Sunday, 9 April 2017

Percayalah Tuhan tidak pernah salah

Sebagai orang yang percaya dengan Tuhan dan segala takdir yang dibuatnya, saya selalu berusaha dengan positif menerka-nerka apa yang sebenarnya Tuhan rencanakan untuk saya. Jangankan kita (khususnya saya) yang hanya manusia biasa yang kerjaannya gosip sana sini, bahkan sekelas Nabi saja diuji. Saya percaya setiap orang pada hakikatnya selalu berjuang, dengan tujuan dan caranya masing-masing. Jadi jika kehidupan orang lain nampak lebih mudah, sepertinya kita harus introspeksi, jangan-jangan kitanya aja yang terlalu banyak berkeluh kesah. 

Perspektif kita dalam menyikapi sesuatu itu sangat penting, karena akan mempengaruhi psikologis kita. Teruslah berpikir positif, karena pada akhirnya prasangka kita adalah doa. Usaha tidak pernah ingkar pada hasil, pun doa tidak pernah sia-sia karena sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan begitu dekat, bahkan lebih dekat dari urat nadi. Teruslah berprasangka baik, sekalipun segalanya serasa tak kunjung membaik. Mana tau sakit itu adalah penggugur dosa, mana tahu keterpurukan itu justru jalan menuju kenaikan, mana tahu kepergiannya justru membawamu ke cinta yang sejati. 

Sebagai manusia yang punya hati dan perasaan, pernah ada seorang lelaki yang jika bersamanya saya serasa tak punya beban. Dia selalu siap mendengarkan apapun yang saya keluhkan, beberapa kata darinya selalu menenangkan. Caranya memperlakukan saya seperti selalu menawarkan kenyamanan. Terlabih saya dan dia sama-sama tipe orang yang terbuka, dia adalah salah satu orang yang paling saya percaya untuk menceritakan segalanya. Meskipun kadang pikiran kami tidak sejalan, tetapi bagaimana caranya menjelaskan selalu bisa membuat saya mengiyakan. Tetapi kemudian karena satu dan lain hal kita memilih untuk tidak lagi saling memperjuangkan. Jika pada akhirnya yang terjadi tetap perpisahan, setidaknya kita sudah pernah berupaya mempertahankan. 

Bagaimana yang saya rasakan saat itu? tidak ada orang yang baik-baik saja jika kehilangan orang yang dicintainya. Ya, saya benar-benar tidak baik-baik saja, butuh waktu cukup lama untuk saya bisa menata ulang semuanya. Saya selalu pecaya Tuhan tidak pernah salah menuliskan takdir hambanya. Jika saat ini saya masih bertanya-tanya, mungkin Tuhan baru menjalankan sebagian saja sehingga sulit untuk memahaminya. Pun ketika harus kehilangan orang yang kita rasa dengannya bisa membangun masa depan. Saya berpikir mungkin Tuhan merasa sudah cukup untuk saya belajar, karena jujur ketika bersamanya saya belajar banyak hal tentang kehidupan yang belum saya jalankan. Jadi saya sedikit banyak mengerti jatuh bangunnya menjalani kehidupan, tanpa saya harus mengalaminya sendiri. Saya yakin tidak semua gadis seusia saya punya kesempatakan seperti ini, semua saya terima dan syukuri. Doa saya masih sama, semoga saya dan dia selalu diberi yang terbaik untuk kita masing-masing.
Share:

Wednesday, 1 March 2017

Doakan yang terbaik saja dulu

Sekarang saya sedang dalam fase transisi di perjalanan kehidupan saya. Mungkin sama seperti yang lainnya, kehidupan paska wisuda tidak lagi sebatas selebrasi semata. Sebab, rencana kehidupan kita yang sesungguhnya harus dijalani pada momen ini. Pada usia ini, sering kali kita dianggap sudah siap untuk menjalani kehidupan sendiri. Setiap orang punya prioritas masing-masing jadi kalau berbeda ya boleh saja. Meskipun kadang realita tak selalu sama dengan rencana, sebab bagaimanapun semuanya kembali pada yang Maha Mengetahui.

Dalam momen seperti ini, kita butuh banyak berdamai dan kompromi dengan diri sendiri dan saya sedang melakukannya saat ini. Pikiran masih terus beradu dengan keinginan, sehingga belum ada satu keputusan yang begitu meyakinkan. Saya belum bisa ceritakan apa yang saya rencanakan, inginkan, atau bahkan yang sedang saya lakukan sekalipun. Bukan tidak ingin berdiskusi atau dinasehati, tapi izinkan saya mengabarkannya nanti ketika sudah pasti.

Jauh sebelum ini, saya sudah memutuskan untuk tidak posting mengenai skripsi saya di sosial media. Semua hanya saya lakukan pada mereka yang berkepentingan. Siapa yang berkepentingan? Ya nama-nama yang telah saya sebutkan di ucapan terima kasih skripsi saya. Sampai saya selesai sidang dan wisudapun semua masih seperti saya tutup-tutupi. Banyak alasan yang melatar belakangi dan tidak bisa saya ceritakan disini. Ketika orang bikin instastory, posting selebrasi, update setiap moment wisuda, saya memilih untuk mengurungkan. Meskipun pada akhirnya saya upload juga karena memang kebaya dan make up saya kontaknya dari IG, jadi ketika banyak yang bertanya hal itu langsung saya jelaskan semuanya di postingan tersebut.

Saya menangkap sekali kekagetan dari beberapa orang, yang memang seharusnya mereka saya beri tahu tapi saya memilih tidak melakukan itu. Tanpa bermaksud melupakan atau tidak mau berbagi kebahagaiaan, tapi izinkan saya memberi kejutan untuk kalian. Maafkan jika sampai hari ini, saya masih terus menutupi beberapa hal. Semuanya akan saya kabarkan pada waktu dan kesempatan yang tepat. Untuk sekarang doakan yang terbaik saja dulu ya. Saya juga sedang ingin belajar mengontrol diri untuk tidak publikasi masalah pribadi. Semoga Tuhan selalu melancarkan urusan kita semua. Aamiin ya Robbal alamin.

Tenang saja, pada akhirnya pertanyaan rencana selanjutnya apa, kapan nikah, kerja dimana, kegiatan sekarang ngapain aja, dll akan terjawab pada waktunya. Sekarang doakan yang terbaik dulu saja ya.

Share:

Saturday, 25 February 2017

Lelaki baik itu tidak datang dua kali, let's prepare

Tiba-tiba saya seperti mendapat aba-aba balik kanan alias putar haluan. Beberapa rencana sedikit saya rubah demi penyesuaian dengan "masa depan". Kenapa harus dirubah? ya hidup itu dinamis, kita belajar dan bertemu orang setiap waktu, sehingga sangat mungkin juga pola pikir kita bisa berubah setiap waktu. Lalu apa "masa depan" yang saya maksud?

Jauh sebelum ini, saya mungkin seperti kebanyakan orang pada umumnya, bercita-cita jadi eksekutif muda di gedung bertingkat dengan mobil mengkilat dan bergaul dengan para ekspatriat. Sampai akhirnya saya belajar banyak hal dari setiap kejadian yang saya alami di hidup saya. Bahkan mungkin ada tulisan terdahulu yang sedikit bertolak belakang dengan apa yang saya tuliskan hari ini. Ya biarlah itu menjadi bukti bahwa saya berkembang dari hari ke hari. Tapi ini terlalu rumit untuk saya jelaskan disini dan mungkin memang tidak perlu juga. Sebab sekeras apapun saya berusaha menjelaskan, bagaimanapun pengalaman dan latar belakang kita yang berbeda akan membuat kesan yang berbeda.

Tuntas tugas saya sebagai mahasiswa sarjana di UI, saya memutuskan kembali ke Kediri. Dari awal memang saya tidak ingin menetap di Depok atau Jakarta, tapi bukan berarti juga saya akan kembali secepat ini. Dulu saya berpikir untuk bertahan sebentar satu atau dua tahun berkarir di Ibu Kota. Tapi belakangan rencana itu saya urungkan dengan berbagai pertimbangan. Ada hal yang yang perlu saya persiapkan, prioritaskan dan perjuangkan. Itulah "masa depan" saya.

Mungkin akan menjadi sebuah pertanyaan tentang "masa depan" yang saya tuliskan. Sebagai seorang muslimah, salah satu kewajiban saya adalah menunaikan ibadah yang menjadi penyempurna separuh agama saya. Terlebih lagi saya terlalu rapuh untuk menghindari dosa dan maksiat. Di waktu bersamaan, perjalanan saya sejauh ini membawa saya pada seseorang yang bersamanya kini kenyakinan itu semakin tumbuh. Saya mengenalnya sudah sejak lama, jauh sebelum keyakinan itu ada. Tapi sejauh ini kami tidak perlu ada ikatan apa-apa. Cara saya menjaganya kini adalah dengan menjaga diri saya sendiri, dan saya harap sebaliknya. Jika nanti satu nama itu tetap dia, akan saya ceritakan di postingan selanjutnya bagaimana perjalanan yang membawa kami bersama dalam satu ikatan rasa.

Meskipun sekarang keyakinan itu belum berarti apa-apa, tapi entah dengan dia atau siapa, yang jelas segalanya perlu saya persiapkan jauh sebelum waktu itu tiba. Entah cepat atau lambat waktu itu pasti akan segera tiba, lalu apa yang membuat saya bisa menunda mempersiapkan segalanya. Termasuk menyiapkan diri saya untuk "dimilikinya" sepenuhnya.

Dari Aisyah r.a, ia berkata, saya berkata kepada Rasulullah SAW,"Ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling besar haknya kepada seorang perempuan/istri? Beliau menjawab,"Suaminya". Aku berkata,"Dan siapakah manusia yang paling berhak terhadap seorang laki-laki/suami? Beliau menjawab,"Ibunya." (Hadits Riwayat Imam An-Nasa'i, Al-Hakim, dan Imam Al-Bazzar)

 Jadi, sejak dini saya sudah mulai menyiapkan jika pada akhirnya ada orang yang lebih berhak atas diri saya. Keputusan yang saya ambil kini tidak mungkin jauh dari hal itu. Saya orang yang sangat terencana, terlebih lagi untuk urusan "sepanjang masa". Contohnya begini, bisa saja sekarang saya berkarir dulu di ibu kota sebagaimana yang saya rencanakan terdahulu. Tetapi pertanyaannya, apakah ada yang menjamin saya bisa dengan mudah meninggalkan posisi, gaji dan kenyamanan yang sudah punya ketika waktu itu benar-benar tiba?. Sementara, memulai segalanya dari awal lagi mencari pekerjaan sana-sini mungkin juga sedikit melelahkan. Jadi alangkah baiknya dari sekarang saya sudah menyiapkan bagaimana bisa seimbang antara "keinginan" saya sekarang dengan kewajiban saya nanti. Lelaki baik itu tidak datang dua kali, sudah sepantasnya saya bersiap menyambutnya sejak dini. Semoga kamu juga sedang melakukan hal yang sama ya :) 
Share:

Wednesday, 1 February 2017

SKRIPSI, done! (Tips)

Pada postingan sebelumnya mengenai skripsi, saya sempat mengatakan untuk memberikan tips. Jadi pada tulisan ini, khusus akan saya bahas mengenai 2 tips yang saya janjikan itu. Tips ini versi saya, jadi belum tentu bisa berlaku untuk semua ya :)

TIPS MENGERJAKAN SKRIPSI DENGAN CEPAT

  • Semua dimulai dari niat dan tujuan kita di awal, ini yang harus kita rumuskan di awal. Sebab kalau tidak, skripsi itu sangat melenakan. Kalau niatnya sudah bulat, setidaknya akan lebih terjaga. Kalau mau selesai dalam 1 semester ya selalu tanamkan, satu semester satu semester. 
  • Be realistis! ingin berkontribusi dengan meneliti sesuatu yang belum pernah ada itu boleh-boleh saja. Tapi sebaiknya pertimbangkan perjalanan ke depannya, apakah ada akses ke sumber data dan sejauh apa data itu bisa kita peroleh. Saran saya, pilih topik yang sederhana yang sesuai dengan minat dan kapasitas kita saja. Mengangkat masalah mikro tapi dengan data yang mumpuni dan analisa tajam tentu akan menjadi karya yang sangat menarik. 
  • Pilih topik yang kira-kira bisa diteliti dengan metode yang lebih kamu sukai. Metode kuantitatif dan kualitatif itu sangat berbeda, masing-masing tentu punya tantangan sendiri. Kalau kamu suka kebebasan berpikir dan tantangan ya pilih kuali, Kalau suka membuktikan dengan perhitungan angka, ya pilih kuantitatif. Bagi saya pribadi kuantitatif lebih cocok untuk saya, sebab adanya perhitungan angka membuat penelitian saya hasilnya lebih pasti, bukan sebatas asumsi yang masih bisa di debat sana-sini. Secara pengumpulan data juga lebih mudah, karena saya bisa pakai kuesioner online. Pengolahannya dibantu aplikasi SPSS jadi tugas peneliti menjelaskan angka itu dengan fakta dan teori. 
  • Pilih topik yang sudah pernah diteliti, namun lihat dari sudut pandang berbeda. Ini agak tricky sebenarnya, tapi dari pengalaman saya cukup membantu. Skripsi saya tentang media dan reputasi, tentu sudah ada yang membahas yang bisa jadi referensi. Tapi harus ada pembaruan yang membedakan penelitian kita dengan sebelumnya, pembaruan itu misalnya ya dari objeknya, sudut pandangnya atau dari studi kasusnya. 
  • Keep Contact! kontak dengan dosen pembimbing dan dengan skripsi kamu sendiri. Kalau tidak bertemu setidaknya kirim email atau apa yang intinya mengabarkan kalau kita terus berjalan dan berprogres. jangan sampai, kita datang pas sudah mau deadline. Karena bagaimanapu kita juga butuh arahan dan persetujuan dosen. Kemudian, selalu usahakan juga membuka skripsi kalau bisa setiap hari, walaupun cuma nambah satu paragraf, edit halaman, bahkan benerin typo sekalipun. Ini akan menjaga kita agar tidak menunda-nunda, karena sekali menunda bisa tau-tau sudah mau deadline.  
  • Rajin-rajin kontak dengan teman yang lagi skripsi juga, biar bisa saling mengingatkan, menguatkan dan mendoakan. haha. 

TIPS MENGOLAH DATA PAKAI SPSS DENGAN CEPAT
  • Langkah pertama, lihat-lihat aja dulu spss itu ada apa. Browsing-browsing dulu cara input di spss. 
  • Kalau sudah tulis variabel view, selanjutnya tinggal input data. Nah kalau mau cepat, kita tulis datanya dulu di excel rubah jadi angka semua, lalu tinggal paste ke spss. Kalau pakai kuesioner online akan lebih cepat lagi, karena sudah ada rekapnya, tinggal kita rubah jadi angka dengan rumus IF di excel. 
  • Kalau sudah selesai input, segera tampilkan output pengujian yang dibutuhkan. Rajin-rajin browsing cara pengujian dengan spss, karena biasanya suka beda cara. Kalau bisa pahami betul kenapa harus menggunakan cara itu dan rujukannya siapa. 
  • Pada spss itu hanya alat yang hanya mengikuti instruksi kita. SPSS akan selalu menampilkan mau benar atau salah pengujian kita, jadi tugas kita adalah memastikan bahwa pengujian yang kita lakukan sudah benar dan bisa diterima secara metode. Misalnya tidak semua penelitian bisa di regresi secara metode, namun spss tugasnya hanya menghitung kan, jadi kalaupun kita klik regresi juga tetap bisa keluar hasilnya. 
  • Cukup uji dan baca yang kita butuhkan, fokus saja. Bagaimana cara membacanya? rajin-rajin browsing dan baca buku.
Share:

Tuesday, 31 January 2017

Surat cinta untuk Jogja



Terimakasih telah melengkapi kenangan di setiap perjalanan
Terimakasih untuk segala keindahanmu yang tersuguhkan
Terimakasih telah memberi kenyamanan pada langkah yang tak bertuan
Terimakasih atas keramahan yang selalu menyapa di persinggahan
Banyak cerita yang mungkin tak akan terlupakan
Tentang cinta dan kerinduan
Tentang kebahagiaan dan kesedihan
Tentang pertemuan dan perpisahan
Tentang kebersamaan dan kesendirian
Tentang janji dan pengorbanan
Tentang kenangan dan pembelajaran


Selalu ada yang tertinggal di sudut kota ini
Hingga aku tak pernah pergi dengan hati yang utuh kembali
Bersama senja yang berlalu, ku benamkan masa lalu itu pergi
lantas aku kembali seiring sinar matahari yang kian meninggi
Bersama pagi yang memberi harapan baru, ku langkahkan kaki
Suatu ketika, aku berjanji mengajak serta orang2 yang ku cintai
Jogja bukan hanya lagi soal wisata, tapi ada ikatan hati disini
Aku akan kembali, mengenalkan kota ini pada teman hidupku nanti
Tetaplah istimewa, supaya dia merasakan ap yang ku rasakan kini
Hingga dia menemukan jawaban sendiri kenapa aku selalu kembali
Sampai bertemu lagi, entah kapan waktunya


Salam,
dari Depok untuk Jogja
4 Desember 2016

Share: