Showing posts with label OTHERS. Show all posts
Showing posts with label OTHERS. Show all posts

Monday, 28 August 2017

Jogja: Jendela Indonesia


Sumber: Dokumentasi Pribadi

Jogja, ibarat sebuah jendela bagi rumah yang bernama Indonesia. Layaknya sebuah jendela, memang tidak bisa memperlihatkan semua yang di dalamnya. Namun, dari yang terlihat melalui jendela sudah bisa mencerminkan bagaimana keseluruhan isinya. Tidak perlu masuk ke setiap ruangan yang ada, cukup tengok saja dari balik jendela maka kita sudah bisa menyimpulkan walau mungkin hanya satu kata. Jika indonesia terlalu luas, coba singgah dulu ke Jogja. Setiap sudut kota ini bisa menjadi cerminan panorama Indonesia yang sesungguhnya. Itulah mengapa, melihat Jogja ibarat menilik Indonesia dari jendela, sehingga tidak berlebihan ungkapan "menjadi Jogja menjadi Indonesia".

Bhineka Tunggal Ika, itulah semboyan bangsa Indonesia, yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Begitupun Jogja, perbedaan itu begitu terasa disana. Dinobatkannya bandara adi sucipto menjadi salah satu bandara tersibuk di Indonesia, menjadi bukti bahwa Jogja sangat terbuka untuk pendatang. Hilir mudik orang dengan latar belakang berbeda-beda tiada henti setiap harinya. Tapi Jogja tetaplah Jogja, tidak serta merta hilang jati dirinya tergerus budaya turis manca negara ataupun mahasiswa yang terus memadatinya. Namun sebaliknya, semua perbedaan itu justru menyatu dalam harmoni dengan semboyan yang diamini bersama, "Jogja Istimewa".

Ketika sedang berjalan menikmati suguhan budaya dan wisata Jogja, mungkin Malioboro ataupun wisata lainnya, coba sesekali perhatikan betapa berwarnanya pengunjung disana. Dari bahasa, karakter, warna kulit bahkan busananya, rasanya semua sewarna-warni batik di pasar beringharjo. Hal itu menunjukkan bahwa Jogja begitu terbuka untuk semua golongan. Kalau contoh itu terlalu sederhana, cobalah beranjak dari kota dan pergi ke Gunung Kidul, hidden paradise of Java. Sembari menikmati panorama pantai yang begitu memanjakan mata, kita bisa melihat nilai toleransi yang luar biasa di pantai ngobaran. Adanya pura yang bersanding dengan sebuah mushola, menjadi bukti nyata bahwa toleransi sudah membudaya di Jogja sejak dulu dan terus terjaga.

Budaya jawa begitu terasa di Jogja. Tidak hanya tercermin pada papan nama jalan yang menggunakan aksara jawa. Lebih dari itu, karakter ramah, sopan dan santun telah melekat dengan karakter orang-orang Jogja. Menjadi sebuah nilai yang agung ketika karakter itu terus bertahan, sekalipun gemerlap pembangunan industri pariwisata modern terus berjalan. Sesekali belajarlah menyatu dengan warga lokal, di pasar tradisional misalnya. Sehingga oleh-oleh kita bukan hanya bakpia, namun juga membawa pulang nilai-nilai yang njogjani

Bagiku, begitu menenangkan melihat senyum sumringah dibalik kehidupan yang nampak begitu sederhana. Guyub dan rukun, itulah kesan yang akan kita dapati melihat bagaimana mereka berinteraksi dan bertegur sapa. Bagaimana mungkin orang tidak betah, bahkan Jogja terlampau nyaman untuk disebut sebagai tempat singgah. Pantas saja, banyak mahasiswa yang awalnya hanya ingin kuliah tapi justru memilih menetap, menikah dengan orang lokal lalu dengan bangga memperkenalkan dirinya sebagai orang Jogja. 

Keistimewaan Yogyakarta tidak hanya tercermin dari budayanya yang masih kental dalam segala lini, namun Jogja juga sangat istimewa jika ditilik dari sejarah bangsa. Jogja menjadi bagian penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, salah satunya dengan dipilihnya Jogja menjadi Ibu Kota. Menyusuri jalanan Jogja seperti menyibak kembali perjuangan bangsa, monumen Jogja kembali, benteng vredeburg, monumen serangan umum 1 maret dan tempat-tempat bersejarah lainnya. Bahkan siapa sangka hotel inna garuda juga menjadi bagian dalam sejarah kemerdekaan, sebab sempat dialih fungsikan menjadi komplek pemerintahan sementara. Jogja telah menjadi bagian dari sejarah, sehingga sudah sepantasnya jika jiwa nasionalisme itu juga selalu tercurah selamanya. Turun temurun menjadi indentitas orang-orang Jogja, bersanding dengan ramah dan berbudaya. 

Kini, 72 tahun sudah kemerdekaan Indonesia. Tetapi bukan berarti perjuangan selesai, sebab perpecahan tak ubahnya menjadi momok bangsa yang majemuk ini. Sehingga inilah saatnya, Jogja hadir kembali menjadi "penyelamat" bangsa, memberikan sirkulasi dan angin segar layaknya sebuah Jendela, menunjukkan eksistensi Jogja yang istimewa. Tidak perlu mengakat senjata seperti dahulu kala, namun cukup dengan menjaga dan menularkan budaya Jogja. Sebab, menjadi Jogja adalah menjadi Indonesia. 

"Sudah semestinya Keistimewaan Jogja adalah untuk Indonesia. Bahwa menjadi Jogja, adalah menjadi Indonesia" Sri Sultan HB X  

Indah sekali jika bangsa ini bisa tenang berdampingan dalam perbedaan, selayaknya pura dan mushola di pantai ngobaran. Jika keramahan, guyub, rukun, gotong royong terus menjadi karakter diri, mungkin berjalan di negeri ini akan senyaman berjalan di malioboro sembari menikmati melodi dari para musisi. Terlebih lagi jika semua itu dibarengi pula dengan jiwa nasionalisme yang tinggi, itukah kemerdekaan yang hakiki?. Aku cinta Jogja dan aku cinta Indonesia.




Share:

Thursday, 17 August 2017

Pendaftaran santri baru Gontor (Pengalaman pribadi) - Part 2

Ini merupakan lanjutan dari postingan sebelumnya tentang pendaftaran gontor (khususnya putri), bagi yang belum membaca part 1 silakan klik link berikut PENDAFTARAN GONTOR - PART 1 :)


4. Bagaimana alur pendaftarannya? 
Alur pendaftarannya sangat panjang sekali karena ada 9 pos. Dari pos 1 sampai 9 tersebut semua berpusat di sekitar gedung oren, jadi walaupun harus lari-larian tapi tetap dalam satu area. Saya agak lupa urutannya, jadi saya minta maaf  kalau beberapa kebalik-balik gak berurutan dan hanya bisa menceritakan secara garis besar yang saya ingat ya.


Map berisi formulir, dll.


  • Pos 1 - Pengarahan

Tahap pertama atau disana disebut pos 1, yang harus diikuti oleh calon pelajar dan calon wali santri adalah ikut pengarahan. Pengarahan diadakan 3 kali sehari, yakni pagi, siang dan dan habis isya, jadwal detailnya perhari biasanya ditempel di gerbang depan yang penjagaan santri. Pengarahan tidak lama, seingat saya gak sampai 1 jam. Inti dari pengarahan ini sendiri adalah mengenalkan Gontor. Di akhir pengarahan tersebut akan diberikan map yang isinya formulir, surat pernyataan dan lain-lain. Oleh sebab itu, pengarahan ini bersifat wajib karena kalau gak ikut pengarahan ya gak dapat formulir.

Saran saya, cari tempat duduk yang aksesnya mudah. Terutama untuk anaknya, karena saat akan di bagikan formulir anak akan di kumpulkan di kursi barisan depan dan orang tua harus berpindah. Semakin depan posisi anak, maka semakin duluan juga menerima formulir dan bisa langsung mengisi untuk dibawa ke pos berikutnya. Sebab sekali pengarahan itu orangnya tidak sedikit, jadi kalau gak cepat-cepat jelas antriannya ke pos-pos berikutnya akan sangat panjang sekali. Jelas habis banyak waktu untuk mengantri, padahal pos nya ada 9. Resikonya adalah proses tersebut gak bisa selesai dalam 1 hari, padahal kalau cepat proses itu bisa selesai gak sampai 2 jam.

Oh ya, kemarin saya kesana pas tanggal 10 syawal dimana itu batas absensi santri lama. Jadi paginya ada acara apa gitu, yang mengharuskan pendaftaran santri baru off dulu. Sehingga pengarahan pada hari itu hanya ada sekali yakni pada malam hari (jam 8 malam)
  • Pos 2 - Pengisian formulir
Jadi tulisan pos 2 ini sebenarnya ada di teras gedung oren, di situ tersedia meja dan kursi yang cukup banyak untuk menulis. Tapi pada faktanya orang-orang gak banyak yang nulis disitu, termasuk saya juga. Sebab kita harus memburu waktu untuk menghindari antrian tadi. 

Saran: isi formulir lebih cepat lebih baik. Kalau mau cepat, begitu anaknya sudah pegang formulir langsung suruh mundur dan langsung isi di dalam gedung oren saja gak perlu di meja. Bagian sisi belakang itu kan gak ada kursinya, jadi kemarin kita mengisi dengan lesahan disitu, itu lebih PW dan cepat daripada di meja. Sebenarnya tulisan supaya diisi oleh calon santriwati sendiri, tapi lagi-lagi karena kejar-kejaran dengan waktu jadi sebaiknya dibantu apalagi yang baru lulusan SD. Oh ya, siapkan 2 buah materai 6000 karena ada surat pernyataan yang harus bermaterai.


  • Pos 3 - Pengecekan berkas

Saya sampai pos ini paling cepat, benar-benar orang pertama. Disini sebenarnya prosesnya cepat, hanya cek kelengkapan berkas, centang-centang dan stempel. Tapi ya namanya orang ratusan jadi pasti tetap antri kalau keburu ramai. Sampai pos ini di map nya baru centang-centang aja, sedangkan untuk foto dan kamar asrama itu nanti di pos selanjutnya. Kalau nomor peserta saya lupa itu dapatnya di pos berapa. hehe.

Formulir yang sudah melewati semua pos dan siap dibawa ujian tulis

  • Pos 4 - Input berkas
Sejujurnya mulai pos ini saya lupa urutannya, yang jelas tahapannya kurang lebih begitu tapi mungkin kebalik-balik saja, maaf sekali. Jadi di post ini kita cuma perlu ngasih berkasnya ke panitia untuk di input ke komputer. Beberapa ada yang di konfirmasi ulang untuk memastikan aja mungkin.


  • Pos 5 - Bayar 
Di post ini tinggal menyerahkan uang pendaftaran sesuai dengan yang tertulis di web. Setelah membayar nanti akan diberi kiitansi yang nanti di serahkan lagi ke pos selanjutnya.


  •  Pos 6 - Pos kesehatan 
Pos kesehatan disini dilakukan oleh dokter dari BKSM. Jadi di dalam map hijau yang dari pengarahan tadi ada surat pernyataan sehat yang akan di tanda tangani oleh dokter di pos ini. Disini calon pelajar harus membayar Rp 30.000, mungkin untuk biaya beli alat karena itu sekali pakai. Tes kesehatannya seperti tes kesehatan di sekolah umum, tidak rumit dan tidak makan waktu lama. Tenang aja gak perlu dikhawatirkan selama kita hidupnya bener, gak konsumsi obat terlarang, gak macem-macem juga. hehe :)

Tapi di pos ini agak panjang prosesnya, karena ada beberapa tahap yang harus di lalui. Pertama naruh map dulu, di panggil lalu seinget saya dikasih kertas (tapi lupa kertas apa). Lalu ke pengarahan, dikasih alat dan dijelasin cara penggunaannya. Sudah sampai situ anaknya harus masuk sendiri ke ruangan, orang tua nunggu di luar. Beres dari ruangan itu, harus ke ruangan sebelahnya. Tenang aja ada petunjukknya selalu. 

  • Pos 7 - Dapat kartu capel dan asrama 
Saya benar-benar lupa sesungguhnya dapat kartu capel itu di post mana, tapi kalau asrama insyaAllah di post ini. Jangan lupa bawa foto sesuai dengan syarat pendaftaran, karena salah satunya untuk di tempel di kartu ini. :)



  • Pos 8 - Beli buku dan parabot 
Jadi bagi yang belum beli parabot, kayak kasur, gayung dan ember bisa beli disini. Begitupun untuk beberapa buku, seperti buku doa, pelajaran bahasa arab 1, tuntunan sholat, dll. Tapi gak banyak yang bisa dibeli disini, mungkin hanya yang dipakai kedua-duanya baik kelas intensif maupun reguler. Bahkan kemarin (lagi-lagi saya kurang ingat angka pastinya) untuk buku gak sampai 100rb. Kalau  parabot ya hampir sama seperti diluar, tapi lupa berapanya. Disini gak wajib, kalau misal sudah punya ya gak apa-apa gak usah beli. Karena saya gak cek daftarnya, ternyata kebeli buku yang adik saya sudah punya. Kalau parabot adik saya cuma beli gayung, karena hanya itu yang belum kebeli. Sebelum daftar kita udah beli parabot di latansa, beberapa juga beli di toko-toko depan pondok. 

  • Tes Lisan
Rangkaian terakhir dari proses pendaftaran ini adalah tes lisan. Kalau ikut pengarahan pagi mungkin tes lisan bisa hari itu juga. Saat itu karena kita ikut pengarahan malam hari, jadi keesokan harinya baru ujian lisan. Setelah beres semua proses pendaftaran, nanti akan dijadwalkan untuk ujian lisan. Mengenai waktu dan ruangannya akan ditempel di papan pengumuman depan gedung oren. Pagi setelah shubuh sudah ada pengumuman dan adik saya dapat kloter pertama yaitu pukul 07.00 WIb. 

Saran saya datang jauh sebelum jam 7, karena GP 1 ini kan luas jadi jalannya aja juga butuh waktu. Jangan lupa untuk membawa berkas karena seingat saya map yang hijau itu akhirnya diberikan disini, diserahkan kepada Ustadz yang menjadi penguji. Mengenai materi yang diujikan akan saya ceritakan di postingan selanjutnya :)


------------------------------------------------------------------- Berlanjut di PART 3 :) 
Share:

Tuesday, 15 August 2017

Pendaftaran santri baru Gontor (Pengalaman pribadi) - Part 1

Assalamualaikum wr. wb.

Apa kabar? semoga kita semua senantiasa terjaga dalam lindungan Allah. Aamiin ya robbal alamin



Dalam postingan ini, saya ingin berbagi pengalaman ketika mendaftarkan adik saya untuk nyantri di Gontor Putri (mungkin bisa ada perbedaan di Gontor Putra). Ini adalah pengalaman pertama saya dan keluarga mendaftarkan ke Gontor, Alhamdulillah. Sebelum kesana saya banyak cari info di internet dan tanya sana sini, tapi mungkin karena pengalaman pertama jadi tetap ada saja hal yang bikin surprise. :). Semoga saya bisa berbagi secara menyeluruh supaya memberi gambaran ke calon santri maupun wali calon santri Gontor. Supaya lebih sistematis mungkin akan saya bikin semacam FAQ (Pertanyaan dan jawaban).

1) Persyaratan pendaftaran Gontor apa saja? 

  1. Menyerahkan 2 lembar fotokopi STTB terakhir atau Surat Keterangan Lulus yang telah dilegalisir oleh pejabat yang berwenang.
  2. Berbadan sehat dengan Surat Keterangan dokter dari Balai Kesehatan Santri dan Masyarakat (BKSM) Pondok Modern Darussalam Gontor.
  3. Menyerahkan pasfoto berwarna dengan ukuran 4 x 6 sebanyak 4 lembar dan 3 x 4 sebanyak 2 lembar (putra); dan pasfoto berjilbab putih, berlatar belakang biru, berukuran 4 x 6 sebanyak 2 lembar dan 3 x 4 sebanyak 8 lembar (putri).
  4. Memenuhi ketentuan-ketentuan atau iuran-iuran yang telah ditetapkan pada waktu pendaftaran.
  5. Menyerahkan 1 lembar fotokopi Akta Kelahiran (putra); dan 3 lembar fotokopi Akta Kelahiran (putri).
  6. Menyerahkan 1 lembar fotokopi KTP wali santri/yang mewakilinya (khusus putra).
  7. Menyerahkan 1 lembar fotokopi Kartu Keluarga (khusus putri).
  8. Mendaftarkan diri sesuai dengan cara dan waktu yang telah ditentukan.
Informasi mengenai persyaratan yang saya tulis diatas dan segala hal mengenai pendaftaran lebih jelasnya dapat dilihat di web resmi gontor dengan link berikut info pendaftaran gontor.

2) Waktu pendaftarannya kapan?


Pendaftaran calon pelajar (capel) Pondok Modern Darussalam Gontor dilaksanakan pada:
  1. Putra: Tahap Pertama: Tanggal 23-28 Ramadhan 1438/18 Juni-23 Juni 2017; dan Tahap Kedua: 5-10 Syawwal 1438/29 Juni-4 Juli 2017, bertempat di Pondok Modern Darussalam Gontor Pusat, Mlarak, Ponorogo;
  2. Putri: Tanggal 5-14 Syawwal 1438/29 Juni-8 Juli 2017, bertempat di Pondok Modern Darussalam Gontor Putri Kampus 1, Sambirejo, Mantingan, Ngawi.
Jadi pendaftaran untuk putri hanya dibuka 1 gelombang, yakni tanggal 5-14 Syawal. Meskipun demikian banyak calon santri dan santriwati yang sudah disana sebelum pendaftaran dibuka. Namun saran saya tidak perlu buru-buru mendaftar di hari pertama. Ada beberapa alasan kenapa saya pribadi menyarankan demikian, antara lain:

  1. Pertama, dari cerita orang-orang yang saya temui, hari pertama pendaftaran sangat penuh. Bahkan nomor calon pelajar di hari pertama sudah mencapai 500 lebih (saya lupa angka pastinya, kalau tidak 600 ya 800 sekian). 
  2. Kedua, ketika sudah mendaftar dan mendapat asrama, calon pelajar harus tinggal di asrama hingga ujian dan pengumuman. Jika pengumuman biasanya h+ 3-4 ujian tulis, jadi seandainya mendaftar di hari pertama maka setidaknya anak harus tinggal disitu paling sedikit 18 hari. Dengan kegiatan yang masih santai, 18 hari itu sangat rawan membuat anak jadi bosan dan goyah (galau). 
  3. Ketiga, tidak sedikit calon pelajar yang belum mau ditinggal oleh orang tuanya, jadi mau tidak mau orang tuanya menemani disitu. Tentu 18 hari bukan waktu yang sebentar untuk orang tua meninggalkan pekerjaan. Kalau dekat mungkin masih bisa pulang dulu, nanti pengumuman balik lagi. Tapi kalau jauh kemungkinan ya harus menemani dari awal sampai akhir. Di Gontornya sendiri juga cukup PR, lebih-lebih bagi kita yang baru pertama jadi persiapan seadanya. Nanti saya ceritakan di bagian selanjutnya mengenai tempat tinggal saya selama menemani disana.

3. Biaya untuk santri baru Gontor berapa? 

Kemungkinan biaya ini mengalami perubahan dari waktu ke waktu, sehingga sebaiknya terus mengikuti informasi dari web site resmi gontor saja. Namun untuk tahun ini biaya yang harus dibayarkan calon santri baru adalah sebagai berikut:


Biaya tersebut harus dibayarkan lunas ketika proses pendaftaran. Jadi itu satu rangkaian dalam proses pendaftaran, nanti saya ceritakan di bagian selanjutnya. Kalau seandainya anak belum lolos maka uang tersebut akan dikembalikan, kecuali uang makan yang telah terpakai, uang kepanitiaan bulan syawal, dan uang sumbangan pembangunan. Kira-kira nominalnya sekitar satu juta sekian, sehingga uang yang berhak diambil kembali sekitar 4 juta. Pengembalian tersebut ada batas waktu tertentu, bukan sepanjang waktu.

--------------------------------------------------------------------------------Bersambung di PART 2 
Share:

Monday, 12 September 2016

Samsung galaxy note 8 tidak bisa dicharge

Tepat sekitar sebulan lalu, ketika saya sedang di Jogja tiba-tiba tab saya Samsung Galxy Note 8 tidak bisa di charge. Awalnya saya pikir kabel chargernya rusak, karena saya sudah tidak pakai kabel orinya, bahkan sudah sempat ganti kabel 2 kali. Akhirnya saya beli kabel di counter, pas coba di counter bisa langsung ngecharge. Tapi setelah itu gak bisa lagi sampai besok paginya drop 0%. Ya saya panik sih, karena posisi lagi di Jogja. Mau di servis takut lama karena saya tidak lama di Jogja, tapi kalau tidak di servis ya bagaimana posisi di luar kota pasti sangat butuh komunikasi. Akhirnya saya putuskan untuk keliling Jogja cari samsung service center, tapi syukur alhamdulillah di tengah perjalanan tiba-tiba bisa di charge tapi pas sampai 60% gak bisa lagi (tanda petir hilang). Habis gitu saya putuskan tidak jadi ke tempat service karena 60% cukuplah untuk dihemat sampai ke Depok. Alhamdulillah lagi, pas sampai stasiun bisa di charge lagi.

Besoknya normal, langsung ada tanda petir ketika di charge. Tapi HPnya jadi aneh, sempet gak mau ngecharge kalau gak mati, sering mati sendiri, dan kalau di shut down malah kayak restart yang langsung nyala lagi. Tapi saya tetep belum bawa ke servisan, karena lama kelamaan dia bener-bener normal lagi, ya walaupun sekarang jadi cepet banget panas. Saya takut ini yang bermasalah Batterynya. 

Port USB yang lama
Kemarin lusa kamis malem, tiba-tiba HPnya tidak bisa di charge sama sekali. Biasanya kalau panas tidak mau masuk, tapi biarin tetep dicolok nanti pas dingin bisa sendiri. Ini saya tunggu semalaman tetap tidak masuk, sampai akhirnya drop 0%. Saya sempet browsing ternyata, banyak juga teman-teman pengguna Samsung Galaxy Note 8 yang mengalami masalah serupa, uniknya pemakaiaan kita hampir sama (sekitar 2 tahun) dan habit kita juga sama (sering charge tidak pakai charge aslinya). Nah kebanyakan teman-teman problemnya adalah port USB yang rusak, jadi solusinya harus ganti port dengan biaya sekitar 200-300ribu.




Akhirnya untuk pertama kalinya, saya ke samsung service center. Diluar banyangan saya, ternyata tempatnya SSC di Detos ini enak sekali, tempatnya nyaman sekali dan CSnya banyak jadi tidak perlu menunggu lama nomor saya langsung dipanggil. Setelah  saya jelaskan dan CS mencoba chaarge, CS juga bilang biasanya untuk device ini dengan problem seperti ini kemungkinan harus ganti port USB dengan estimasi biaya ganti port USB dan jasa service 296.000. Tapi untuk memastikan nanti akan di check dulu dan saya akan dikabari lagi. Pada saat itu barangnya lagi kosong jadi mau tidak mau harus ditinggal paling lama 2 hari dan sedihnya HPnya udah drop duluan jadi saya gak sempat back up apa-apa. 
Kwitansi manual Samsung Service Center


Wah ternyata sore harinya saya ditelpon Samsung Service Center Detos (02178870181) yang memberitahu bahwa barangnya sudah selesai service dan bisa diambil. Cepet banget saya juga kaget dan bahagianya lagi pas saya check disana ternyata tidak ada data yang hilang sama sekali jadi tidak di reset ulang. Hoho. Sedangkan untuk biaya tetap sesuai eestimasi yaitu 296.000 dengan garansi service selama satu bulan. Sekarang sudah bisa di charge lagi, yeeey :D  
Share:

Sunday, 10 January 2016

Review nonton bareng film tausiyah cinta




Kediri, 10 Januari 2016. Semoga belum telat membahas film tausiyah  cinta yang cukup membuat saya penasaran dari bulan lalu. Sebenarnya di Depok waktu itu sudah ada nonton bareng tanggal 6 Desember, tapi mau UAS saya pending dulu dan nunggu tayangnya saja. Sampai akhirnya saya pulang ke Kediri film ini belum tayang juga, ternyata baru tayang serentak 7 Desember. Meskipun begitu, kalau kamu mau nonton film ini di golden ya belum ada. Tayang serentak itu biasanya buat XXI dan blitz megaplex, ya beda kelas jadi golden jadi makmum ajah. haha. Kayak yang lain udah tayang serentak, disini baru masuk list coming soon. Tapi syukur setidaknya ada bioskoplah, gak kayak yang sering dipertanyakan teman-teman kuliah saya, "Di Kediri ada mall sama bioskop gak?". haha.


Film tausiyah adalah film religi yang sangat kental dengan unsur-unsur dakwah. Film yang disutradarai oleh Humar Hadi berkisah tentang kehidupan seorang  businessman muda sukses bernama Lefan Aurino (Diperankan oleh Rendy Herpy) yang dipertemukan dengan seorang arsitek muda dan sholeh bernama Azka (Hamas Syahid) dan kemudian jatuh cinta dengan mahasiswi sholehah nan cantik bernama Rein (Kareina Zahra). Sebenarnya Lefan juga berasal dari keluarga religius, namun sayang ia harus menjadi korban broken home ketika papanya meninggalkan mamanya dan memilih wanita lain. Bahkan ketika mama dan kakaknya meninggal, lalu ia tinggal hidup sendiripun tetap tidak bisa menerima papanya. Oleh sebab itu, ketika bertemu dengan Azka ia seperti melihat seorang yang penuh karisma dengan keteduhannya. Sementara itu, ia jatuh cinta kepada Rein yang mirip seperti kakaknya.


Lefan melihat Azka sebagai orang yang sangat baik, meskipun disibukkan dengan kegiatannya sebagai arsitek namun hafalannya tetap terjaga dan selalu menjumpai Allah dengan shalatnya. Lefan yang merasa hidupnya tidak terarah, tidak menemukan ketenangan hati dan hanya mengejar urusan dunia, menanyakan kepada Azka apakah ia tidak bosan dengan hidupnya yang terkesan sangat datar. Disisilain, ia meragukan keadilan Tuhan terhadap keluarganya. Mama dan kakaknya seorang wanita sholehah, bahkan kakaknya seorang pedakwah. Namun mamanya harus tersakiti oleh papanya, sementara kakanya harus menderita penyakit pencernaan kronis hingga merenggut nyawanya. Lefan terus menanyakan pertanyaan-pertanyaan kritis kepada Azka yang selama ia pendam dalam hati.

Lefan dan Azka terlibat dalam suatu projek untuk menggarap usulan inovasi dari seorang mahasiswi (Rein) tentang daur ulang air wudhu. Saat mendengarkan presentasi Rein, lefan merasa ada yang tak biasa hingga kemudian ia terus terbayang-bayang. Lefan bermaksud untuk mengenal Rein lebih dekat  melalui murabinya. Sampai akhirnya ia benar-benar mantap dan menemui ayahnya Rein untuk menyampaikan niat baiknya untuk meminang Rein. Namun sayang, dengan istikharah dan segala pertimbangan Rein tidak menerima pinangan Lefan. Setelah kejadian itu, ayahnya yang bertindak untuk mencarikan Rein pedamping dengan mengunjungi masjid untuk mencari pemuda sholeh yang pernah ia lihat. Tidak lain pemuda itu adalah Azka, pemuda sholeh yang saat itu sedang menyetor hafalan  kepada seorang Ustadz di masjid tersebut. Namun sayang, Azka sudah lama tidak ke Masjid itu lagi dan menghilang dari kehidupannya.

Pada suatu ketika saat meninjau proyek, Azka tertimpa musibah. Lampu yang menjatuhinya membuat serpihan kaca masuk ke matanya dan membuat matanya menderita kebuataan total. Titik inilah yang kemudian membuat Azka seperti bukan Azka yang dulu. Azka yang selalu optimis kini sangat murung dan depresi. Pada saat yang sama, Ibu Azka sedang koma di rumah sakit. Ia merasa hidupnya sudah tidak berguna dengan kondisinya, bahkan ia memutuskan untuk pulang kampung ke Surabaya dan resign dari pekerjaannya sebagai arsitek. Lefan sebagai teman baiknyapun turut menyemangati Azka dengan mengunjunginya ke Surabaya, namun Azka justru menyuruhnya segera pulang. Azka belum bisa menerima musibah yang menerimanya.

Akhir ceritanya, Azka bertemu dengan sahabat lamanya bernama Fatih (Irwansyah) yang kemudian memberikan  semacam dorongan spiritual kepadanya dan juga menawarkannya berobat ke Jerman. Rein menikah dengan Afian, seorang pemuda sholeh yang juga penulis pilihan ayahnya. Sedangkan Lefan seperti melihat perubahan dari Papanya. Lefan belajar dari semua kejadian yang ada melalui Mamanya, Kakaknya, Azka, Rein dan Afian.


Menurut saya film ini memang kental dengan unsur-unsur dakwah namun tidak memaksa. Artinya ceritanya mengalir, realistis dan masih bisa diterima logika. Memang ceritanya sederhana, tapi kayak setiap kata dalam film itu memiliki makna yang dalam meresap dalam jiwa penonton (khusunya saya). Misalnya saat Lefan bilang kepada Azka kurang lebih seperti ini"  "Apa karena lo merasa terlalu sholeh lalu Tuhan tidak berhak menguji lo? sombong lo ya". Banyak banget sih, apalagi pas Lefan kayak nulis dalam buku diary gitu. Kata-katanya sangat dalam dan puitis, jleb jleb jleb. haha. Intinya filmnya bagus, tapi kok saya merasa durasinya pendek banget dan endingnya kayak kurang jelas. Kayak tiba-tiba udah muncul credit titlenya. haha.



Share:

Sunday, 20 September 2015

Biaya hidup di UI (Universitas Indonesia)

UI (Universitas Indonesia) sebuah perguruan tinggi penyandang nama bangsa yang terletak di Depok, Jawa Barat. Meskipun letaknya tergolong di pinggiran Jakarta, tapi nyatanya Depok tidak kalah padat dengan Jakarta. Apalagi yang berada di sekitaran jalan Margonda Raya yang menghubungkan Depok dengan Jakarta, jangan ditanya lagi volume kendaraan terlebih lagi saat jam-jam sibuk. Memang kota besar, khususnya di Indonesia identik dengan macet, biaya hidup mahal, kriminalistas tinggi, dll. Tetapi apa sebenarnya di UI seperti itu? Sebelum saya menulis lebih jauh, perlu diketahui bahwa tulisan ini merupakan sudut pandang saya yang notabene anak daerah ( non jabodetabek). Sehingga mungkin bisa berbeda bagi teman-teman yang asli anak sini.

Pertama, kita bahas masalah biaya kuliah. Sebenarnya, menurut saya pribadi biaya kuliah di UI tidaklah mahal. Ya standard, bahkan bisa dikatakan sedikit lebih murah dibanding universitas negeri lainnya. Biaya per semester untuk sainstek (Fakultas Teknik, Mipa, Farmasi, Kedokteran, Kedokteran Gigi, Ilmu komputer, Kesehatan Masyarakat, dan Ilmu keperawatan) berkisar antara 100ribu sampai 7,5 juta. Biaya itu merupakan biaya total, artinya kamu tidak perlu lagi bayar biaya praktikum atau yang lain. Sementara untuk rumpun sosial (Fakultas Ekonomi, Ilmu Budaya, FISIP, Psikologi, dan hukum) range biayanya berkisar antara 100ribu - 5juta. Lalu mungkin kamu akan bertanya bagaimana penetapan biayanya? Kita saat diterima bisa memilih sistem pembayaran yang kita inginkan, antara lain: bayar penuh (bayar lunas dengan nominal tertinggi), bayar cicil ( bayar 3x dengan nominal tetinggi), BOPB (mirip sistem ukt, yaitu nominalnya disesuaikan kemampuan orang tua). Disini bukan seperti SMA yang anak bos dan pegawai biasa di pukul rata, kita bisa memilih sistem pembayaran sendiri sesuai dengan kemampuan kita. Bahkan kita bisa memberitahukan kira-kira berapa nominal yang sanggup kita bayar, tapi tetep keputusan akhir ada di UI. Jadi semuanya bisa kuliah di UI ya, jangan takut soal biaya. Bahkan jika kamu aktif mencari info, banyak sekali beasiswa yang ditawarkan. Tentunya selain bidikmisi ya :) . Supaya lebih jelas terkait biaya pendidikan dapat diakses di www.ui.ac.id/akademik/biaya-pendidikan.html

Lalu bagaimana dengan biaya hidup? Jika boleh saya katakan, biaya hidup akan sebanding dengan life style kita. Disini semua terfasilitasi, artinya kalau kamu mau hidup hemat bisa, mau teramat sangat boros juga bisa. Tidak usah khawatir, kamu masih bisa makan murah di warteg dengan lauk yang cukup bergisi. Coba saya sebutkan ya, rata-rata nasi putih 3 ribu, sayur 1-2ribu, telur 3 ribu, ayam 6 ribu, tempe tahu krupuk seribu dan gratis air putih. Murah kan? Dengan sayur dan telor biasanya saya habis 7 ribu. Disini juga banyak warung penyetan berkisar 7 ribu untuk tempe tahu dan 15 ribu untuk ayam. Kalau mau yang lebih dari itu kita bisa pilih sendiri banyak banget warung, restoran, rumah makan yang ada di sepanjang jalan margonda, food court margo city dan detos. Sementara itu, untuk tempat tinggal juga banya sekali pilihannya. Bagi teman-teman maba mungkin bisa di asrama dulu, dengan biaya hanya 300ribu perbulan. Selain murah, ini juga memudahkan kamu untuk bersosialisasi dengan banyak orang. Jikapun mau kos, pilihannya juga banyak mulai dari yang ratusan - jutaan, ya mungkin untuk standard sekitar 500 ribu perbulan, semakin banyak fasilitas dan semakin dekat jaraknya tentu semakin mahal. Disini juga ada apartment, dengan harga berkisar 1,7 juta - 3 juta mungkin perbulan. Ada pula pilihan kontrak rumah bagi yang mau rame-rame, lagi-lagi tergantung jarak dan fasilitasnya tetapi mungkin standard kisaran 15-20 juta pertahun. Jadi kita tetep bisa kuliah di UI dengan biaya hidup yang terjangkau kan ya? :) 


Share:

Sunday, 6 September 2015

Wisma Michelle (Kos dekat UI Depok)

Postingan ini mungkin akan berasa iklan tapi tidak juga, mungkin lebih tepatnya testimoni dan sedikit deskripsinya saja. Walaupun saya belum mengenal sepenuhnya kost ini tapi alhamdulillah sejauh ini nyaman baik dari segi fisik maupun non fisik (baca:lingkungan sosial). Sebelum menemukan ini, saya telah melihat beberapa kost lain tapi ternyata jodoh saya wisma michelle. Mungkin ketika saya DP kost ini adalah perjalan ke sekian saya menyusuri kober (wilayah seberang stasiun UI). Setiap pulang kuliah saya muter-muter, melihat apakah ada tulisan "ada kamar kosong". Akhirnya, di perjalanan yang kesekian, saya melihat tulisan itu di Wisma Michelle. Langsung saya telepon, janjian besok lihat dan eng ing eeeeng langsung saya DP saat itu juga.
Sebenarnya yang kosong itu banyak, tapi mencari kost itu gak bisa sembarangan. Apalagi dengan kisah terdahulu yang kurang menyenangkan. Dulu saya sebenarnya cukup nyaman dengan fisik kost yang lama, namun dari segi lain membuat saya memilih untuk pindah. Oleh sebab itu, saya memilih kost yang setidaknya fasilitasnya setara dengan kost saya yang lama. Inilah yang membuat pencarian kost saya lama sekali, sampai mepet sekali dengan habisnya masa tinggal saya di asrama. Saya percaya jodoh tidak kemana, Alhamdulillah Allah mempertemukan saya dengan Wisma Michelle. Ketika itu memang jodohmu, selalu ada jalan dan tidak ada keraguan lagi dalam hati. 
Oke, maafkan jika terlalu banyak curhat, sekarang i'll tell u about wisma michelle (My bedroom, exactly) 

Fasilitas umum yang ada disini adalah Free wifi access tiap lantai beda pemancar, TV LED untuk bersama di lantai 1, dapur dan kulkas bersama di lantai 2, parkir motor di dalam rumah, dan halaman cukup untuk 2 mobil. Kesan saya selama beberapa bulan disini sih nyaman-nyaman aja, kayak saya bisa betah seharian gak keluar kamar karena ya sudahlah semua sudah terpenuhi disini. Kalau misal mau makan terus males keluar bisa beli aja di mbak penjaganya, begitupun laundry. Sedangkan untuk galon dan token kita tinggal sms aja nanti orangnya dateng. Oh ya, kalau disini token beli sendiri tiap kamar, tapi gak masalah buat orang kayak saya yang paling cuma butuh listrik untuk lampu, charge dan heater aja. Waktu itu sekitar bulan mei saya beli 30 ribu dan belum beli lagi sampai sekarang (juni). Bahkan saya lihat token saya masih 53 Kwh dari awalnya sekitar 60 sekian Kwh. Dari segi fasilitas kosan ini menurut saya tidak ada kekurangan, paling kekurangannya karena letaknya bisa terbilang agak masuk kedalam jadi awalnya mager juga jalan kaki.
Share: