Monday, 11 April 2016

pelajaran pertama, semua butuh perjuangan.

Halo, apa kabar?
Saya baru saja melakukan perjalanan singkat ke Jogja, singkat teramat singkat. haha. Menurut saya setiap momen itu menarik, jadi saya ceritakan perbagian supaya lebih spesifik dan tidak terlalu panjang.
Sebenanrya kereta ke Jogja itu banyak, banyak kelasnya, banyak harganya, banyak jam keberangkatannya pula. Menurut saya sebenanrya perjalanan paling ideal kalau kita jalan dari jakarta adalah naik kereta malam, lalu sampai jogja pagi sekitar jam 7. Lumayan, bisa hemat biaya penginapan semalam. Apalagi bagi saya yang sebenarnya ke Jogja hanya singgah, jadi kalau kayak gitu saya gak perlu booking penginapan. Tapi karena tiket jumat malam sudah habis, akhirnya saya beli Gajah wong jam 6.45 dari senen dan jam 14.55 sampai stasiun tugu Yogyakarta.

well, ya kebayang dong bagaimana perjuangannya jalan dari Depok ngejar kereta jam 6.45. Saya keluar kosan sekitar jam 5.15, itu bener-bener masih gelap. Saya takut juga jalan sendirian ke stasiun, akhirnya saya naik Grab bike. Ya karena itu deket, saya gak sempet ngobrol banyak sama abangnya. Dari stasiun Pocin pas itu masuk kereta tujuan jatinegara, jadi ya udah saya naik itu aja daripada nunggu yang kota lama. Harusnya saya turun di stasiun transit manggarai, tapi karena nanti takut ribet ya udah saya turun Tebet dimana jalannya keluar stasiun cuma satu. haha. Sampai situ sekitr jm 6.05, dan saya pikir saya masih punya waktu banyak. huhu. Saya harus sambung dengan yang lain, setelah check&recheck beberapa saat, akhirnya saya putuskan order uber. Dengan asumsi bisa hemat juga karena bisa pakai promo free 100k.

Uber. Abangnya nelpon saya kalau tidak bisa masuk ke depan stasiun. Saya disuruh nyebrang ke arah kampung melayu. OMG bahkan saya gak tau daerah situ. haha. Ya saya satpam terus akhirnya saya jalan dan memang ubernya sudah disitu dengan unit All New Avanza hitam. Seharusnya Tebet-Senen gak jauh-jauh banget, tapi sopirnya jalannya selow banget jadi saya terpaksa ngomong kalau saya agak buru-buru. Dia agak kenceng jadinya, tapi lebih gesit supir grab car yang bisa nganter saya jatinegara-Depok cuma 20 menit. haha. Ya memang background mereka beda, jam terbangnya beda. Bapak driver uber dulunya karyawan Astra dan full time uber 3 bulan belakangan. Kalau bapak grab car dulunya supir blue bird, jadi yaaa dia udah tau medan dan emang biasa nyupir kan ya. well kita balik lagi, saya gak berpikir kalau Tebet-Senen harus ngelewati lampu merah yang banyak dan itu berasa cukup lama juga kalau pas kita diburu waktu. huhu. Dengan restu Allah dan perjuangan bapak Uber akhrinya saya sampai di stasiun pasar senen jam 6.38. Saya langsung lari-larian ke pintu masuk dan sudah tidak ada antrian, makin panik. Si petugas loketnya dengan santai bilang, "tenang mbak nafas dulu kereta aja belum datang kok." Alhamdulillah. Pas saya bener-bener baru masuk peron ada pengumuman kereta akan segera masuk di jalur 3. Sejauh ini saya bersyukur banget. :D

Kereta Api Gajah Wong PSE-YK. Di dalem kereta, saya duduk sama mbak-mbak dan ibu-ibu. Kita gak terlalu banyak ngobrol, entahlah biasanya saya tertarik banget ngobrol sama stranger on the train. Karena pikiran saya mungkin sebagian masih ketinggalan di kasur kosan, di stasiun pocin dan sisanya berceceran di lampu merah dari Tebet - Senen. haha. Tapi ada cerita yang kemudian membuat saya sangat bersyukur, ternyata mbak-mbak depan saya dia sedan prepare buat masuk kuliah. Sebenarnya dia sama kayak saya angkatan 2013 tapi karena dia sedang memperjuangkan masuk POLRI dan ternyata belum direstui Tuhan ya akhirnya dia baru mau masuk kuliah sekarang. Dia daftar di FKG (kedokteran gigi) di UMY. Biaya yang dia keluarkan di awal ini banyak sekali, bahkan itu jumlahnya lebih dari 8x biaya kuliah saya sampe lulus. hoho. Ya memang tidak bisa disamakan antara negeri dan swasta. Tapi poinnya saya harus bersyukur, masuk kuliah dengan diberi kemudahan Allah dan biayanya juga masih sangat rasional.

Well, lama perjalanan yang harus saya tempuh dengan kereta ini sekitar 8 jam. Ini pertama kalinya saya naik kereta pagi karena biasanya kereta jarak jauh emang jalannya malam. Awalnya yang ACnya dingin banget, ya ampun lama-lama panas banget. Sampai saya gak tenang, mau tidur panas, mau gak tidur perjalanan masih panjang. Saya kesel juga sama HP saya, dicharge nambahnya lama banget tapi habisnya cepet banget. huft. Dengan segala keluh kesah itu, akhirnya jam 14.55 saya sampai stasiun tugu Yogyakarta. Yeeey, holiday start here.
Share:

Thursday, 31 March 2016

Katakanlah karena orang lain tidak bisa membaca pikiranmu

Komunikasi, sebuah kegiatan yang sehari-hari kita lakukan baik tanpa sadar ataupun tidak. Sepele memang, komunikasi bisa sesederhana mengangguk dan menggeleng tapi efeknya bisa luar biasa. Sayangnya memang kepribadian dan pandangan orang itu beda-beda. Ada orang-orang yang menganggap diam itu lebih baik, dan sebaliknya. Padahal saya yakin setiap orang pasti ingin dimengerti. Lalu bagaimana orang lain bisa mengerti kalau kamu saja tidak mau berusaha membuat orang lain mengerti. Bahkan psikologpun butuh jawaban kamu untuk mengerti psikologis kamu. So, let's speak up guys. Orang lain tidak akan mengerti dengan sendirinya, jangan berpikir mereka bisa membaca pikiran kamu. Kecuali orang-orang tertentu, ya lain cerita. 

Dulu saya sempat menjadi aliran diam itu emas, saya pikir biar waktu yang menjawab semuanya. Saya juga sering baca quote di status dan display picture orang-orang, seperti ini:
"Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu dan yang membencimu tidak percayai itu" - Ali bin Abi Thalib
Ya ini ada benernya juga, ingat ya tidak ada yang sepenuhnya salah dan sebaliknya. Semua kondisional, tapi kita bicara secara general aja.  Coba bayangkan kalau dulu Pejuang-pejuang kita tidak memberontak dan berpikir ya udah sih penjajah kan juga manusia harusnya dia juga punya rasa kemanusiaan biar nanti dia sadar sendiri kalau yang dilakukannya salah. Oke mungkin ini terlalu ekstrim, haha. Kita ambil contoh di keseharian aja, misalnya kamu antri kamar mandi trus nunggu tanpa ngetok dan berharap harusnya yang di dalam ngerti dong kalau pagi-pagi banyak orang butuh kamar mandi. Padahal ya sesederhana ngetok atau bilang buruan. Cobalah untuk tidak mengatakan harusnya, karena itu terlalu subjektif. Ingat bahwa setiap orang memiliki pikiran, pandangan dan kepercayaan yang beda-beda. Mungkin ideal harusnya buat kamu sama buat dia itu beda.

Lalu apakah perbedaan itu akan jadi masalah? Lagi-lagi ini kondisional, kalau kamu bahas perbedaan agama di pernikahan ya itu mungkin akan jadi masalah, buat sebagian besar orang. Tapi lagi-lagi kita bahas perbedaan secara general aja, bukan hal-hal prinsipil seperti itu. Misalnya, kalau bicara harusnya mungkin kita akan berpikir bahwa semua orang indonesia suka makan nasi. Nah kamu gak bisa bicara harusnya, inget bahwa setiap orang punya pikiran, pandangan dan kepercayaan masing-masing. Mungkin ada orang yang suka makan nasi, baik dengan alasan sekedar tidak suka atau bisa juga alasan kesehatan. Lalu apa ini akan jadi masalah? ya enggak juga, perbedaan ada bukan untuk dipermasalahkan tapi untuk ditoleransi kan. Toh setiap individu punya hak kebebasan masing-masing, entah kebebasan apapun itu. Selama tidak mengganggu dan merugikan hak orang lain, ya udah perbedaan itu hal biasa.

Sayangnya negara kita termasuk negara kolektivis, jadi kayak lebih percaya diri kalau rame-rame. Efeknya, yang banyak pengikutnya dianggap lebih benar. Padahal belum tentu dan kitapun harus menghormati hak minoritas karena mereka juga punya hak yang sama. Tapi karena budaya kolektivis tadi, seringkali yang terjadi adalah minoritas jadi enggan menyuarakan pendapatnya. Lalu mereka terpaksa dan dipaksa menyetujui kelompok mayoritas. Padahal menurut saya semakin kesini orang semakin terbuka dan bisa toleransi dengan perbedaan.

Misalnya izinkan saya mengambil contoh apa yang dilakukan kelompok LGBT, terlepas dari LGBT itu benar atau salah ya tentunya. Mereka tentu saja kelompok minoritas di negara kita, bahkan mungkin di dunia. Bagi saya ketika mereka mau terang-terangan keluar ke publik, itu tindakan yang luar biasa. Lagi-lagi saya tidak mengatakan mereka salah atau benar, tapi yang jelas karena mereka berani muncul ke publik, berani menjelaskan semuanya maka efeknya juga luar biasa. Kita, khususnya saya, jadi tahu sudut pandang mereka. Kita tidak lagi menganggap bahwa itu kemauan dan pilihan mereka, karena ternyata ada pengaruh faktor biologisnya. Pernyataan mereka kemudian di dukung oleh pernyataan-pernyataan ahli di bidang medis. Publik juga jadi tahu ternyata ini bukan penyakit jiwa. Kalau dalam konteks ini efeknya bisa macam-macam, tergantung siapa penerima pesannya.

Intinya saya mau bilang, setiap orang punya hak kebebasan berekspresi. Katakanlah, ekspresikanlah apa yang kamu yakini, sekalipun kamu minoritas. Urusan benar salah itu nanti, akan ada masanya dimana hanya kebenaran yang bisa bertahan. Toh berproses itu wajar, hidup ini dinamis dan benar salah itu bisa relatif. :)






Share:

Wednesday, 2 March 2016

First order grab car :)

Hai, apa kabar? Pagi ini aku mau cerita pengalaman memakai grab car dari stasiun jatinegara ke Depok. Sebenarnya saya sudah pernah coba pakai grab taxi, tapi sama drivernya malah di cancel. Jadi ini pengalaman pertama saya pakai grab sekawan. Haha. Kereta saya tiba di jatinegara sekitar jam 2, biasanya saya nunggu krl sampe jam 5. Tapi karena ada kuliah pagi dan hujan, jadi saya mau yang gak ribet. Setelah check, estimasi kalau naik gojek dan grab bike 38 ribu, grab taxi 120-148 ribu, grab car 98 ribu. Daripada naik taxi gelap kan pasti lebih mahal, apalagi saya sendirian jadi dengan alasan keamanan, kecepatan dan kehematan saya pilih grab car.
Setelah istirahat makan pop mie di jatinegara, akhirnya jam 4 saya order. Ini dilematis juga, mau order takut kepagian masih gelap, mau nunggu subuh takut kesiangan. Akhirnya saya putuskan order jam 4 dengan pertimbangan, jam segitu sudah mulai ramai tapi masih ada waktu juga buat istirahat di kosan. Setelah saya order, munculah driver yang menerima order saya bernama samsul dengan mobil all new avanza hitam. Dia sms saya memberitahukan posisinya di sebrang jalan. Akhirnya saya telepon untuk memastikan posisinya.
Namanya juga grab car, jadi ya ini pure mobil pribadi jadi berasa dijemput sopir. Haha. Perasaan was-was masih tetep ada, secara itu masih jam 4 pagi. Serem aja, pagi buta cewek sendirian dijalanan. Haha. Saya nanya sampe Depok kira2 jam berapa? Bapaknya bilang sekitar 45 menit. Ya aku bilang, aku diburu waktu makanya naik grab car kalau biasanya sih nunggu kereta. Karena jalanan sepi, drivernya bisa agak kenceng macu mobilnya. Perasaan saya juga mengatakan tadi sama drivernya di cariin jalan-jalan tikus gitu. Sempat takut juga, jalanan begitu kan sepi. Tapi pas udah sampe kalibata situ saya kan udah kenal daerahnya, jadi saya agak tenang. Alhamdulillah sekitar jam 4.40 saya udah sampe kost dengan selamat. Ini cepet banget karena tadi jalan dari jatinegara sekitar jam 4.15. Sampe kosan langsung aku kasih bintang 4 dan positive testimony. Hoho. Thanks.
Share:

Sunday, 14 February 2016

Belajarlah dari kopi, meskipun pahit tapi memberi kenikmatan

Terkadang masa lalu kelewat menyakitkan, sehingga kita ingin cepat melupakan. Sibuk mencari pelampiasan untuk mengalihkan perhatian. Tapi sayangnya, sebagain lupa mengambil hikmah dari suatu pembelajaran. Sebaliknya, justru kebencian yang mungkin menjelma menjadi penguasa pikiran. Sesungguhnya kita akan rugi, jika esok hari tidak lebih baik dari kemarin. Itulah mengapa kita perlu berinstropeksi sehingga bisa belajar dari kehidupan.
Melalui tulisan ini saya ingin berbicara dengan seseorang, terlepas dari dia membaca atau tidak, yang jelas tidak ada maksud apa-apa selain atas dasar kepedulian. Aku telah melewatkan banyak hal darimu, lama kita tidak saling berbagi beban pikiran. Semuanya berjalan sangat cepat, hingga ada satu masa dimana aku tersentak sebab kamu telah sangat jauh mengambil keputusan. Tidak salah, sama sekali tidak. Justru itu keputusan yang sangat bagus untuk kehidupanmu dimasa depan. Memang sudah sepantasnya itu kamu lakukan, bukannya banyak mikir seolah-olah waktu tidak berjalan.
Kemarilah, kita duduk bersama, saling bercerita beriring lagu sendu yang mengalun. Teman, bagaimana kabarmu? Apakah masih terjebak dalam kenangan masa lalu atau kamu justru sedang terpenjara angan?     Ya memang susah menyangkut perasaan, akupun kadang tak bisa mengendalikan. Jikapun memaksa mengendalikan, pasti ada perasaan atau pikiran yang terkorbankan.
Aku tak menyalahkan atas keputusan yang kamu ambil, bagiku itu kebebasan pilihan. Namun kawan, sepertinya kamu terburu-buru hingga kenyataan tak sesuai harapan. Ingin aku mengajakmu untuk sejenak menyeduh kopi, demi sebuah ketenangan. Begitupun kopi akan mengajarkanmu bahwa ada kenikmatan dari setiap pahitnya seduhan. Kamu seharusnya belajar dari kenikmatan kopi, tentang bagaimana pahitnya kehidupan bisa menjadi kenikmatan. Semoga kamu segera belajar sehingga bisa merasakan esensi nikmatnya kehidupan. Belajarlah dari kegagalan, supaya kamu jadi tahu jalan menuju keberhasilan.
Ku pikir kamu sudah cukup dewasa untuk memaknai sebuah kegagalan. Sehingga kamu punya cukup bekal perjalanan yang membawamu menuju kebahagiaan. Tapi sepertinya aku salah, karema kamu tidak benar-benar belajar dari kesalahan. Pada akhirnya, kamu hanya merasakan pahit tanpa kenikmatan. Apalagi ini bukan sekedar minum kopi yang pahitnya hanya dirasakan sang tuan. Namun ini menyangkut perasaan, yang kemudian harus dikorbankan karena kamu tidak belajar dari sakitnya pengabaian. Semoga kamu segera mengerti makna sebuah pembelajaran.
Gd luck. :)
Share:

Thursday, 11 February 2016

She talks about him

Sekian lama aku tidak menulis, lebih tepatnya tidak mempublish. Sebab aku tetap menulis tapi hanya berakhir pada jejeran draft yang berbaris. Kadang lebih mudah bagiku untuk mengungkapkan semuanya lewat tulisan, bukan dengan lisan. Aku terlalu lemah untuk beradu tatapan, akupun terlalu rapuh untuk menerima sebuah gertakan. Aku suka ketenangan, hidup berdamai dengan siapapun meskipun kadang harus korban perasaan. Itulah mengapa bagiku menulis jauh lebih aman daripada berbicara lisan.

Ada sesuatu yang ingin aku tulis malam ini, entah menarik atau tidak tapi yang jelas ini sedikit mengusik nurani. Tentang isi hati seorang wanita yang bahkan aku tak mengenalnya. Lalu kenapa aku menulisnya? Tadi tiba-tiba  jemariku mengarah ke halaman pribadinya, sepertinya dia tipe orang yang sama denganku, yaitu lebih mudah mengungkapkan sesuatu dengan tulisan. Tidak banyak yang ku baca dari sana, hanya berapa posting tentang kegundahan hatinya. Dari rangkaian kata tersebut, aku membaca suatu diksi atau mungkin lebih tepatnya kata ganti yang membuatku berspekulasi. Tentang seorang lelaki yang sepertinya ku ketahui. Dari setiap kalimatnya, aku seperti mengerti betapa sedang risaunya dia. Sekali lagi aku tidak kenal, bahkan aku hanya mengenalnya lewat tulisan. Tapi ada hal lain yang membuatku bersimpati, yaitu kegundahan hati. Nuraniku sebagai sesama wanita sedikit terusik, ketika mengetahui ada wanita yang sedang risaunya memikirkan lelaki yang dulu sempat dipuja-puji.
Sebelum kau merasakan semua ini, sepertinya aku lebih dulu pernah memperjuangakan apa yang kini kamu perjuangkan. Lelaki itu? Bukan, tapi kebahagiaan. Aku tak bisa berkata banyak untukmu, bagaimanapun nampaknya kondisimu jauh lebih susah dariku.

Mungkin terlalu cepat bagiku untuk menyimpulkan, akupun tidak berhak menghamiki atas apa yang terjadi pada kalian. Namun yang jelas aku kecewa, ya kecewa dengan lelaki yang kini sedang menjadi beban hatimu kawan. Ternyata dia tidak belajar dari apa yang pernah terjadi, hingga lagi-lagi harus ada hati yang tersakiti. Bangkitlah, kumpulkan kembali kepingan hati yang terlanjur tersakiti. Aku percaya kualitasmu, majulah Tuhan bersamamu. 😊

Share: