Sunday, 18 February 2018

Life balance

Salah satu prinsip hidup yang saya pegang banget adalah Life Balance. Rasanya ini pula yang kemudian mempengaruhi banyak keputusan besar di hidup saya. Tiba-tiba hari ini saya pengen menulis tentang ini, setelah sekian lama saya banya bicara seperlunya bahkan bungkam. Ada hal-hal yang memang tidak perlu diperdebatkan dan hanya untuk diri sendiri, ya prinsip hidup salah satunya. Saya, kamu, mereka, dan semua orang berhak atas prinsip dan hidupnya sendiri-sendiri. Selama kita yakin akan kebenaran pilihan kita ya terus maju, sekalipun berbeda dan sering dipertanyakan ya gak masalah. Berbeda bukan berarti salah, pun yang banyak dilakukan orang belum tentu benar. Toh pada akhirnya yang dimintai pertanggung jawaban Allah atas amal perbuatan kita adalah kita sendiri.

Prinsip hidup ini berkaitan erat sekali dengan keputusan saya untuk pulang kampung sehari wisuda. Kesannya buru-buru dan memang begitu adanya. Saya sadar bahwa peluang dan kesempatan tentu lebih banyak di Jakarta. Kehidupan lebih dinamis dan challenging, mungkin akan sangat baik untuk fresh graduate yang sedang mencari jati diri seperti saya. Kalau bicara soal materi juga jelas lebih besar, sederhananya saja lihat angka UMK jelas jauh beda. Akses transportasi juga mudah di jakarta, semuanya ada. Saya suka menyebut semua hal yang ditawarkan Jakarta dengan istilah "gemerlap Jakarta". Lalu alasan apa yang membuat saya memutuskan untuk pulang kampung sedini ini?

Awalnya saya juga seperti kebanyakan orang, anak muda penuh ambisi yang ingin punya karir tetap dan mapan secara finansial sesegera mungkin. Tapi seiring berjalan waktu, Allah yang Maha Membolak-balikkan hati seperti meyakinkan saya bahwa "Jakarta isn't my place". Saya sebagai seorang muslim meyakini bahwa akhir kehidupan ini bukan kematian, melainkan ada kehidupan selanjutnya. Justru itu yang abadi, sedangkan dunia ini hanya sementara. Jadi semua balik ke diri kita mana yang perlu kita jadikan prioritas utama?

Setiap orang punya dan berhak atas prioritasnya sendiri-sendiri. Sehingga ketika saya berpegang pada prinsip life balance, maka otomatis prioritas hidup saya juga selalu mengutamakan itu. Apa yang sebenarnya harus seimbang?

Antara urusan dunia dan akhirat
Antara karir dan keluarga
Antara materi dan mengabdi
Antara sosial dan individu
Dll

Rasanya dunia sekarang sudah diluar logika manusia dan saya tidak pengen itu terjadi di keluarga saya nanti. Saya lahir dan besar di keluarga yang Alhamdulillah harmonis, tapi saya tahu dan bisa merasakan bagaimana beratnya perceraian dan anak dari broken home. Jadilah sedini mungkin saya pengen mewanti-wanti jangan sampai itu terjadi. Saya wanita, kewajiban terbesar saya ada di rumah. Saya pengen membangun keluarga surgawi, mencetak generasi islami yang siap mengawal peradaban umat. Bagaimana mungkin saya bisa mewujudkan itu jika waktu saya habis di kantor atau bahkan di jalan? Bagaimana mungkin saya bisa mencetak generasi islami jika pendidikan dini anak justru saya serahkan ke baby sister, yang mungkin kita juga tidak tahu bagaimana latar belakangnya.

Kenapa harus mikir sekarang, emangnya sudah punya anak sekarang? Urusan mendidik anak jangan disamakan dengan belajar masak yang bisa dilakukan sambil lihat tutorial. Cabe gak akan protes kalau di uleg kurang halus, pun ayam gak akan teriak-teriak kalau diangkat pas masih keras, begitupun nasi gak akan nangis kalau kebanyakan air. Masak bisa trial dan error, sedangkan mendidik anak tidak. Nasi yang kebanyakan air masih bisa sekalian dibikin bubur, kalau anak yang salah treatment bisa kita apakan? Waktu tidak bisa berputar, hitam atau putihnya anak tergantung kita orangtuanya karena sesungguhnya bayi lahir dalam kondisi yang putih suci.

Share:

Monday, 12 February 2018

I'm okay

Tidak semua hal baik itu menyenangkan, pun mudah dilakukan. Tapi semua kembali ke niat kita, hal ini yang kemudian mempengaruhi mindset, lalu tercermin dalam ekspresi dan tindakan kita. Oke, tulisan ini semacam sambungan postingan sebelumnya. How's my feeling after taking the big decision?

Alhamdulillah semua baik-baik saja, sebaik-baik itu. Bukan karena keputusan biasa, tentu tidak karena ini sangat berarti dalam hidup saya saat ini bahkan mungkin jg masa depan. Tapi lebih kepada keyakinan saya kepada Allah bahwa memang ini yang terbaik untuk semuanya, sehingga saya juga ridho menjalaninya. Sebelum mengambil keputusan ini, banyak waktu yang saya habiskan untuk berdiskusi dengan Yang Maha Mengetahui. Dilema itu pasti, tapi akhirnya Allah beri keyakinan untuk mengambil jalan ini. Ada ketenangan batin yang luar biasa ketika kita mengambil keputusan dengan selalu melibatkan Allah. Lalu dibarengi dengan pasrah dan khusnudzon. Kalau kita sudah menyerahkan masalah kepada pemilik segala solusi, apakah masih pantas ada keraguan dalam diri? Kita datang ke dokter lalu bisa yakin dengan resepnya, padahal belum ada jaminan sembuh. Seberapa keyakinan kita ke Allah, ya kira-kira segitu juga ketenangan yang kita dapatkan.

Sungguh ini sebenarnya bukan perkara main-main bagi saya. Tapi lagi-lagi kembali lagi rencana Allah adalah yang terbaik. Sedih itu pasti, manusiawi. Saya juga sempat mengalami itu juga saat detik-detik mengambil keputusan ini. Campur aduklah, sedih harus selesai, marah sama diri sendiri kok bisa jadi begini, lega karena sudah gak perlu dilema. Semua perasaan itu tumpah seketika, tapi kemudian Allah kuatkan lagi, sampai pada titik bahkan kayak gak terjadi apa-apa.

Ya saya mikir ini niatnya untuk kebaikan, dilakukan dengan cara yang baik dan Alhamdulillah semuanya sejauh ini berjalan dg baik. Tidak ada yang menyakiti dan disakiti, tidak ada yang berkhianat, pun gak ada kesalahan apapun kecuali kesalahan saya sendiri. Apalagi kemarin saya sempat baca blog orang yang latar belakangnya mirip dengannya. Disitu saya melihat pola pikir yang hampir sama dan saya merasakan itu. Mereka (seperti) mengemban amanah, pun dalam diri mereka ada ambisi yang luar biasa untuk menuntaskan amanah itu. Saya pribadi sangat mendukung, salah satunya dengan keputusan ini. Jadi tidak perlu ada yang terbebani karena harus ada yang menurunkan mengganti prioritasnya. Dua-duanya baik dan layak diwujudkan. Jadi ya sudah, saya yakin sejuta persen insyaAllah ini memang jalan yang terbaik dan pasti akan mendatangkan hal baik juga. Keyakinan inilah yang membuat saya ringan melangkah dan insyaAllah baik-baik saja. 

Share:

Right thing in the right time and place

Terkadang hidup ini susah diprediksi, sekalipun logika manusia mengatakan semua baik-baik saja tapi semua kembali lagi pada Allah yang Maha Kuasa. Mudah saja bagiNya menjadikan apa yang tidak mungkin menjadi mungkin, pun sebaliknya. Menjadikan yang susah menajdi mudah, pun sebaliknya. Intinya apapun itu pasti Allah memberi yang terbaik menurutNya, bukan menurut kita. Allah Maha mengetahui sedangkan ilmu manusia sangat terbatas. Allah tahu masa depan sedangkan kita tidak. Itulah mengapa ketika ujian dan cobaan menghampiri, salah satu hal terbaik yang harus kita lakukan adalah berbaik sangka kepada Allah.

Saya baru saja mengambil keputusan yang menurut saya cukup besar dalam hidup saya sekarang. Bahkan saya sendiri juga gak percaya sudah mengambil keputusan itu. Tapi nyatanya saya sudah melakukannya. Bertahun-tahun, mungkin bermulai dari 2011, saya memperjuangkan sesuatu yang kemudian saya memilih "berhenti" saat ini. Padahal saya sangat sadar bahwa ibarat mendaki gunung, perjalanan saya sebentar lagi akan mencapai puncak tertinggi. Sebab rasanya (dalam logika manusia) mungkin perjalanan ini akan segera sampai puncak tahun ini. Tapi ada Allah yang maha membolak-balikkan hati, pada hakikatnya pemilik hati kita bukanlah saya dan kamu, tapi Allah.

Apakah saya menyesal? Tidak sama sekali. Saya sudah berdiskusi dengan Allah, meminta petunjuk agar diberi yang terbaik untuk bersama (bukan hanya saya). Saya mohonkan juga agar Dia memberi kelapangan hati, sehingga tidak ada yang merasa tersakiti. Saya mengambil keputusan ini bukan karena ada masalah, tidak sama sekali. Alhamdulillah semua baik-baik saja, semua sangat terjaga seperti sedia kala, tidak ada yang berkurang ataupun hilang. Lalu kenapa harus memilih selesai? ada perbedaan prioritas saat ini. Masing-masing prioritas itu baik dan berhak diwujudkan.

Semua ada waktunya, hal yang kita anggap baik (berguna) bukan berarti harus dibawa kemana-kemana. Tapi berguna itu bisa berfungsi efektif ketika dibutuhkan pada waktunya. Misalnya, makanan itu jelas baik dan sangat berguna, tapi bukan berarti kita harus bawa kemana-mana. Ibarat sedang lomba lari, masak iya kita harus bawa makanan pas masuk ke arena? Pasti malah kurang pas, kurang bermanfaat dan malah jadi beban. Pun dengan keputusan ini, saya tidak mau menjadi beban yang menghalanginya mewujudkan ambisi. Biarlah dia bisa berlari sekencang-kencangnya saat ini. Allah sedang memberi ruang pada kita untuk memperbaiki dan mengembangkan diri, hingga insyaAllah nanti dipersatukan lagi dalam versi kita yg lebih baik lagi. Jika tidak? pasti Allah ganti dengan yang lebih baik lagi. Berarti memang tugas kita untuk saling menjaga dan memperbaiki selesai, selebihnya Allah akan kirimkan orang baru lagi. InsyaAllah. Niat masing-masing kita baik, pun kita memilih jalan baik. InsyaAllah pasti berbalas kebaikan pula. Doa terbaik saya selalu untuk kita. :)
Share:

Thursday, 28 December 2017

Pengalaman tes CPNS 2017 (Kementerian Keuangan)

Hari ini (28/12) tepat satu bulan dari tanggal pengumuman seleksi CPNS 2017 gelombang 2. Alhamdulillah kemarin Allah memberikan saya kesempatan untuk ikut dalam rekrutmen CPNS 2017. Saya mendaftar kementerian keuangan dengan formasi analis humas dan protokoler untuk DJBC (Direktorat Jenderal Bea Cukai). Alhamdulillah saya berkesempatan mengikuti seluruh rangkaiannya tesnya, meskipun Allah ternyata punya rencana yang lebih baik dan menghentikan saya di final result. Semoga tulisan ini bisa memberikan gambaran teman-teman yang ingin ikut tes CPNS, terutama kementerian keuangan. Meskipun masing-masing instansi memiliki tahapan tes yang berbeda, tapi intinya sama yaitu SKD dan SKB.

Berikut tahapan seleksi CPNS 2017:

Image source: https://rekrutmen.kemenkeu.go.id/RekrutmenCPNS2017/#/

1. Daftar Online 


Pendaftaran online ini 2 kali, pertama kita harus bikin akun di SSCN BKN. Ini adalah sistem terpadu BKN, seingat saya tidak rumit hanya mengisi sedikit biodata menggunakan NIK (Nomor Induk Kependudukan) dan menentukan lembaga/kementerian yang kita ingin daftar. Saya memilih kementerian keuangan dan langsung diarahkan ke portal pendaftaran kemenkeu karena punya portal mandiri. Di tahap ini persyaratan yang diminta hanya ijazah dan transkrip nilai, itupun juga cukup upload tidak perlu kirim berkas fisiknya.

2. Verifikasi dan ambil TPU

Setelah daftar dan kita dinyatakan lulus seleksi administrasi, maka selanjutnya harus verifikasi dan ambil TPU di lokasi tes yang kita pilih. Jadi misal kayak saya pilih lokasi tes Jogja, dari awal ambil TPU sampai tes wawancara semuanya di Jogja. Pada saat verifikasi akan dicocokan semua data yang kita input dengan dokumen aslinya. Semuanya dicocokan mulai dari KTP, Ijazah, transkrip. Kalau sudah sesuai semua langsung dikasih TPU (tanda peserta ujian). Dari nomor TPU itu akan kelihatan kita mendaftar dari jalur dan formasi apa, misalnya C07 itu adalah kode formasi yang saya ambil. Oh ya, TPU jangan sampai hilang karena TPU dan KTP wajib selalu dibawa saat tes.

Image source: Personal file

3. Tes SKD (Seleksi kompetensi dasar)

Tes SKD tahun ini dengan sistem CAT, jadi begitu klik selesai langsung muncul nilai kita. Langsung ketahuan deh kita lulus passing grade atau tidak. Tiap sesi juga akan diperingkat dan diumumkan di lokasi tes, tapi ini harus nunggu dulu sekitar 30 menit baru ditempel. Lulus passing grade belum tentu lanjut ke tahap berikutnya karena nanti masih harus di ranking nasional. Kuota peserta yag berhak lulus di tahap ini adalah 3 kali formasi. Jadi misal formasi saya kuotanya 15 orang, berarti yang berhak lulus dari tes SKD ini adalah peringkat 1- 45. 

Materi tes SKD apa saja? intinya mencakup TWK (wawasan kebangsaan), TIU (intelegensi umum) dan TKP (Karakteristik Kepribadian). Teman-teman bisa browsing sendiri ya detail masing-masing materi tes, karena akan sangat panjang kalau saya jelaskan disini. Intinya kalau TWK itu yang keluar pelajaran PKN dari zaman SD sampai kuliah. Serandom itu masak? iya. Kalau TIU mencakup bahasa indonesia dan matematika dasar. Soalnya kayak penarikan kesimpulan, inti bacaan, baris dan deret, dan soal cerita sederhana yang gak sederhana (kayak ada 5 orang duduk bersama, si x gak mau duduk disamping y, z harus duduk di kursi kesekian, x dan y harus berjarak sekian orang, terus ditanya bagaimana formasi duduknya). Kemudian TKP, ini yang paling menolong karena nilainya gede dan materinya gak sesusah lainnya. Jadi usahakan sebaik mungkin pas jawab TKP.

Saya ingin sharing saran untuk teman-teman terkait SKD mulai dari persiapan hingga pelaksanaan, semoga berkenan :) 
1. Sempatkan belajar, kecuali emang mau jadi penyemarak tes CPNS saja. Sekurang-kurangnya luangkan waktu seminggu sebelumnya untuk latihan soal. Ya boleh juga sih baca buku, tapi menurut saya kurang efektif karena materinya luas banget. Sebaiknya sih dikombinasikan saja, jadi latihan soal dulu terus sambil jalan kalau misal ada materi yang perlu diingatkan atau didalami baru baca materinya.
2. Sering-sering latihan simulasi online di website BKN. Semakin sering latihan semakin kenal dengan soal-soalnya, akan semakin nempel. Apalagi ini gak ada batasnya, bebas mau seberapa sering kita ikut simulasi. Hanya saja ada kuota sehari berapa orang yang bisa ikut simulasi.
3. Baca juga pahami isi UUD dan Pancasila. Gak perlu hapal, cukup tau aja garis besar masing-masing pasal. Kalau pancasila lebih pahami ke butir-butir dan implementasinya. 
4. Manfaatkan apa yang bisa dimanfaatkan, jadi di google book itu kan ada buku-buku tes cpns yang bisa kita lihat sampelnya. Nah latihan soal dari situ juga bisa, ya walaupun gak full (namanya juga sampel, kalau mau full ya beli :D). Enaknya kalau di buku-buku seperti ini kan suka ada pembahasannya juga, jadi lebih memperkaya pemahaman kita.
5. Pas hari H jangan datang mepet karena alurnya agak panjang, mulai dari harus nitip tas, absen, ambil pin sampai akhirnya boleh masuk. Oh ya pilih posisi yang nyaman, karena kemarin tesnya di hall yang kira-kira isinya 500an orang. Jangan salah kostum biar gak ribet dan beban mental. 
6. Jangan lalai waktu, apalagi pas mengerjakan TIU itu bacaannya lumayan panjang-panjang. Kalau misal susah ya lewati dulu aja karena nanti misal ada waktu bisa balik lagi ke soal itu. Ketahuan kok di panelnya mana yang belum dijawab dan sudah terjawab.
7. Bikin target yang tinggi, jangan cuma lulus passing grade, SKD ini bakal terpakai terus untuk akumulasi proses selanjutnya. Jadi kalau misal SKDnya udah bagus, itu bisa sangat membantu. Targetnya berapa? 400. Kalau ternyata hasilnya dibawah itu ya banyakin berdoa, pantang merasa aman. :)


4. PSIKOTES

Kemarin psikotes kemenkeu memakai vendor ASI. Sistemnya online namun skor gak langsung keluar. Waktunya 1,5 jam untuk s1 dan 1 jam untuk d3, waktunya beda karena jumlah soalnya juga beda. Sebenarnya tesnya gak banyak, tapi waktunya sangat-sangat mepet dan kita gak bisa balik ke soal sebelumnya. Kalau teman-teman pernah ikut psikotes untuk MT atau ODP, itu benar-benar jauh lebih rumit dan melelahkan. Karena ini online, jadi tenang saja gak ada tes koran, wartegg atau gambar orang dan pohon. Saya agak lupa materinya apa saja, secara garis besar mirip psikotes pada umumnya (analogi, baris deret, silogisme, dll). Tapi khusus s1 ada satu bagian yang isinya hitung-hitungan dengan nominal lumayan gede. Seinget saya datanya itu semacam jumlah penduduk, pengguna internet dunia dan produksi bahan makanan.

Kelulusan tahap psikotes ditentukan dengan akumulasi nilai SKD dan Psikotes, dengan prosentase 40% SKD dan 60% Psikotes serta secara peringkat tidak melebihi 2 kali kuota formasi. Jadi kalau misal kuota formasinya 15 orang, berarti yang lulus SKD 45 teratas. Lalu dari 45 orang yang ikut psikotes itu yang lulus adalah peringkat 30 teratas.


5. Tes Kesehatan, Kebugaran dan Wawancara

Di kemenkeu SKB dilaksanakan dalam bentuk psikotes dan tes wawancara. Tahap ini adalah tahap terakhir sekaligus tahap penentu kelulusan menjadi abdi negara. Bayangkan kalau misal kuota formasinya cuma 1, berarti sampai tahap ini hanya tersisa 2 orang dan akhirnya kayak 1 orang itu adalah truly the winner. Pada tahapan ini tidak semua orang melalui rangkaian tes yang sama. Sebab, hanya DJBC (Dirjen Bea Cukai) yang ada tes kebugarannya. Sisanya bergembira karena hanya tes kesehatan yang super cepat dan wawancara. Ya untungnya saya ambil DJBC jadi sekarang bisa sharing ke teman-teman tentang tes kebugaran. hehe :)

Image source: personal file


Tes kesehatan dan Kebugaran
Kemarin tes ini dilaksanakan di paskhas TNI AU Jogja, dekat bandara Adi Sucipto. Bagi yang tes kesehatan aja bisa pakai baju hitam putih seperti biasa, tapi yang ikut tes kebugaran langsung pakai baju olahraga. Disini sistemnya siapa cepat dia dapat, jadi begitu datang kita langsung dikasi nomor antrian. Jadi sebaiknya datang lebih pagi lebih baik, terlebih bagi yang tes kebugaran biar gak panas pas di lapangan. Pas udah jamnya akan dipanggil per 10 nomor, termasuk saat tes kebugaran.

Tes kesehatan terdiri dari ukur tinggi dan berat bedan, tensi darah, tes mata (minus dan buta warna), kemudian tes ringan dengan dokter. Ini asli cepat sekali, bahkan kayak lama antrinya. Pengukuran BB, TB dan tensi seperti biasa. Begitupun untuk tes buta warna juga seperti biasa, kayak bulat-bulat yang di dalamnya ada warna lain dengan pola membentuk angka. Kalau ada ya sebutkan angkanya, kalau tidak ada ya bilang tidak ada. Kemudian tes minus ini pakai alat kayak teropong yang di dalamnya ada beberapa nomor gambar dari yang paling gede sampai kecil-kecil. Masing-masing gambar bentukya kayak papan catur, jadi kita suruh meyebutkan kotak warna hitam ada di sebalah mana (atas, bawah, kanan, kiri). Kemudian pemeriksaan singkat dengan dokter, saya lupa detailnya tapi yang jelas semuanya pemerikasaan luar (gak sampai yang kayak cek ambeyen, urin, dll). Terakhir ditanya riwayat penyakit kita dan tanda tangan di form. Dokter ini yang berhak menyatakan kita diizinkan ikut tes kebugaran atau tidak. Bukan menentukan lulus atau tidak, tapi lebih kepada memastikan kita dalam kondisi layak (sehat) atau tidak untuk ikut tes kebugaran.

Tes kebugaran, tahapan tes yang dilalui baik laki-laki maupun perempuan sama, yaitu lari 12 menit (di lapangan dengan keliling 400m), push up, sit up dan terakhir shuttle run (lari membentuk angka 8 sebanyak 3 putaran). Berbahagialah dan beruntunglah yang suka olahraga, setidaknya kalian lebih siap. Idealnya memang perlu latihan, karena tes semacam ini gak bisa instan. Tapi bagi saya yang gak pernah olah raga malah dilema, mau latihan waktunya udah mepet takut pas hari H malah tumbang. Jadi sebaiknya jauh-jauh hari mulai latihan, bahkan sekalipun belum tau SKD lolos apa enggak ya gak ada salahnya latihan lari dulu aja. Toh kalaupun gak lolos akan tetep dapat manfaatnya, lebih sehat. Dari semua tes, saya paling merasa berdosa ditahap ini karena gak ada persiapan. Ah... ya sudahlah. :(

Terakhir wawancara. Ini beda hari dengan tes kesehatan dan kebugaran, alhamdulillah kemarin saya berurutan jadi selasa kesehatan dan kebugaran, rabunya langsung wawancara. Meskipun ini rangkaian SKB tapi wawancara disini lebih kepada kepribadian. Dari arah pertanyaannya mereka sepertinya menggali seputar nilai-nilai kemenkeu. Tidak ada pertanyaan teknis seputar bidang kita ataupun pengetahuan kita tentang kemenkeu, karena yang mewawancara sepertinya juga bukan pimpinan di bidang itu. Ini kalau tes di perusahaan mirip wawancara psikolog dan HRD, santai tapi serius. Ditanya seputar pengalaman organisasi, kuliah dan kerja (jika pernah). Jadi gini, pas wawancara harus mengumpulkan riwayat hidup (download form dan diisi dari rumah) dan form kegagalan dan keberhasilan dalam hidup (diberikan saat registrasi dan diisi langsung).

Tahapannya selesai, tinggal menunggu pengumuman akhir :)

Jangan lupa untuk selalu berdoa minta yang terbaik (menurut versi Allah). Allah tahu masa depan sedangkan kita tidak, Allah tahu yang ghaib sedangkan kita tidak. Allah pasti memberi yang terbaik selama hambaNya sudah berusaha dan berdoa. Kalau ternyata hasilnya tidak sesuai keinginan, ya berdoa lagi minta diberi kelapangan hati untuk menerima dan diberi hidayah supaya bisa segera memahami hikmah dibalik kejadian ini. Semoga segera diberi ganti yang lebih baik. Don't stop believing, tidak ada doa, tahajud, dhuha, sedekah dll yang sia2. Bisa jadi itu semua sedang dikonversi ke yang lebih baik dari yang kita minta. Jangan bertanya kenapa, kenapa, dan kenapa, emang kita ini siapa dan tahu apa kok sampai mempertanyakan kehendak yang Maha Mengetahui? Keep fighting and positive thinking. Semoga kita semua sukses selalu, saling mendoakan ya :)

NB: kalau pengen tahu bentuk pengumumannya kayak apa silakan download disini
Share:

Sunday, 17 September 2017

Pendaftaran santri baru Gontor (Pengalaman pribadi) - Part 4

Situasi saat pengumuman penerimaan santri Gontor


Assalamualaikum

Setelah jeda agak lama, terselip beberapa postingan lain, akhirnya saya melanjutkan lagi cerita tentang pengalaman saya ketika mendaftarkan di Gontor. Ini merupakan part 4, yang insyaAllah akan menceritakan momen pengumuman dan segala keriwehan penempatan santri. Cerita mengenai syarat dan proses pendaftaran serta ujiannya sudah saya tulis di bagian sebelumnya. Berikut linknya:

PART 1 - Kelengkapan, Waktu dan Biaya Pendaftaran

PART 2 - Proses Pendaftaran

PART 3 - Ujian masuk Gontor

Setelah ujian selesai, kini waktunya calon pelajar dan calon wali santri menunggu pengumuman. Kalau kayak gini ya banyakin berdoa dan persiapkan mental untuk menerima ketetapan terbaik yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Pada waktu itu agak simpang siur kapan pengumuman, tidak ada pemberitahuan resmi juga dari panitia. Tapi yang jelas itu gak lama, saya lupa selang berapa hari tapi yang jelas gak sampai seminggu. Mungkin sekitar 3-4 hari dari tes tulis.

Hari demi hari, tenda mulai terpasang, kursi mulai berjajar pertanda hari pengumuman kian dekat. Sampai akhirnya suatu malam ada pemberitahuan kepada calon santri bahwa besok adalah hari H pengumuman dan santri sudah harus berkumpul jam 06.00 untuk ikut pengarahan. Antusias calon pelajar dan wali santri tentu sangat tinggi untuk segera tau pengumumana. Sebelum shubuh, banyak calon pelajar termasuk adik saya yang sudah bersiap. Sebagian dari mereka sengaja mandi di luar (kamar mandi masjid dan bapenta) karena menghindari antrian di kamar mandi dalam. Mandi, sholat shubuh dan langsung kembali masuk ke asrama lagi.

Calon wali santri juga gak kalah antusias, parkiran mobil itu penuh sepenuh-penuhnya sampai tepi jalan raya. Dari pendaftaran ke pengumuman itu gak sebentar, jadi banyak calon wali santri yang pulang dulu dan kembali lagi saat hari pengumuman tiba. Saran saya sebaiknya jangan datang paginya, karena mulai habis magrib itu sudah mulai berdatangan.

Jam 6 pagi wali santri mulai berduyun-duyun masuk ke dalam, merapat ke tenda tempat dimana pengumuman dibacakan. Tenda itu terpasang di depan gedung oren, memanjang ke barat, yang kira-kira akan menampung 2.400 calon santri. Tenda itu memang dikhususkan untuk calon santri saja. Sementara calon wali santri ya memadati sekitar tenda, mencari tempat ternyaman masing-masing untuk mendengar kenyataan. hehe.

Suasana pengumuman

Pengumuman di Gontor berbeda dengan tempat lain, yang cukup di tempel di papan pengumuman atau bahkan diumumkan online. Di sini, pengumuman dibacakan bergantian oleh pimpinan pondok. Nomor yang diterima maupun yang tidak diterima akan dibacakan semua. Itu sama sekali tidak ada jeda dan semuanya diharapkan tertib, menyimak sampai semua selesai dibacakan. Pimpinan, Kyai Hasan, mulai memberikan sambutan pukul 07.00 dan selesai tepat pukul 08.00. Setelah itu mulailah dibacakan nomor-nomor yang diterima di Gontor putri 1, 2, 3, 5 sampai nomor yang belum bisa menjadi santri Gontor tahun ini.

Bagi yang punya nomor awal, begitu kepanggil rasanya langsung lega gitu ya. Tapi kalau yang nomornya ribuan, ya harus agak sabar, tenang dan keep praying. Adik saya daftarnya belakangan jadi dia dapat nomor 2.000 sekian. Ya itu agak lumayan juga dag dig dug nya pas mulai dibacakan, nomor awal-awal. Pas dengan Kyai Hasan membacakan, "Di terima di Gontor Putri 1, nomor x, x, x, ........" air mata saya langsung netes. Antara terharu, cemas, berharap, semua campur aduk. Apalagi lihat orang tua yang nomor anaknya sudah terpanggil, masyaAllah. Melihat ibu bapaknya berpelukan sambil menangis terharu, MasyaAllah ikut terharu banget rasanya.

Lama kelamaan saya mulai tenang, sampai akhirnya mulai dag dig dug dan sangat gak karuan pas udah mulai dekat 2000. Saya dan Mama nyimak bener-bener sampai pindah tempat, dari yang awalnya dibelakang. Pindah merapat ke dekat tenda calon santri. Semakin harap- harap cemas, ketika Ustadz sudah membacakan 19XX, 19XX, ....... 2.050, 205X, 20XX. Jeng jeng nomor adik saya terloncanti. saya speechless sejadi-jadinya. Astagfirullah, saya dan mama seketika itu pula saling melihat dan menetes air mata. Posisi kita agak kepisah jadi kita gak bisa berinteraksi lebih. Rasanya badan saya lemes langsung, sedikit hopeless karena Gontor putri 1 ini menerima paling banyak. Bahkan sepengetahuan saya hampir setengah dari keseluruhan total santri yang diterima ditempatkan di GP 1. Sisanya baru GP2, GP3, dan GP5 yang paling sedikit. Jadi ya gimana ya, kayak yang punya peluang terbesar ya di GP 1. Terlebih lagi ini pengalaman pertama, semua serba baru dan hanya mengandalkan insting sok tahu. haha.

Pengumuman terus berlanjut, penempatan Gontor Putri 1 selesai dan mulailah dibacakan Gontor Putri 2. Kita semua gak henti-hentinya berdoa, meminta yang terbaik padaNya. Dari yang awalnya berdoa dapat di GP 1, sampai akhirnya pasrah dan berdoa minta yang terbaik. Tapi ya tetep harapannya bisa ketrima, mau di GP 2, 3 bahkan di GP 5 sekalipun. Oke, GP 2 Mulai dibacakan satu persatu mulai dari nomor terkecil. Ini agak cepat nunggunya karena kan gak sebanyak GP 1.  Kalau dilihat dari whats app saya, nomor 2000an sudah terpanggil kurang dari setengah jam. Alhamdulillah adik saya diterima dan ditempatkan di Gontor Putri kampus 2. Alhamdulillah, Alhamdulillah 'ala kulli hal.

Begitu nomor dia dipanggil, saya dan mama lansung mundur untuk mengabari yang perlu dikabari dan mengurus keperluan adik. Sementara anaknya masih harus tetap stay di tempat sampai rangkaian pengumuman selesai dan sujud syukur di masjid. Alhamdulillah, Alhamdulillah. Prosesnya juga tidak berhenti sampai disini, bagi yang diterima di GP 2, GP 3 dan GP 5 langsung diberangkatkan saat itu juga. Alhamdulillah GP 2 sebelahan dengan GP 1, jadi kita tinggal jalan lewat jembatan yang menghubungkan GP 1 dan GP 2. Alhamdulillah lagi kita berempat plus adik saya, jadi sekali jalan barangnya sudah kebawa semuanya. Dia bilang sebelum setengah 12 harus sudah sampai GP 2 karena ada pengarahan, jadi ya emang bener-bener langsung jalan saat itu juga. Begitupun yang ke GP 3, bis bis sudah stay disana. Orang tua tidak perlu khawatir karena pondok sudah menyiapkan bis untuk santri dan truk untuk mengangkut barangnya.

Berita penerimaan Gontor Putri di Majalah Gontor

Saat itu lalu lalang manusia bawa-bawa koper, kasur, ember, dll bener-bener banyak sekali. Begitupun lalu lalang kendaraan, gak kalah riwehnya. Semuanya campur aduk, sama kayak perasaan orang-orang saat itu. Ada yang nangis terharu, ada yang nangis sedih. Pokoknya ini momen terhactic menurut saya, gak bisa dideskripsikan. Dari 2.400 sekian calon santri, akhirnya yang diterima adalah 1.900 sekian. Sehingga ada sekitar 500 calon pelajar yang belum bisa belajar di Gontor tahun ini. Lalu kira-kira mereka harus sekolah dimana? sebab sekolah umum juga sudah tutup. Tunggu ceritanya di part selanjutnya ya, terima kasih. :)


---------------------------------------------------------------------Bersambung ke PART 5 :)







Share: