Saturday, 23 April 2016

PECEL BAKMI PASAR BERINGHARJO

Source:
http://photo.liputan6.com/lifestyle/menikmati-kelezatan-bakmi-pecel-khas-pasar-beringharjo-2431923

Bagi yang pernah ke Jogja dan mampir ke pasar beringharjo pasti tau kuliner pecel bakmi. Tdak susah juga mencarinya karena penjualnya ada di sisi luar pasar. Begitu anda sampai di pasar beringharjo maka anda langsung bisa menemukan deretan penjual pecel ini disisi-sisi depan pintu masuk pasar. Penjualnya banyak banget, dengan menu yang sama, hanya saja mungkin komposisi sayur yang ditawarkan beda dan lauk pelengkapnya juga beda.

Well, seporsi pecel bakmi terdiri dari sayur mayur (biasanya selalu ada kembang turi), mie goreng kemudian disiram bumbu pecel. Sebenarnya menurut saya agak aneh sih kayak pecel ya pecel aja, mie ya mie aja jangan pecel campur mie. haha. Tapi ya itu justru uniknya kali ya. Kalau anda yang mau pakai nasi juga bisa, artinya sebenarnya anda bebas mau mie siram bumbu pecel aja, atau pecel sayur saja atau pakai nasi juga bisa. Harga untuk satu porsi lengkap (Nasi, pecel dan mie atau pecel dan mie) seharga 10ribu rupiah. Sedangkan untuk mie atau pecel aja seharga 5ribu. Terdapat pula berbagai macam lauk pelengkap yang bisa kita pilih, ada gorengan yang cuma seribu rupiah, ada sate telur puyuh, ati ampela, usus seharga 5 ribu rupiah pertusuk, ada ayam goreng juga cuma saya gak tau harganya. 

Source: http://nginepmana.com/yogyakarta/asli-kuliner-di-jogja-ini-emang-bikin-ngilerr

Is it recommended? 
Anda harus mencobanya, karena aksesnya mudah dan ini kuliner terkenal di Jogja selain gudeg. Sekedar untuk tau aja, biar kalau ada tetangga cerita anda udah tahu. haha. Tapi sejujurnya ada beberapa hal yang mungkin bisa teman-teman pertimbangkan.

Source: http://nginepmana.com/wp-content/uploads/2015/05/421.jpg
Pertama, porsinya tidak banyak. Ya sebagai orang yang sangat suka makan sayur, menurut saya ini sangat sedikit. Bahkan nasinya mungkin hanya beberapa sendok. Tapi semoga ini hanya penilaian subjektif saya sebagai wanita yang selalu makan sayurnya banyak. haha. Sayangnya saya sendirian saat itu, jadi saya gak bisa lihat porsi ini untuk orang lain, khususnya lelaki. Sebenarnya ada pembeli di kios lain, tapi agak jauh dan saya lagi fokus ngobrol sama ibunya. Biasa, kalau di tempat baru saya selalu sok ide ngajak ngobrol warga lokal. haha. 


source: http://photo.liputan6.com/lifestyle/
Kedua, tempatnya sempit. Lokasinya ada di depan pintu masuk pasar yang mana itu selalu penuh lalu lalang orang. Jadi sebisa mungkin cari tempat yang agak lapang atau tidak banyak dilalui orang. Saya waktu itu cari penjual yang sepi, ya karena saya sendiri bagaimanapun pasar itu tempat umum jadi takut aja digodain om-om jail atau brondong-brongdong labil. haha. Tapi ternyata sepanjang saya disitu, saya beberapa kali kesenggol orang yang lewat. Untung badan saya gede, jadi pertahanan kuat. haha. 


Ketiga, harganya gak murah. Ya untuk ukuran Jogja menurut saya ini mahal. Pecel di kediri harganya paling 4-5ribu satu porsi, sedangkan di Depok 8-9ribu sudah sama tahu tempe dan peyek. Di Beringharjo ini bener-bener polos, gak ada lauknya sama sekali. Sebelum menulis ini saya baca review orang, bahkan ada yang menyebut ini saudaranya lesehan malioboro. haha. Jadi buat temen-teman yang baru ke Jogja hati-hati, namanya juga tempat wisata, pedagang lesehan di malioboro terkenal suka banting harga gitu. Kalau pecel ini gak banting harga, tapi ya emang mahal sih. Pas itu saya makan pecel lengkap + 1 mendoan + setusuk sate tulur puyuh dan minum teh, yang harus saya bayarkan adalah 19 ribu. Satu tusuk sate telur puyuh isi 5 butir seharga 5 ribu itu juga mahal, paling kalau tempat lain 2-3 ribu. Oh ya pas itu ada mbak-mbak mau bungkus, dia bilang mau bungkus 2 lengkap dan dia bilang, "5ribuan kan buk?". Si penjualnya bilang kalau lengkap 10ribu, kalau mie atau pecel aja 5 ribu. Terus si mbaknya jadinya bungkus 1 aja. haha. Kalau saya saat itu sih biasanya aja, bayar 19 ribu juga gak berat hati karena memang saya niat mencoba kan jadi ya paling gak balik lagi. haha. Ya untuk sekedar tahu aja sih gak masalah, toh itu juga tempat wisata dan saya perginya sendiri. Beda kalau misalnya saya perginya satu keluarga, wah lain cerita misal 19X5=95 ribu. Belum lagi saya rasa lelaki pasti kurang 1 porsi. Wah itu lebih dari cukup buat saya makan sekeluarga di soto gobyos (soto daging dekat 521 - brawijaya Kediri). 




Share:

Friday, 22 April 2016

Malioboro "berhias"

source: http://simcardjepang.com/apa-uniknya-jogjakarta/

Malioboro. Sebuah nama jalan di Jogja yang begitu terkenal, bahkan mungkin orang yang belum pernah ke Jogjapun juga tahu jalan ini. Jalan yang katanya surga belanja dan surga kuliner, memang lokaisnya sendiri juga strategis sih. Kayak jalan dari stasiun bisa, mau ke tugu paling 1km aja, bringharjo juga disitu, nol kilometer juga. Sehingga gak heran memang kalau akhirnya kawasan maliboro menjadi ring pusat pariwisata Jogja. Teman-teman kalau mau cari penginapan itu banyak banget di sekitar situ, dari mulai yang murah seperti munajat backpacker  sampai yang sekelas inna garuda juga ada. Dengan demikian, gak heran kalau jalan maliobro ini padatnya luar biasa. Apalagi kalau malam minggu, saya juga bingung gitu sebenarnya mereka ngapain kayak mau jalan aja susah.

Pertanggal 4 April maret kemarin malioboro mulai "berhias", Sri Sultan melakukan penataan parkir sisi timur malioboro. Jadi kalau teman-teman jalan dari utara ke selatan (dari stasiun tugu ke beringharjo/nol km) itu kan terbagi ruas, jalan paling kanan/barat untuk mangkal andong dan becak, tengah buat kendaraan umum, lalu sisi timur/kiri buat parkir. Dulu suka susah gak sih kalau mau jalan, kalau jalan di trotoar barat takut tau-tau diserudug andong dari belakang. haha. Tapi kalau mau jalan di timur kayak banyak motor parkir. Nah sekarang parkir motor itu sudah gak ada, parkir motor malioboro direlokasi ke parkir abu bakar ali. Rencana jangka panjangnya maliobro akan seperti gambar dibawah ini.


Souce the last 3 images: https://www.brilio.net/
Kalau mau tahu lebih lengkap teman-teman bisa cari beritanya sendiri ya, itu sudah banyak banget di media online. Well, kalau saya pribadi sih sangat antusias dengan penataan ini. Sebagai turis luar daerah yang datang tanpa kendaraan ya ini bagus banget. Malioboro menjadi semakin nyaman untuk pejalan kaki, lebih rapi jug gak ada riuh parkir motor sana-sini. Saya sengaja jalan dari stasiun ke malioboro juga karena pengen tahu gimana penataannya yang baru. Pada saat itu saya kesaa tanggal 9, jadi baru selang 5 hari dari relokasi. Kondisinya ya sudah bersih, sisi timur itu diberi pagar-pagar pembatas kemudian juga dijaga banyak personil keamanan. Kursi taman juga sudah ada, tapi memang baru sedikit.

Saya senang aja, jalan di trotoar yang lebar, kemudian saya sangat menikmati suasananya. Gak sepi tapi juga gak padet, jadi ya rame aja. Banyak orang lalu lalang seperti biasa, ini pikiran saya kayaknya udah mulai penuh ya senenglah ya sampai ke Jogja lagi. Saya duduk di bangku taman disitu, dekat petugas keamanan dan mbak2 yang lagi sesi curhat. Ya saya waspada ada jangan sampai menerima cat calling, apalagi selebihnya. Kalau disitu kan aman, secara saya duduk samping 3 petugas keamanan, kayak orang berani ngapain gitu. Saya senang aja, duduk disitu sambil mengamati anak muda yang selfi sana-sini, pejalan kaki, musisi jalanan, riuhnya pertokoan dan jalan sekitar. Cuma satu yang bikin kurang lengkap, jalannya sendirian. hahahaha. 
  
Saya menyadari bahwa kebijakan tak mungkin menyenangkan semua pihak. Saya sebagai turis yang datang tanpa kendaraan sangat mendukung kebijakan ini. Tapi mungkin lain cerita dengan teman-teman yang datang bawa kendaraan, pegawai toko disana, dan terutama juru parkir disana. Relokasi parkirnyapun itu gak dekat sebenarnya, tapi pemerintah juga sudah berusaha mengakomodir kebutuhan masyarakat dengan menyediakan bus gratis dari parkiran abu bakar ali ke malioboro. 

Share:

Jogja never ending story

Stasiun Tugu Yogyakarta
Source: http://jogjaholidays.com/

Sebenarnya saya bingung mau kasih judul apa, ya sudahlah ya itu aja. Haha. Pada postingan sebelumnya saya sudah cerita gimana perjuangannya ngejar kereta jam 6.45 dari lari2an Depok ke Senen. Saya juga sudah cerita kenapa harus ke Jogja lagi, jadi kali ini mau cerita tentang pas saya sudah di Jogjanya. :)

Well, saya sampai jogja sore hari dengan cuaca mendung-mendung manja. Jujur saya saat itu berdoa jangan hujan dulu, saya gak mau dong ke jogja cuma numpang pindah tempat tidur doang. Pasti itu menyedihkan. Alhamdulillah selama 2 hari disana gak hujan, cuma mendung itu aja. Saya lebih bersyukur lagi karena pas saya udah di Kediri ada berita Jogja hujan lebat. Planning saya saat itu, kalau hujan ya langsung naik taxi aja ke penginapan. Kalau aman, gak hujan, saya akan jalan-jalan ke malioboro yang saat itu baru saja resmi memindahkan parkir ke parkiran abu bakar ali. Sebenarnya saya juga pengen ke Tugu Jogja dulu, tapi saya bingung aja kayak tugu jogja dan malioboro itu bertolak belakang kalau dari stasiun. Jadi ya saya harus pilih salah satu demi efektivitas segala hal. haha. Alhamdulillah karena gak hujan jadi kita bisa ke malioboro dulu. Yeey.

Saya jalan dari tugu ke malioboro, ya itu gak jauh sih sebenarnya. Cuma karena pikiran saya kayak masih ketinggalan di kasur kostan, di lampu merah, di pasar senen, dimana-mana dan mau hujan juga jadi yaa sedikit ngos2an juga. Apalagi itu sepanjang pintu barat tugu dan jalan pasar kembang banyak banget yang nawarin becak. Saya harus jalan cepet antara takut hujan dan males ditanya2in tukang becak. Haha. Kondisi saya jalan sendirian saat itu, dengan dandanan dan tentengan yang saya rasa itu membuat saya kelihatan mencolok. Ada banyak hal ingin saya ceritakan, jadi kita sambung perbagian di posting selanjutnya ya. :)
Share:

Wednesday, 20 April 2016

Jogja istimewa



Minggu lalu saya ke Jogja, sejenak. Seperti biasanya hanya seperti singgah, membangkitkan kembali kenangan yang tak kunjung terlupakan. Biasanya saya sampai Jogja pagi, sebelum matahari meninggi. Tapi kemarin karena jumat ada jadwal ujian jadi saya baru berangkat sabtu pagi dan sampai sana sore. Mungkin ada yang bertanya kenapa harus ke Jogja lagi? Saya sebenarnya juga tidak tahu alasan pasti, tapi yang jelas ada sisi emosional yang membuat Jogja memiliki ruang di pikiran (mungkin juga hati). Bukan karena ada siapa dan ada apa, tidak. Tapi saya suka Jogjanya itu sendiri, terutama suasana dan budayanya.

Saya tipe orang yang mendefinisikan kedamaian adalah ketenangan, artinya saya butuh ruang yang memang sangat tenang untuk mendapatkan kedamaian itu, Bagiku Jogja punya itu, saya bisa berjalan di sepanjang malioboro tanpa terganggu dengan cat calling (Istilah pelecehan secara verbal di jalan; digodain atau disuitin).  Selain itu Jogja bisa mengakomodir kebutuhan saya, budaya Jogja berpadu antara budaya modern dengan tradisional. Saya seneng aja ketika saya berjalan di Jogja, mereka sadar bahwa mereka tinggal di daerah wisata dan yang mereka hadapi turis. Istilahnya sebagai tuan rumah mereka seperti meyambut dengan senang hati. Ini yang saya cari, saya coba untuk tahu lebih banyak tentang Jogja lewat mereka.


Semakin kesini saya semakin jatuh cinta dengan Jogja, bagaimana saya menemukan kenyamanan ketika berada di Jogja. Memang saya belum mengenal Jogja sepenuhnya, tapi saya yakin Jogja masih istimewa sebagaimana lagu itu. Saya baru mulai untuk mengenal sosial budayanya, belum politik dan isu-isu lainnya. Karena saya tidak mungkin juga ngobrol soal kebijakan dengan ibu-ibu dipasar, tukang becak atau pedagang-pedagang di Malioboro kan? ;). Kalau ada kesempatan dan menemukan orang yang tepat pasti saya ngobrol lebih banyak soal itu semua.

Oh ya, saya juga asli orang jawa, lahir dan besar di Jawa. Hanya untuk kuliah ini saja pindah ke Depok. Mungkin ada yang berpikir, "Asli orang Jawa tapi lihat Jogja kok segitu tertariknya. Beda kalau misal orang Jakarta terus baru ke Jogja, itu wajar". Ya seperti yang saya bilang, saya senang dengan budaya Jogja dimana tradisional dan modern bisa melebur. Satu sisi saya suka banget dengan budaya orang desa yang guyub, kolektivis, ramah, dll. Tapi satu sisi saya hidup di jaman dimana slogan, "Mangan ra mangan sing penting kumpul" sudah tidak berlaku. Saya harus mengikuti perkembangan zaman untuk menjadi professional. Jogja aksesnya cukup mudah bisa ditempuh semua jalur, banyak institusi pendidikan sampai level tinggi, industrinya cukup berkembang banyak hotel-hotel internasional group ada disana, selain itu punya banyak tempat wisata ya saya gak pengen aja anak-anak saya kurang piknik. haha. Beda kalau di Kediri, aksesnya hanya bisa jalur darat, belum banyak industri/perusahaan skala besar, jauh banget sama tempat wisata kalau mau harus ke luar Kota. Kayak orang tua saya libur kerja pas hari minggu aja, jadi kebanyakan waktu libur ya untuk istirahat daripada pergi-pergi. Ya saya bayangin sebagai profesional saya juga tidak akan punya banyak waktu untuk keluarga, tapi disisi lain bagaimanapun quality time dengan keluarga itu penting. Makanya kalau di Jogja banyak pilihan, tidak melulu harus ke mall. Kita bisa sabtu malam sekedar makan malam bersama di cafe atau resto yang banyak sekali pilihannya disana. Mungkin juga bisa sekedar menghabiskan weekend kita ke pantai yang jaraknya mungkin tidak sejauh rumah saya ke Trenggalek. Tidak perlu mahal, yang penting kita menikmati kebersamaan dan nyaman. Kita bisa saling berbagi banyak cerita membayar semua waktu yang tersita untuk kerja. Lagipula Kediri Jogja itu kan gak jauh, kita bisa naik kereta yang hanya 3 jam.
 



Share:

Sunday, 17 April 2016

Bagaimana pendapatmu tentang sosial media? (2)

Pada bagian ke dua ini, saya ingin berbagi cerita mengenai kasus atau mungkin fenomena yang menarik bagi saya. (Part 1 , klik untuk melihat posting bagian 1). Kapasitas saya hanya sharing pengalaman dan pengamatan, bukan bicara level konsep, emangnya saya siapa? :) . Semoga tulisan ini sangat ringan dibaca, bisa disantap layaknya cemilan. Tidak bermaksud menggurui dan sok benar, tapi kembali lagi saya ingin mengajak introspeksi diri (menilai kedalam diri sendiri), apakah sudah bijak kita dalam menggunakan sosial media.

Sosial media itu menurut saya bebas berbatas, seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, anda tidak perlu menjadi ahli untuk menulis di sosial media. Siapapun boleh menulis apapun, tapi ada batasannya. Apa batasannya?

- Privasi anda sendiri
  Anda bebas mau cerita, bagi infomasi, pamer, mengeluh, bahkan nagih utangpun juga silakan. Belum pernah kan pas anda mau posting, terus ada tulisannya "maaf dilarang nagih hutang di facebook". Haha. Poin ini yang orang sering lupa karena mereka pikir sosial media bisa membantu mereka berekspresi. Orang tidak mau kalau orang lain ikut campur masalah rumah tangganya, begitupun orang tidak ingin aibnya tersebar. Celakanya justru yang menyebarkan itu, bukan hanya ke satu dua orang geng gosipnya, tapi ke semua orang. Bahkan ke orang yang sebenarnya gak kenal dan gak peduli soal itu. Misalnya, bikin status "Duh tanggal tua, mana si Abang gak kerja-kerja". Kira-kira apa yang terjadi? Apakah lantas teman-teman facebook anda memberi anda uang? Ya itu bisa saja terjadi, tapi saya pikir jarang sekali. Jelas yang pasti terjadi adalah orang jadi tahu kalau hidup anda susah, ekonomi keluarga anda buruk, hidup anda pas-pasan bahkan kekurangan, dan anda gak punya simpanan. Fatalnya lagi, orang jadi tahu kalau suami anda kerjanya serabutan, kerja musiman,  penghasilannya belum cukup memenuhi kebutuhan. Padahal bukannya kewajiban Istri harus menjaga aib suaminya ya?

Kalau di dunia nyata, yang tahu kondisi anda mungkin hanya tetangga atau orang-orang terdekat. Tapi dengan keluhan anda yang sangat sembrono di facebook itu, semua orang jadi tahu, Teman lama dan saudara-saudara anda yang tinggal beda kota bahkan beda pulaupun jadi tahu. Bagus kalau mereka masih punya rasa kasihan, kalau justru ditertawakan bagaimana? Jatuh harga diri anda di depan mereka.

- Kejujuran
Bukan hanya hubungan di dunia nyata saja yang butuh kejujuran, di sosial media juga. Hubungan apapun pondasinya tetap kejujuran. Lagi-lagi memang sosial media itu bebas, Anda bebas mengatur diri anda agar terlihat seperti apa. Misalnya saya nulis sekolah di Universitas Indonesia, emangnya facebook bakal ngecek apa saya beneran sekolah? Pasti enggak kan. Sebebas itu di sosial media karena memang tidak ada yang menjamin kebenarannya. Tapi ya tolong dong yang masuk akal, jangan mengira seolah-olah teman-teman anda di sosial itu semuanya gaptek. Misal update status, "Sebentar di Holland, sebentar di Itali, sebentar di Paris, sebentara di Jerman". Ya kalau yang bikin status Syahrini sih tidak masalah, tapi misalnya kalau yang bikin status itu saya? Pasti aneh kan, kayak orang jadi males temenan sama saya. Misal contoh lainnya, biasa sehari-hari kemana-mana juga naik motor, tiba-tiba update foto buka pintu mobil Ferrari, kira-kira apa yang terjadi? Bukannya terkesima, tapi orang malah akan mencibir anda. Mereka akan mempertanyakan, kayak apa yang anda tunjukkan di sosial media terlalu jauh dari kenyataan.  Apa dampaknya? Ya jelas orang gak percaya lagi sama anda.

Oke, mungkin anda membantah bahwa itu terjadi kalau orang lain tahu keadaan kita di dunia nyata. Lalu kalau enggak bagaimana? Jangan lupa, sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Cepat atau lambat kebohongan itu akan terbongkar juga. Apalagi kalau anda pengguna internet aktif, wah data anda berceceran dimana-mana. Lalu tinggal ditelusuri, lihat aja apakah informasinya konsisten. Kalau tidak sinkron, ya jelas itu sandiwara. Ya kalau anda punya naluri detektif saya yakin pasti bisa, tapi memang butuh perjuangan dan waktu. Misalnya begini, saya kenalan dengan orang katakanlah dia ngakunya polisi. Tinggal lihat saja, apakah ada foto-fotonya selama bertugas? apakah informasi yang dia bagikan mencerminkan seorang anggota POLRI? apakah teman-teman facebooknya kebanyakan juga anggota POLRI? Memang ada yang susah sekali dibuktikan karena dia menyadari untuk mengatur sedemikian rupa sehingga nampak benar. Tapi pasti ada celah, kalau di penelitian kita istilahnya reliabilitas jadi kita lihat kehandalannya, maaf saya harus menggunakan istilah itu. Mengukur reliabilitas itu artinya di tes berulang kali dengan berbagai macam cara hasilnya tetap sama. Jadi begini, misalnya:

  • Pertama, sekarang dan bulan depan kita menanyakan pertanyaan yang sama, apakah jawabannya tetap sama. 
  • Kedua, kita bandingkan antara cerita dia dengan apa yang dia bagikan di sosial media.
  • Ketiga,  apakah informasi yang dia sampaikan benar sesuai informasi resmi atau yang umumnya orang tahu. 
  • Keempat, Mungkin bisa juga cek dengan informasi yang ada sosial media teman-teman terdekatnya. 
Perlu diperhatikan, disini teman-teman jangan bantah dulu, tampung aja semua, biarkan dia berlaga dengan sandiwaranya. Baru kemudian kalau informasinya sudah banyak ya dianalisis apakah konsisten atau tidak. Melihat konsistensi di sosial media juga tidak susah, anda tinggal telusuri kronologi timelinenya.

- Hak Orang Lain
Lagi-lagi anda boleh menulis apa saja di facebook, mau ngomongin tetangga, mau mencaci maki pemerintah, mau komentar soal pertandingan bola semalam juga boleh. Tapi hati-hati, ingat prinsip bebas terbatas, apalagi negara kita negara hukum. Jangan sampai anda dituntut gara-gara status anda mencemarkan nama baik orang atau mungkin sederhananya sosial media anda di blokir karena tidak sesuai dengan aturan dari pengembang. Misalnya, itu terkait isu hak cipta atau hal-hal yang bisa menimbulkan pro kontra. Contohnya beberapa waktu lalu facebook penulis Tere Liye sempat dibekukan facebook karena ia mengkritik LGBT atau juga misalnya foto anda di Instragram mengandung unsur pornografi juga langsung di hapus oleh instagram. Apalagi sekarang ada fitur laporkan, kalau yang melaporkan banyak tentu itu bisa ditindak lanjuti.



Share: