dalam daftar matkul yang kita ambil atau disebut belanja. Tidak hanya boleh belanja lintas peminatan saja , bahkan lintas jurusan atau fakultaspun bisa. Tapi sampai mau  semester 3 ini saya belum belanja karena departemen masih menetapkan sistem paketan untuk maba. Jadi kita tidak milih kelas dan dosen sendiri, melainkan sudah dibagi kelas dan nama dosennya. Kita hanya memasukkan kelas sesuai pembagian pada waktu isi irs. Pada semester satu kita dipaketkan , dengan 7 matkul yang terbagi dalam 1 matkul wajib jurusan yaitu pengantar ilmu komunikasi (PIK) , 2 matkul universitas yaitu mpkt o/s dan mpkt a dan sisanya matkul fakultas yaitu pengantar politik, sosiologi,antropologi dan penulisan ilmiah. Sedangkan pada semester 2 , kita juga dipaketkan bahkan termasuk 3 matkul wajib jurusan. Jadi kita benar-benar tidak ada siak war (rebutan kelas). Sedangkan untuk semester 3 ini kita hanya dipaketkan matkul wajib fakultas , jadi kita harus siap-siap siak war. Maka dari itu kita perlu amunisi yang cukup sebagai strategi perang , kita sebaiknya tanya-tanya senior supaya tidak salah pilih kelas sehingga kita nyaman belajarnya.

Share: